<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708</id><updated>2012-02-02T18:44:03.392-08:00</updated><category term='Ritel'/><category term='XL Award 2010'/><category term='Studi di Belanda'/><category term='Bank Syariah'/><category term='iB Blogger Comepetition'/><category term='Kompetiblog'/><title type='text'>It's Time To Share</title><subtitle type='html'>Sedikit yang kita punya mungkin saja memberi banyak manfaat bagi dunia dan sesama</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-5290329211563577947</id><published>2011-02-23T15:30:00.000-08:00</published><updated>2011-02-23T15:48:26.601-08:00</updated><title type='text'>Songsong Nol Penempatan TKI (Versi PDF)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-yaHSXvqNW04/TWWb2I2p4KI/AAAAAAAAAGg/C_RSNA71lGA/s1600/Koran%2BJakarta.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 247px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-yaHSXvqNW04/TWWb2I2p4KI/AAAAAAAAAGg/C_RSNA71lGA/s400/Koran%2BJakarta.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577035067960189090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-5290329211563577947?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/5290329211563577947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=5290329211563577947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/5290329211563577947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/5290329211563577947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2011/02/songsong-nol-penempatan-tki-versi-pdf.html' title='Songsong Nol Penempatan TKI (Versi PDF)'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-yaHSXvqNW04/TWWb2I2p4KI/AAAAAAAAAGg/C_RSNA71lGA/s72-c/Koran%2BJakarta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-1819391982505656996</id><published>2011-02-21T04:41:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T04:49:52.468-08:00</updated><title type='text'>Songsong Nol Penempatan TKI</title><content type='html'>Koran Jakarta&lt;br /&gt;Senin, 21 Februari 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksnya persoalan perlindungan hukum dan jaminan keamanan bagi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi yang tidak menemui titik temu akhirnya memaksa pemerintah bertindak tegas dengan melakukan pengetatan pengiriman TKI ke negara tersebut. Kebijakan yang berlangsung selama tiga bulan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi sistem penempatan dan perlindungan TKI di Arab Saudi sekaligus membenahi titik lemahnya. Komisi Rekrutmen Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arab Saudi pada 14 Februari lalu juga telah mengumumkan penghentian sementara penerimaan TKI.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agen-agen perekrutan disarankan untuk tidak menerima visa kerja TKI. Jika ternyata langkah tersebut tak cukup efektif mereduksi masalah, bukan tidak mungkin pemerintah akan mengambil kebijakan yang lebih ekstrem yakni moratorium atau zero placement (penempatan nol). Jika akhirnya kebijakan ini terpaksa diambil, zero placement ke Arab Saudi patut diapresiasi karena sejak lama masyarakat sudah meminta pemerintah memberlakukan moratorium atau penghentian pengiriman dan penempatan TKI ke negara tersebut. Di negara yang menjadi pengimpor pembantu rumah tangga (PRT) terbesar dari Indonesia ini, diperkirakan sekitar 3,3 juta TKI bekerja sebagai PRT atau sekitar 70 persen dari total TKI yang bekerja sebagai PRT di seluruh negara tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, di negara ini pula Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat, sepanjang 2010 hingga 1 November, dari total 3.835 kasus penganiayaan yang menimpa TKI terbanyak terjadi di Arab Saudi, yakni sebanyak 55 persen. Begitu juga dengan pelecehan seksual yang mencapai 68 persen. Tak hanya itu, TKI yang pulang dalam kondisi cacat, pulang dalam kondisi hamil atau membawa anak hasil hubungan gelap atau karena ulah majikan, TKI yang bekerja bertahuntahun tanpa digaji, bahkan pulang tinggal nama, terbanyak juga dari Arab Saudi. Berbagai catatan memilukan ini lebih dari cukup untuk menyambut gembira kebijakan penempatan nol ke negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejumlah persoalan juga akan muncul jika kebijakan benar-benar dilaksanakan. Setelah penghentian pengiriman tenaga kerja, pemulangan TKI yang overstay atau telah habis masa kerjanya dan pulangnya para TKI yang akan segera habis masa kontraknya, bisa dipastikan jumlah pengangguran di dalam negeri akan bertambah signifi kan. Bukan tidak mungkin, tanpa langkah antisipatif yang konkret dan tepat sasaran, pengangguran baru tersebut akan menambah deret panjang daftar orang miskin di negeri ini. Sejumlah persoalan lain dipastikan akan segera menyusul dan semakin kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih Menjadi Pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi warga negara membuat bekerja sebagai TKI menjadi alternatif terbaik bahkan lapangan kerja favorit masyarakat saat ini. Meski sejumlah kasus yang menimpa TKI terus mencuat, animo masyarakat justru meningkat. Ketika kebijakan moratorium ke Arab Saudi diberlakukan, maka sejumlah negara lain akan menjadi tujuan berikutnya. Beberapa negara yang menjadi “surga” bagi para TKI yang bekerja sebagai PRT antara lain adalah Singapura, Hong Kong dan Taiwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup bertolak belakang dengan kehidupan PRT di Arab Saudi yang acap mengalami penyiksaan dan penindasan, para buruh migran di tiga negara tersebut justru bisa bermetamorfosis secara dinamis untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik sekembalinya ke tanah air. Dengan perlindungan hukum yang jelas dari negara tempatnya bekerja, selain memperoleh gaji dan perlakuan yang layak, mereka juga memperoleh kesempatan untuk beraktualisasi dan mengembangkan potensi diri. Sejumlah TKI mempergunakan kesempatan tersebut untuk melanjutkan studi bahkan hingga jenjang perguruan tinggi (salah satunya melalui Universitas Terbuka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang menjadi penulis bahkan merambah dunia perfi lman seperti Bayu Insani, Karin Maulana, Nessa Metakartika dan kawan-kawan. Buruh migran di tiga negara tersebut juga sangat familiar dengan internet. Beberapa bahkan mendapat fasilitas ini langsung dari majikannya. Bandingkan dengan PRT di Arab Saudi yang telepon seluler saja tidak boleh membawa apalagi meminta fasilitas tersebut pada majikannya. Pemerintah setempat bahkan melarang pemerintah Indonesia yang beberapa waktu lalu berencana memfasilitasi TKI di sana dengan telepon seluler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar persoalan di Arab Saudi tidak terulang, pemerintah harus melakukan sejumlah langkah strategis mengingat gelombang pengiriman TKI ke negara lain diperkirakan akan meningkat jika kebijakan penempatan nol tersebut benar-benar diberlakukan. Apalagi, permintaan TKI di luar negeri seperti Malaysia masih sangat tinggi. Indonesia patutnya mencontoh Filipina, yang profesionalitas managemen pengiriman TKI mereka ditingkatkan. Sejak persiapan pemberangkatan, selama bekerja di negara tujuan hingga kembali ke tanah air. Calon TKI harus benar-benar siap untuk bekerja di luar negeri, memahami hak dan kewajibannya serta memahami aspek perlindungan terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini akan meningkatkan posisi tawar TKI itu sendiri. Sudah selayaknya warga negara yang memilih bekerja sebagai TKI mendapat perlindungan dan dukungan optimal dari negara. Mereka sudah mengurangi beban pemerintah bahkan justru membantu melalui remittance yang jumlahnya sangat signifi kan. Pemerintah juga harus bersikap kooperatif dan memiliki peraturan yang lebih konkret tentang TKI mengingat negara-negara seperti Singapura, Hong Kong dan Taiwan memiliki undang-undang yang secara tegas mengatur dan melindungi para tenaga kerja asing yang bekerja di negaranya termasuk mereka yang bekerja di sektor informal sebagai PRT. Jika mereka saja yang hanya menampung tenaga kerja kita sangat bertanggung jawab, negaranya sendiri seharusnya lebih bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-1819391982505656996?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/1819391982505656996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=1819391982505656996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/1819391982505656996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/1819391982505656996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2011/02/songsong-nol-penempatan-tki.html' title='Songsong Nol Penempatan TKI'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-457279477869083108</id><published>2011-01-28T15:21:00.000-08:00</published><updated>2011-02-23T15:26:53.947-08:00</updated><title type='text'>Kreatif Mengemas Nasionalisme</title><content type='html'>Suara Karya Online,&lt;br /&gt;Kamis, 27 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 27 Januari 2011&lt;br /&gt;Bulan-bulan paling kritis terhadap nasionalisme selalu kita lalui setiap tahun. Selain bulan November pada Hari Pahlawan, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda pada bulan Oktober. Setiap bulan Agustus kita juga selalu merayakan Hari Kemerdekaan. Kesemuanya memiliki makna penting menggugah semangat nasionalisme bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ironisnya, setiap memasuki peringatan hari-hari bersejarah ini, nasionalisme kita seringkali dipertanyakan. Dan, kesimpulan yang sering dihasilkan adalah nasionalisme bangsa telah di ambang krisis. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Orang muda sebagai generasi penerus bangsa acapkali menjadi terdakwa utama. Sebagian di antara mereka tidak menerima anggapan bahwa diri mereka 'tidak nasionalis' hanya karena tidak mengikuti upacara bendera atau tidak hafal lagu-lagu nasional. Mereka mempertanyakan dengan kritis apa makna dan kriteria yang digunakan untuk mengukur nasionalisme mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebagian yang lain tak ambil pusing apakah mereka masuk kategori nasionalis atau tidak. Sebagian lagi bingung dengan makna nasionalisme itu sendiri. Ada pula yang mempertanyakan apa pentingnya nasionalisme di tengah kompleksitas persoalan bangsa dan era global saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Memang tak bisa dipungkiri jika semangat kebangsaan atau nasionalisme kita terus bergerak menuju ambang krisis, baik menggunakan parameter konvensional maupun parameter kontekstual. Ada fenomena semakin banyak generasi muda yang tidak mengenal ke-Indonesiaan, sebaliknya, mereka sangat bangga dan menjadikan semua yang berasal dari Barat sebagai panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Satu alasan yang patut kita renungkan bahwa krisis kebangsaan yang terkesan semakin akut ini bisa jadi karena upaya penyampaian dan penanaman nilai-nilai nasionalisme yang dilakukan selama ini kurang kreatif. Di era global seperti sekarang, di mana musuh terbesar adalah globalisasi, bukan zamannya lagi nasionalisme dimaknai secara sempit: identik dengan kegiatan seremonial dan simbolis. Jika hanya terpaku pada metode konvensional semacam ini, nasionalisme hanya akan menjadi sosok absurd, alien dan kehilangan ruh, terutama dalam pandangan generasi muda. Jika terus begini, nasionalisme akan benar-benar hilang dan kita akan menjadi bangsa yang kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurut sosiolog Ibnu Khaldun, ciri-ciri bangsa yang kalah adalah terjadinya imitasi massal terhadap cara hidup bangsa pemenang, seperti dalam model pakaian, kendaraan, gaya arsitektur, jenis makanan, bahasa, hingga pemikiran dan adat kebiasaan. Yang berasal dari Barat cenderung dipuja dan dijadikan kiblat. Sedangkan milik negeri sendiri yang seharusnya dibanggakan dan dilestarikan justru dianggap kuno, second class dan ketinggalan zaman. Ciri-ciri ini sangat relevan dengan negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebagai bagian dari masyarakat dunia, kita tak mungkin lari atau menghindar dari globalisasi. Yang harus kita lakukan adalah terus bertahan dan berupaya keras memenangkan persaingan. Karenanya, nasionalisme perlu dikemas secara kreatif sesuai perkembangan zaman, mengikuti tren dan kebutuhan masyarakat namun tetap mempertahankan esensinya: bangga menjadi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wahana Rekreasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rekreasi kini seolah telah menjadi kebutuhan primer masyarakat setelah pangan, sandang dan papan. Rekreasi juga tak lagi identik dengan masyarakat kelas menengah ke atas dan wilayah perkotaan. Fenomena ini bisa menjadi solusi alternatif untuk mengemas nasionalisme secara kreatif. Berharap, melalui cara yang menyenangkan ini, penanaman nilai dan semangat nasionalisme khususnya pada generasi muda bisa lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sayangnya, wahana rekreasi juga menjadi sarana yang cukup efektif untuk mengusung nilai-nilai globalisasi yang bisa mengikis habis nasionalisme kita. Orientasi just for fun, konsumtivisme, dan budaya kebarat-baratan lain bisa meminggirkan dan menggilas nilai dan budaya kita satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam konteks ini, kita memerlukan sebuah wahana rekreasi yang bisa menjadi corong budaya bangsa sekaligus memiliki daya saing internasional. Kita patut bangga karena telah memilikinya objek wisata Ancol, salah satu wahana rekreasi berciri khas Indonesia (truly Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan semangat menjadi wahana rekreasi terkemuka di Asia Pasifik, Ancol memiliki daya tarik khusus karena tetap mempertahankan ciri khas Indonesia dan warna Asia. Sesuatu yang membuatnya unik dan terbukti mampu bersaing dengan sejumlah wahana hiburan kelas dunia yang mengusung nuansa kebarat-baratan. Dengan berbagai fasilitas dan permainannya yang berorientasi pada pelestarian lingkungan, kecintaan terhadap alam serta pelestarian seni dan budaya bangsa membuat kita patut bangga menjadi Indonesia karena keberadaannya, yang telah diakui dunia sebagai salah satu objek wisata terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan tarif yang relatif terjangkau, objek wisata ini bisa dinikmati oleh semua kalangan, bukan untuk kelas tertentu saja. Di sini kita temukan kebersamaan, satu bentuk nasionalisme masa kini yang kian memudar. Salah satu indikasinya adalah meningkatnya jumlah pengunjung dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 lalu, misalnya, total pengunjung tercatat 14,1juta jiwa atau tak terpaut jauh dari jumlah penduduk Australia. Jumlah ini mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan jumlah pengunjung pada tahun 2005 yang baru mencapai 10,3 juta orang. Selain rasa bangga dan kebersamaan, hal lain yang patut kita banggakan, objek wisata ini telah menjadi rumah bagi para seniman dan pekerja seni untuk terus berkreasi dan melestarikan budaya bangsa. Kita butuh mereka dan wahana seperti ini, karena merekalah salah satu ujung tombak pelestarian budaya bangsa yang kini sudah di ambang kepunahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kita memang sangat membutuhkan objek wisata yang tidak saja membanggakan, tetapi juga mampu memupuk semangat nasionalisme bangsa. Di era globalisasi, membanjirnya budaya asing perlu diantisipasi dengan berbagai macam kreativitas termasuk mengemas objek wisata khas bernuansakan budaya bangsa dengan aneka daya tarik yang membanggakan. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-457279477869083108?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=271422' title='Kreatif Mengemas Nasionalisme'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/457279477869083108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=457279477869083108' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/457279477869083108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/457279477869083108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2011/01/kreatif-mengemas-nasionalisme.html' title='Kreatif Mengemas Nasionalisme'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-3793604709394727298</id><published>2010-12-26T17:20:00.000-08:00</published><updated>2011-02-01T15:46:59.827-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='XL Award 2010'/><title type='text'>Teknologi Seluler dan Momentum Kebangkitan Peran Perempuan</title><content type='html'>Teknologi seluler telah mengubah secara radikal relasi sosial dan memberi perubahan sangat luar biasa dalam kehidupan masyarakat. Sebuah keadilan dan pemerataan dalam berkomunikasi telah tercipta. Simpul-simpul yang dulu menutup akses sejumlah orang terhadap berbagai kesempatan, kini mulai terbuka. Fisik dan geografis menjadi semakin tak berjarak, secara sosialpun masyarakat semakin tak bersekat. Sebuah kemajuan yang sangat patut disyukuri karena dengan begini terbuka kesempatan lebih luas bagi kelompok masyarakat bawah dan terpinggirkan untuk mengejar ketertinggalannya. Salah satu segmen masyarakat yang menemukan momentum kebangkitannya adalah kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kuantitas, jumlah perempuan hampir separuh dari total jumlah penduduk dunia. Untuk Indonesia, menurut hasil sensus BPS tahun 2010 jumlah perempuan adalah sebanyak 118.048.783 sedangkan laki-laki sebesar 119.507.580. Sayangnya, jumlah yang sangat besar ini belum diimbangi oleh kualitas peran dan kontribusi kaum perempuan secara signifikan. Dalam proses pembangunan misalnya, kaum perempuan lebih diposisikan sebagai objek. Dengan paradigma ini, hasilnya sangat jelas. Pembangunan seolah jalan di tempat. Program MDG’s misalnya. Meski telah berjalan dua pertiga dari waktu yang telah ditentukan, tidak banyak perubahan yang mampu dicapai. Kemiskinan dan pengangguran masih tinggi bahkan semakin tinggi, tingkat kesehatan dan pendidikan tetap rendah, perubahan iklim justru semakin menjadi. Akar dari berbagai permasalahan ini sebenarnya sudah sangat jelas, yakni melibatkan kaum perempuan secara optimal sebagai objek sekaligus subjek dalam setiap proses pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya kemudian, mencuatkan potensi dan peran perempuan dalam berbagai sektor kehidupan bukan persoalan mudah. Budaya dan sistem yang ada dan telah berlangsung dalam kurun waktu lama telah membelenggu kaum perempuan secara sistematis sebagai kelompok masyarakat kelas dua atau second class. Bertolak dari pemikiran ini, maka pemenuhan hak-hak dasar kaum perempuan seperti pendidikan dan kesehatan menjadi kurang diperhatikan. Dalam skala kebutuhan dasar lebih tinggi seperti akses terhadap informasi dan kesempatan untuk beraktualisasi, keadaannya lebih memprihatinkan. Masih segelintir kaum perempuan yang bisa memperolehnya. Secercah harapan besar kemudian bersinar ketika teknologi informasi dan komunikasi khususnya seluler berkembang demikian pesat dan memberi pengaruh spektakuler dalam kehidupan masyarakat termasuk kaum perempuan. Sebuah perubahan besar sudah menanti di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perempuan dan Perubahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Charles Malik, seorang filsuf dan diplomat, cara tercepat mengubah masyarakat adalah dengan menggerakkan kaum perempuan sedunia. Ini bukan hanya omong kosong. Muhammad Yunus dengan konsep Grameen Bank dan Grameen Phone-nya mampu membuktikan bahwa jika diberi kesempatan, akses lebih besar dan dukungan lebih konkrit, kaum perempuan tidak hanya bisa dipercaya namun sekaligus mampu melakukan perubahan sangat revolusioner yakni berhasil melawan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patricia Aburdene &amp; John Naisbitt dalam bukunya Megatrend for Women : From Liberation to Leadership (1993), menunjukkan sejumlah data bahwa peran perempuan dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri, dan berbagai jabatan penting lainnya. Selain itu semakin banyak wanita yang menjadi pimpinan perusahaan dan sekaligus menjadi pemilik perusahaan. Sebuah fenomena yang juga mulai banyak dan mudah dijumpai di Indonesia. Trennya justru meningkat dari waktu ke waktu. Tidak hanya karena jumlah perempuan di Indonesia sangat banyak, namun semangat perubahan yang tinggi dan mau bekerja keras untuk berubah seolah telah menjadi salah satu karakter utama kaum perempuan Indonesia yang tak lekang oleh waktu sejak dulu hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masa penjajahan kita telah memiliki sejumlah pahlawan perempuan yang memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa juga kemajuan kaumnya. Ada RA Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien dan masih banyak lagi. Semakin banyak perempuan berjiwa dan berperan pahlawan setelah kemerdekaan. Mereka menyebar ke banyak sektor kehidupan. Ada yang menjadi srikandi kesehatan di daerah kumuh dan terpencil. Ada pula yang mencerdaskan anak bangsa di berbagai daerah pelosok, miskin dan pinggiran. Kita juga memiliki jutaan pahlawan devisa yang tersebar di banyak negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara perempuan-perempuan hebat berjiwa pahlawan itu, banyak yang melakukannya atas inisiatif sendiri. Bahkan bermodal sendiri dengan tujuan dan harapan agar terjadi perubahan lebih baik di negeri ini. Bagi para srikandi kesehatan, mereka tidak ingin ada lagi ibu yang meninggal dunia saat melahirkan atau anak Indonesia yang mengalami gizi buruk. Bagi Srikandi pendidikan, mereka tidak ingin ada lagi anak Indonesia yang bodoh sementara roda globalisasi terus berputar dan akan menggilas mereka yang tidak kompeten dan berdaya saing rendah. Mereka yang menjadi pahlawan devisapun tak gentar untuk berjuang di negeri orang meski sejumlah kasus yang menimpa tenaga kerja kita di luar negeri semakin parah dan bertambah. Semua bermuara pada satu tujuan dan harapan : sebuah perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Indonesia juga terbukti mampu melakukan perubahan revolusioner seperti yang dilakukan oleh kaum perempuan di Bangladesh dengan Grameen Bank dan Grameen Phone-nya. Melalui Bank Gakin atau Bank Keluarga Miskin, sejumlah perempuan miskin dan berpendidikan rendah di sejumlah wilayah Indonesia mampu melakukan hal yang sama. Para ibu yang tergabung dalam Bank Gakin di Kabupaten Jember misalnya. Sebanyak 90 persen pengurusnya adalah perempuan. 46 persen di antaranya adalah lulusan sekolah dasar dan 5 persen tidak melewatkan pendidikan sekolah formal. Meski demikian, omzet bank gakin di Jember pada tahun 2009 lalu mampu mencapai Rp 14 miliar dengan aset Rp 2,1 miliar. Dengan pertumbuhan omzet dalam tiga tahun terakhir mencapai rata-rata 260%. Atas keberhasilannya ini, Bank Gakin Jember memperoleh MDG’s Award dan menjadi role model bagi bank gakin-bank gakin lain di tanah air. Fakta ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa kaum perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama perubahan di negeri ini. Mereka bisa menjadi pemutus mata rantai kemiskinan untuk kemudian menjadi pilar utama kekuatan ekonomi dan kemandirian bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perempuan dan Teknologi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dan teknologi bukan sekedar bermakna bertemunya sebuah produk dengan pasar potensial lalu menghasilkan keuntungan yang fantastis. Ini juga bisa berarti bertemunya dua kekuatan besar untuk melakukan sebuah perubahan revolusioner menuju masyarakat dan bangsa yang lebih maju dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era teknologi informasi adalah momentum kebangkitan peran perempuan. Tidak hanya karena pertumbuhan perempuan pengguna seluler melaju lebih cepat dari kaum laki-laki, dengan teknologi seluler di tangannya, perempuan dapat melakukan perubahan luar biasa. Tidak hanya untuk dirinya, tapi juga keluarganya bahkan juga untuk masyarakat dan negara. Teknologi telah melesatkan peran perempuan ke barisan terdepan sebagai penggerak utama perubahan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebelumnya, dalam banyak hal perempuan seringkali dianggap lamban, terbelakang dan teringgal, nampaknya formula ini tidak berlaku ketika perempuan dihadapkan pada teknologi informasi. Meski secara totalitas masih kalah jumlah dengan kaum laki-laki, namun kecepatan pertumbuhan dan pemanfaatan teknologi secara optimal oleh kaum perempuan, sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penggunaan internet khususnya internet mobile misalnya. Menurut laporan mutakhir ‘The State of Mobile Web‘ yang dilansir oleh Opera Software, sejak dua tahun lalu pengguna internet mobile kaum hawa meningkat 575 persen. Secara komposisi, Opera juga memperkirakan peningkatan rasio pengguna internet mobile wanita, dari hanya 12 persen pada dua tahun lalu, kini menjadi 23 persen. Pengguna internet mobile dari kalangan pria tetap mendominasi, namun, pengguna wanita mengalami peningkatan yang lebih cepat mengejar ketertinggalan mereka dari kaum pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afrika Selatan (43,5 persen), Amerika Serikat (35,6 persen), Rusia (32,4 persen), dan Inggris (31,5persen) menjadi negara-negara yang memiliki komposisi pengguna internet mobile perempuan terbesar. Sementara Indonesia berada di posisi ke-6 dengan persentase pengguna internet mobile perempuan sebanyak 21,3 persen. Angka ini mengalami peningkatan sejak dua tahun lalu, di mana Indonesia hanya memiliki 18 persen perempuan pengakses internet lewat ponsel. Adapun negara-negara yang memiliki komposisi pengguna internet mobile wanita terkecil adalah India (4 persen), Nigeria (5,4 persen), China (11,6 persen), dan Vietnam (17,9 persen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kuantitas di atas juga dibarengi dengan sejumlah peningkatan secara kualitas. Jejaring social seperti Facebook dan Twitter misalnya menjadi sarana untuk berbagi sekaligus menggali informasi. Fenomena blogging kaum perempuan juga meningkat secara signifikan meski jumlahnya masih timpang dibandingkan blogger laki-laki, yakni sekitar 3 : 7. Meski demikian, kaum perempuan umumnya memiliki minat yang kompleks ketika menulis di blognya. Tak hanya sebagai ajang curhat dan berbagi informasi, blog juga acapkali menjadi ajang untuk berbisnis. Ini artinya, mereka tak hanya produktif secara social namun juga produktif secara ekonomi dan finansial. Yang tak kalah penting, aktivitas blogging juga memberi kesempatan bagi perempuan untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya ke seluruh penjuru dunia. Sesuatu yang bisa saja akan menginspirasi dan memberi perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perempuan pengguna internet masih didominasi oleh kalangan menengah ke atas, pengguna telepon seluler atau ponsel lebih merakyat lagi bahkan hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Di berbagai pelosok bahkan daerah pinggiran, kini semakin mudah dan banyak dijumpai perempuan pengguna ponsel. Harga handphone yang semakin terjangkau dan tariff seluler yang semakin murah kian membuka akses informasi dan komunikasi kaum perempuan. Kaum ibu tak perlu risau dan harus menyisihkan banyak uang bulanan untuk membeli pulsa jika mereka bisa memanfaatkan perang tariff yang kini gencar dilakukan para operator seluler di tanah air. Bahkan jika disikapi lebih bijak dan cerdas, banyak manfaat lain yang bisa diperoleh secara ekonomi. Tak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan gaya hidup (lifestyle), kehadiran ponsel juga bisa sekaligus memberi nilai tambah yang signifikan terhadap usaha yang dijalankan oleh kaum perempuan. Roda perekonomianpun semakin terkerek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya dalam aspek ekonomi, teknologi informasi juga memberi sejumlah manfaat besar lain bagi kemajuan kaum perempuan. Salah satunya yang terutama adalah sebagai sarana belajar yang efektif. Banyak perempuan Indonesia baik karena masalah budaya, ekonomi, hambatan geografis, kendala usia atau faktor keluarga dan sebagainya, tidak bisa mengenyam pendidikan formal lebih tinggi. Padahal, pendidikan sangat berpengaruh terhadap wawasan dan pengetahuan seseorang. Bagi seorang ibu, ini merupakan salah satu modal utama untuk bisa mencetak generasi muda cerdas berkualitas, bermoral dan berdaya saing tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi informasi yang semakin terjangkau dan memasyarakat khususnya internet memudahkan kaum perempuan untuk terus belajar sepanjang hidupnya (long life education) tentang banyak hal tanpa berbatas waktu, jarak juga usia. Semakin kaya dengan ilmu pengetahuan dan informasi, perempuan akan semakin berkualitas. Akan semakin besar kontribusi yang bisa ia berikan untuk masyarakat dan negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Domestik Oke, Publik Yes!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Domestik vs publik acapkali menjadi dilema luar biasa bagi banyak perempuan Indonesia. Budaya patriarki dan ketimuran yang masih kuat melekat di masyarakat sering menyudutkan kaum perempuan untuk hanya memilih ruang domestik sebagai kodrat yang tak bisa disandingkan secara harmonis dengan ruang publik. Itu dulu, sebelum teknologi informasi hadir lalu menyamarkan sekat pemisah antara ruang domestik dan publik bagi kaum perempuan. Tembok itu memang belum sepenuhnya runtuh, namun dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat ditambah dengan tariff seluler yang semakin murah, kaum perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk merangkul keduanya lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perempuan yang memilih bekerja secara aktif di luar rumah, urusan domestik (urusan rumah tangga dan anak-anak) tetap bisa dipantau dengan baik kapanpun dan di manapun. Teknologi informasi memungkinkan ibu bekerja tetap bisa menjalin komunikasi dan jalinan kasih dengan baik dengan seluruh anggota keluarga lain terutama anak-anak. Bagi ibu yang memilih menjadi fulltime mom alias ibu rumah tangga, tak ada lagi sekat yang menghalanginya untuk tetap terhubung dengan dunia luar. Iapun tetap bisa produktif baik secara social maupun financial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tren yang kini berkembang di kalangan perempuan adalah bekerja di rumah. Dengan kalimat lain, semakin banyak perempuan yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk bisa merangkul dua dunia, domestik dan publik, secara bersamaan dalam hubungan yang harmonis. Di satu sisi, mereka ingin memberikan perhatian besar pada keluarga baik secara kuantitas maupun kualitas. Namun di sisi lain, mereka juga ingin produktif dan mandiri secara ekonomi. Mereka juga ingin memiliki kesempatan dan kebebasan yang kondusif untuk berekspresi dan beraktualisasi sebagai manusia yang merdeka. Sangat manusiawi dan tidaklah egois jika seorang perempuan menginginkan semuanya. Kehadiran teknologi informasi telah memungkinkan mimpi ini bisa terwujud. Kini semakin banyak ibu bekerja kembali ke rumah dengan tetap mempertahankan produktivitas dan kebanggaannya sebagai perempuan aktif, kreatif dan mandiri. Istilahnya, dengan teknologi, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Katalisator Kemajuan Masyarakat dan Bangsa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dan teknologi adalah dua kekuatan besar yang bisa menjadi katalisator kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Teknologi telah melesatkan peran perempuan ke barisan terdepan sebagai penggerak utama perubahan di negeri ini. Memutus lingkaran setan kemiskinan, menggerakkan sektor riil, menciptakan lapangan kerja sekaligus mencetak generasi muda berkualitas. Meski demikian, kaum perempuan masih membutuhkan sejumlah dukungan dan kesempatan lebih luas dalam berbagai bidang kehidupan termasuk dalam hal penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi khususnya seluler secara lebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi. Pertama, meski teknologi seluler telah semakin merakyat, pada kenyataannya masih banyak kaum perempuan khususnya dari kalangan masyarakat bawah yang belum bisa memanfaatkannya secara bijak dan cerdas. Bahkan sekedar untuk memahami esensi dari perang tariff yang kini gencar dilakukan oleh perusahaan seluler di tanah air. Banyak yang terjebak dan menjadi korban dari perang tariff ini. Banyak pula yang masih menganggap ponsel lebih sebagai pemenuhan kebutuhan gaya hidup bukan sekaligus penunjang kualitas hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks di atas, perusahaan seluler sebagai penyedia layanan seluler yang telah meraup banyak keuntungan di mana di antaranya (bahkan mungkin terbanyak) disumbang oleh kaum perempuan, dapat melakukan peran nyata sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kontribusi terhadap akselerasi kemajuan masyarakat dan bangsa. Salah satunya bisa melalui iklan yang bersifat edukatif kepada kaum perempuan agar lebih bijak dan produktif dalam menggunakan telepon seluler. Jika perlu, diberi gambaran lebih konkrit bagaimana implementasi nyatanya dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, indikasi kebangkitan peran perempuan memang semakin nyata dan terus meningkatkan. Namun, benih-benih kebangkitan tersebut masih bersifat sporadis. Perlu ada mobilisasi dan pelembagaan agar potensi perempuan lebih terakomodir. Salah satunya dengan menghidupkan kembali organisasi, perkumpulan atau komunitas perempuan dalam berbagai bidang. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Dengan bersatunya kaum perempuan dan segenap potensi yang mereka miliki, maka roda perubahan menuju masyarakat, bangsa dan negara yang maju dan sejahtera akan bergerak lebih cepat dan lebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya kita jadikan booming teknologi informasi dan tarif seluler murah saat ini sebagai momentum kebangkitan peran perempuan menuju masyarakat dan bangsa yang berkualitas. Tunggu apa lagi, mari kita dukung dan buktikan……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-3793604709394727298?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/3793604709394727298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=3793604709394727298' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/3793604709394727298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/3793604709394727298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/12/teknologi-seluler-dan-kebangkitan-peran.html' title='Teknologi Seluler dan Momentum Kebangkitan Peran Perempuan'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-4384991517288881656</id><published>2010-12-16T00:37:00.000-08:00</published><updated>2011-02-01T15:50:10.798-08:00</updated><title type='text'>Membangun Entrepreneurship TKI</title><content type='html'>Harian Surya, 14 Desember 2010&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan tenaga kerja Indonesia (TKI) sempat menjadi buzzword dalam beberapa waktu terakhir. Namun, sejauh ini nampaknya belum ada langkah konkret dari pemerintah yang langsung mengena pada akar permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal manajemen pengiriman TKI, sebenarnya pemerintah dapat belajar dari Filipina. Di negara tersebut, manajemen pengiriman tenaga kerja dilakukan profesional. Sejak persiapan pemberangkatan, selama bekerja, dan berada di luar negeri, hingga kembali ke negaranya. Alhasil, tenaga kerja Filipina relatif memeroleh perlakuan dan gaji lebih baik dari TKI kita. Sebagai perbandingan, gaji pembantu rumah tangga (PRT) di Malaysia, gaji PRT Indonesia berkisar antara 125-175 dolar AS, sedangkan PRT Filipina antara 200-450 dolar AS. Proporsi TKI yang bekerja sebagai PRT adalah 85 persen dari total TKI, sedangkan Filipina hanya 6 persennya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memeroleh gaji yang relatif kecil dibandingkan tenaga kerja dari negara lain, banyak masalah yang menimpa TKI kita sebagai akibat dari kurangnya perhatian dan tanggung jawab pemerintah dan pihak terkait. Mulai dari penyiksaan, pelecehan seksual, pemerkosaan, beberapa bahkan baru diketahui telah meninggal dunia setelah sekian tahun tanpa kabar berita. Pengiriman tenaga kerja model begini tak ubahnya seperti perbudakan modern. Sejumlah manusia diekspor, entah bagaimana nasibnya kemudian pemerintah seolah tak mau repot dan ambil pusing. Padahal, data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) tahun 2010, hingga 1 November, kasus penganiayaan yang menimpa TKI cukup tinggi. Yakni 3.835 di 18 negara tujuan pengiriman. Penganiayaan terbanyak terjadi di Arab Saudi, 55 persen. Begitu juga dengan pelecehan seksual, mencapai 68 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Loncatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan negara menyediakan lapangan pekerjaan adalah kenyataan yang memaksa sebagian rakyat Indonesia mencoba mencari peruntungan di negeri orang. Mereka berharap upaya ini bisa menjadi batu loncatan untuk memeroleh kehidupan lebih baik di kemudian hari. Sayang, kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan. Banyak TKI yang pulang dalam kondisi cacat, trauma, hilang ingatan bahkan meninggal dunia. Banyak juga TKI yang bekerja bertahun-tahun tanpa menerima gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang TKI memang tak selalu sedih. Ada sebagian yang sukses, namun mereka umumnya juga tak lepas dari masalah. Salah satunya, sindrom jika nanti kembali ke Tanah Air. Ada kekhawatiran tentang masa depan. Susahnya mencari pekerjaan di kampung halaman sementara semua barang mahal. Tak ada perhatian dari pemerintah yang bisa mereka harapkan. Kekhawatiran ini kadang menjadi alasan bagi sebagian TKI untuk tetap bekerja di luar negeri karena di sana kehidupan mereka lebih terjamin. Sebagian yang lain memutuskan kembali pulang ke kampung halaman dan melanjutkan hidup apa adanya sembari menghabiskan sisa keringat di negeri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi negara, pengiriman TKI sebenarnya juga bisa berfungsi sebagai batu loncatan. Tidak hanya untuk menyerap tenaga kerja di dalam negeri lalu menyumbang devisa melalui remitansi. Lebih dari itu, banyak manfaat lain yang sebenarnya bisa diperoleh jika pengiriman TKI dikelola secara baik dan bertanggung jawab. Salah satunya, menjadi breeding process of entrepreneurs. Proses penyemaian entrepreneur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiraswastawan Tangguh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TKI umumnya telah memiliki modal dasar untuk menjadi entrepreneur, wiraswastawan sejati. Kemauan besar untuk berubah, mau bertindak nyata dan berani mengambil risiko mempertaruhkan nasib di negeri orang. Sebagian dari mereka mampu mengumpulkan modal cukup dan pengalaman berharga bekerja di luar negeri. Masalahnya justru ada pada mentalitas dan mindset mereka untuk menjadi entrepreneur. Sebagian besar TKI bekerja di sektor informal khususnya PRT, tak heran jika mindset mereka adalah ‘apa kata majikan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Filipina, proses menjadi entrepreneur bisa dimulai sejak tahap persiapan sebelum keberangkatan, perlindungan optimal selama di luar negeri hingga pelatihan dan pembentukan jaringan setelah kembali ke negara asal. Perlu ditanamkan pemikiran sejak dini bahwa pergi ke luar negeri tak hanya untuk bekerja, mengumpulkan modal lalu pulang dan menikmati hari tua apa adanya dengan mengandalkan tabungan selama bekerja di negeri orang. Sembari menyelam minum air. Di negara tempatnya bekerja, TKI dimotivasi untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Mempelajari prospek bisnis yang mungkin ditembusi dari dalam negeri hingga membangun jaringan dan relasi yang berpotensi menjadi mitra bisnis di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke Tanah Air, yang sangat dibutuhkan TKI adalah pemberdayaan, pembinaan dan akses terhadap informasi dan modal melanjutkan hidup lebih baik dengan cara yang lebih baik. Mereka butuh kail, bukan ikan apalagi belas kasihan. Mereka juga tak butuh gelar pahlawan devisa. Jika saja 10 persen dari total 6 juta TKI kita saat ini bisa dicetak menjadi entrepreneur, ini tak hanya memutus lingkaran setan masalah TKI, memberantas kemiskinan dan mengurangi pengangguran secara signifikan namun juga sebagai modal tinggal landas dari negara pengekspor tenaga manusia menjadi negara digdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-4384991517288881656?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/4384991517288881656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=4384991517288881656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/4384991517288881656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/4384991517288881656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/12/membangun-entrepreneurship-tki.html' title='Membangun Entrepreneurship TKI'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-1059099827658375005</id><published>2010-10-26T14:12:00.000-07:00</published><updated>2011-02-01T15:56:36.821-08:00</updated><title type='text'>Mengoptimalkan Jaminan “Rasa Aman” dari LPS</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang lima tahun usianya sejak resmi dibentuk pada 22 September 2005 lalu, Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS cukup berhasil menjalankan fungsi sebagai jangkar kepercayaan publik pada sistem perbankan. Terbukti, meski terjadi beberapa kasus perbankan yang cukup marak dalam beberapa waktu terakhir, kepercayaan masyarakat terhadap bank relatif cukup aman dan terkendali. Meski demikian jika ditelusuri lebih seksama, “rasa aman” yang diberikan oleh LPS sebenarnya masih sebatas kulit ari alias belum optimal dari yang semestinya. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua pemikiran penting yang mendasari. Pertama, rasa aman nasabah sebenarnya “hanya” sebatas pada jaminan dana yang disimpan di bank dalam jumlah yang ditentukan yakni maksimal Rp 2 milyar per nasabah ditanggung oleh LPS jika bank yang bersangkutan bermasalah dan harus dilikuidasi. Ini bukan bentuk pengamanan yang langsung mengena pada akar masalah namun lebih bersifat emergency. Karena dalam konteks keamanan yang lebih luas, nasabah tidak mendapatkan jaminan bahwa bank tempatnya menyimpan dana juga akan “aman” dari berbagai masalah dan kejahatan perbankan. Tidak adanya jaminan keamanan bank dalam mengelola uang nasabah sangat membuka peluang terjadinya bank bermasalah. Jika bank yang bermasalah adalah bank besar atau jumlahnya banyak sehingga dana talangan yang harus dikeluarkan melampaui kemampuan finansial LPS, maka “keamanan” nasabah bank-bank lain bahkan stabilitas keuangan juga akan terancam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sebagai mitra penting pemerintah dalam menjaga stabilitas sistem perbankan khususnya dalam jaring pengaman sistem keuangan (JPSK), fungsi LPS belum dioptimalkan sebagaimana mestinya. Secara teoritis menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, tugas LPS tidak hanya melaksanakan penjaminan simpanan namun juga secara aktif menjaga stabilitas perbankan. Untuk melaksanakan tugasnya tersebut, LPS diberi bermacam-macam wewenang, seperti mendapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan keuangan bank, laporan hasil pemeriksaan. LPS juga berwenang melakukan rekonsiliasi/konfirmasi/verifikasi data-data tersebut. Namun dalam tataran praksis, LPS sejauh ini seakan masih difungsikan sebagai kasir atau “juru bayar” seperti yang terjadi pada kasus Bank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari analisa masalah di atas, jelas terlihat bahwa LPS seyogyanya memainkan peran yang lebih strategis agar jaminan rasa aman yang diberikan kepada nasabah lebih optimal. Sejumlah peran yang selama ini belum banyak dipahami oleh masyarakat dan juga belum dioptimalkan sebagaimana mestinya dalam konteks sebagai mitra penting pemerintah dalam menjaga stabilitas sistem perbankan. Inilah yang akan menjadi bahasan utama dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Strategis LPS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah hampir lima tahun berdiri, keberadaan LPS dalam tataran teoritis masih dipahami oleh sebagian besar masyarakat hanya sekedar menjalankan fungsi penjaminan simpanan masyarakat yang menabung di bank. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa LPS memiliki sejumlah peran strategis lain di luar penjaminan simpanan. Peran strategis tersebut antara lain penanganan bank gagal dan melaksanakan proses serta penyelesaian likuidasi bank. Hal lain yang juga jarang diketahui masyarakat adalah bahwa fungsi LPS yang mirip dengan fungsi BPPN, yaitu menyelamatkan bank-bank yang boleh atau memenuhi syarat untuk diselamatkan. Di samping itu, LPS juga dapat berfungsi untuk mengatur keamanan dan kesehatan bank secara umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LPS juga dapat berfungsi sebagai pengawas yang dilakukan dengan cara memantau neraca, praktik pemberian pinjaman dan strategi investasi dengan maksud untuk melihat tanda-tanda financial distress yang mengarah kepada kebangkrutan bank. Tak hanya itu, keberadaan penjamin simpanan juga bisa sebagai upaya mempermudah penyelesaian bank bermasalah, misalnya akibat pencabutan ijin usaha suatu bank. Sehingga dampak merosotnya kepercayaan nasabah yang pada gilirannya dapat menimbulkan bank panic dapat dicegah sesegera mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran strategis LPS yang sangat besar dan beragam ini perlu disosialisasikan secara luas kepada masyarakat. Pengetahuan yang cukup akan meningkatkan sikap selektivitas dan kehati-hatian masyarakat dalam menyimpan dananya di bank sehingga mau tidak mau bank harus bekerja lebih professional dan berhati-hati dalam mengelola dana simpanan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks praksis, sejumlah peran strategis LPS khususnya sebagai mitra pemerintah dalam jaring pengaman sistem keuangan (JPSK) belum banyak dioptimalkan. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, LPS diminta aktif memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan wewenangnya. Berdasarkan UU ini, LPS semestinya memiliki kewenangan lebih dari sekedar “merumuskan kebijakan penanganan bank gagal”.  Karena LPS didirikan untuk kepentingan yang lebih besar yang perlu diselamatkan, yaitu perekonomian nasional. Bukan sekedar menyelamatkan bank yang dinyatakan gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definis bank gagal sendiri adalah bank yang sudah tidak bisa disehatkan lagi oleh pengawas bank. LPS menghadapi resiko bangkrut kalau bank yang gagal ini bank besar dan deposito yang harus diganti/dibayarkan lebih besar dari persediaan dana LPS. Di Amerika Serikat, karena banyaknya talangan yang dibayar oleh lembaga penjamin simpanan di sana yakni Federal Deposit Insurance Corp (FDIC), keuangan menjadi terkuras. Lembaga itu nyaris “bangkrut” karena menipisnya dana-dana talangan untuk membayar klaim dana pihak ketiga yang dijamin pemerintah AS. Jika ini terjadi di negara kita, LPS tidak hanya harus dibailout dalam hal ini oleh pemerintah; dampaknya juga akan sangat signifikan terhadap stabilitas keuangan di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari minimnya hak untuk mendapatkan data yang akurat dan tepat waktu, memiliki hak ikut memeriksa bank namun tanpa kewenangan untuk ikut menentukan strategi penyehatan bank (early intervention), LPS seakan “hanya” difungsikan sebagai “pay box” atau juru bayar jika ada likuidasi bank. Tapi tugas yang dibebankan ke LPS lebih dari sekedar “pay box” : LPS diberi tugas untuk intervensi bank dalam bentuk pengambilalihan bank gagal. Intervensi bank sebelum jadi bank gagal untuk mencegah kerugian/biaya yang lebih besar tidak dapat dilakukan. Dengan kata lain, intervensi yang bisa dilakukan LPS adalah “ex post”, bukan “ex ante”. Karena LPS tidak dapat melakukan intervensi “ex ante”, tugas ini seharusnya dilakukan pengawas bank karena mereka memiliki data yang lebih lengkap. Sayangnya, otoritas pengawas yang mestinya bisa intervensi dini pada bank yang mulai bermasalah dalam hal ini Bank Indonesia, belum memiliki strategi atau protokol penyehatan bank dalam bentuk “prompt corrective action”. Padahal jika persoalan bank bisa dideteksi sejak dini, dana talangan yang harus dikucurkan LPS mestinya bisa diminimalisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perlu Penguatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kompleksnya persoalan dan tantangan masalah perbankan di masa yang akan datang, seyogyanya penguatan peran strategis LPS segera dilakukan. Penguatan setidaknya dilakukan dalam dua hal. Pertama, penguatan kewenangan yang dijamin oleh Undang-undang dan yang kedua adalah penguatan dari aspek sumber daya manusia atau SDM yang handal, professional dan memiliki integritas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penguatan kewenangan yang cukup mendesak adalah hak atau kewenangan LPS untuk ikut menentukan strategi penyehatan bank (early intervention). Karena sistem peringatan dini (early warning system) BI dalam mendeteksi sinyal awal krisis belum optimal, LPS dituntut memiliki peran serupa agar bisa mendeteksi kondisi perbankan yang menjadi peserta. LPS dibutuhkan tak hanya menjadi juru bayar, karena hanya berpatokan pada laporan BI dan KSSK tanpa ikut mendeteksi ‘penyakit’ bank. Untuk itu, idealnya LPS memiliki data setiap bank secara mendalam. Ada pertukaran informasi yang lebih cepat antara BI, LPS dan Kemenkeu. LPS juga bisa memberikan informasi kepada BI tentang kondisi suatu bank. LPS juga perlu mengembangkan pemantauan mengenai risiko akan terjadinya krisis keuangan pada bank peserta. Fungsi deteksi dini dari LPS ini tak lain agar bisa memantau kondisi kesehatan bank sejak dini sehingga jika terjadi sesuatu terhadap bank, bisa diambil tindakan lebih dini pula dengan biaya yang seminimal mungkin (least cost).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Undang-undang LPS banyak yang membahas tentang penanganan bank kalau diselamatkan dan kalau tidak diselamatkan (pasal 21-61) namun sedikit sekali yang membahas mengenai mekanisme kerjasama antar lembaga terkait dalam safety net system misalnya dengan pengawas bank untuk menangani bank gagal (hanya ada 2 pasal, yaitu pasal 6 dan 7). LPS seharusnya tidak hanya memiliki hak untuk mendapat informasi tepat waktu dan akurat mengenai bank yang jadi anggotanya, namun juga memiliki kewenangan untuk “melakukan sesuatu” atas informasi yang diterimanya tanpa harus minta ijin dari/diajak oleh pengawas bank. LPS tak hanya memeriksa ketika bank sudah bermasalah, tapi bisa memeriksa ketika bank sudah masuk posisi 10 kondisi risiko kesehatan terbawah. Jika persoalan bank bisa dideteksi sejak dini, dana talangan yang harus dikucurkan LPS mestinya bisa diminimalisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguatan aspek SDM juga tak kalah penting mengingat semakin kompleksnya persoalan dan tantangan yang berkembang termasuk model baru perampokan atau penjahat perbankan berbaju manajemen bank. Karena meskipun otoritas pengawas dan lembaga terkait telah melakukan upaya pengawasan semaksimal mungkin dari waktu ke waktu, peluang untuk merekayasa sebuah "kecelakaan bank" seperti bank dapat "kalah kliring" atau "gagal bayar" tetap terbuka. Di beberapa negara, model kejahatan seperti ini biasanya melibatkan pemilik dan manajemen bank atau manajemen antarbank, yang tak jarang berkonspirasi dengan oknum tertentu yang ada di bank sentral. Dalam konteks ini, tidak hanya diperlukan SDM yang handal dan professional namun juga memiliki integritas tinggi. SDM seperti inilah yang dibutuhkan oleh LPS untuk mewujudkan visinya menjadi lembaga penjamin yang memainkan peran strategis dalam penjaminan simpanan nasabah bank dan menjaga stabilitas sistem perbankan nasional melalui serangkaian nilai-nilai yang ditetapkan sebagai pegangan LPS yakni integritas, profesionalisme, independensi, transparansi dan akuntabilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LPS memang bukan “dewa” penyelamat dan pemberi rasa aman yang pasti. Namun jika LPS mampu menjalankan peran yang lebih strategis sebagaimana mestinya, niscaya kontribusi LPS akan lebih optimal. Tidak hanya sebagai penjamin simpanan nasabah namun juga turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bentuk penguatan yang penting untuk segera dilakukan yakni pertama, penguatan hak atau wewenang yang dijamin oleh undang-undang khususnya hak atau kewenangan LPS untuk ikut menentukan strategi penyehatan bank (early intervention). Dan yang kedua adalah penguatan dari aspek SDM mengingat semakin kompleksnya persoalan dan tantangan yang berkembang. LPS sangat memerlukan SDM yang tak hanya handal dan professional namun juga memiliki integritas tinggi. Dengan dua penguatan ini, semoga ke depan fungsi LPS tidak lagi sekedar “pay box” namun menjadi “risk minimizer” atau meminimalkan resiko lembaga. Pastinya, keberadaan LPS akan membuat masyarakat merasa lebih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-1059099827658375005?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/1059099827658375005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=1059099827658375005' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/1059099827658375005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/1059099827658375005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/10/mengoptimalkan-jaminan-rasa-aman-dari.html' title='Mengoptimalkan Jaminan “Rasa Aman” dari LPS'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-7360405294624597246</id><published>2010-10-09T04:06:00.000-07:00</published><updated>2011-02-01T15:58:14.405-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ritel'/><title type='text'>Prospek dan Tantangan Bisnis Ritel Makanan Tradisional</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Saatnya Mengantarkan Makanan Tradisional Indonesia Go Internasional!)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan kuliner sangat luar biasa baik ragam maupun cita rasanya. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki makanan khasnya masing-masing. Dari yang tradisional hingga berbagai varian baru hasil eksperimen dan modifikasi. Beberapa daerah bahkan memiliki lebih dari satu makanan khas. Kota Jember misalnya, kota di mana penulis tinggal. Dari bahan baku singkong, selain diolah menjadi tape, muncul varian lain seperti Suwar-suwir (dodol tape), proll tape dan juga brownis tape. Rasanyapun sangat variatif. Suwar-suwir bahkan telah menjadi salah satu icon Kota Jember. Selain dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Seribu Gumuk (bukit), Jember juga dikenal sebagai Kota Suwar-suwir. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan jika kekayaan kuliner tradisional khususnya oleh-oleh di seluruh penjuru Tanah Air diinventarisasi dengan baik. Bisa jadi, kita adalah negara dengan kekayaan makanan dan cemilan tradisional terbanyak di dunia. Dilihat dari perspektif bisnis, kekayaan ini bisa menjadi ‘tambang’ bisnis yang sangat potensial. Ia juga memiliki sejumlah nilai strategis lain dilihat dari aspek pemberdayaan ekonomi rakyat, pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran, pemanfaatan sumber daya alam hingga pelestarian budaya bangsa. Lebih dari itu, industri makanan khas daerah khususnya oleh-oleh, memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional. Jika ini terwujud, akan lebih banyak manfaat yang bisa diperoleh dari bisnis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBRMbVScaI/AAAAAAAAAF4/100o2tUIp6s/s1600/Suwar-suwir+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBRMbVScaI/AAAAAAAAAF4/100o2tUIp6s/s400/Suwar-suwir+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526006016720925090" /&gt;&lt;/a&gt;Dilihat dari besarnya potensi dan nilai strategis yang dimilikinya, bisnis ritel makanan berbasis local knowledge ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak khususnya pemerintah daerah dan pihak terkait. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan budaya yang salah satunya berbentuk makanan khas daerah termasuk oleh-oleh. Kekayaan ini didukung oleh sumber daya alam berupa bahan baku pangan yang sangat melimpah. Sangat disayangkan jika dua anugerah yang tidak semua negara di dunia memilikinya ini tidak dimanfaatkan secara optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, besarnya permintaan pasar. Budaya yang berkembang di masyarakat Indonesia telah menempatkan oleh-oleh sebagai sebuah kebutuhan. Baik mereka yang sedang bepergian ke suatu daerah atau mereka yang berada di luar daerahnya. Kerinduan pada daerah asal ikut menciptakan permintaan. Promosi pariwisata yang gencar hingga ke manca negara juga berpeluang mengakselerasi permintaan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pelaku utama bisnis oleh-oleh umumnya adalah industri kecil menengah (IKM) dan home industry yang biasanya digerakkan oleh tenaga kerja informal. Ini merupakan salah bentuk konkrit sektor riil berbasis masyarakat yang menjadi inti dari pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Jika lebih dioptimalkan, bisnis ini bisa menjadi andalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat termasuk taraf hidup para petani sebagai penyuplai bahan baku termasuk juga sektor lain yang mendukung kelangsungan sektor ini seperti jasa transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang keempat, optimalisasi industri makanan khas daerah bisa menjadi sarana promosi sekaligus pelestarian budaya bangsa. Secara umum, industri berbasis local knowledge memiliki sejumlah keistimewaan. Selain sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal atau setempat, industri berbasis local knowledge juga merupakan representasi dari budaya setempat sehingga bisa menjadi sarana pelestarian budaya mengingat sejumlah budaya di Indonesia termasuk kekayaan kulinernya mulai terancam kepunahan. Bisnis ritel makanan tradisional juga bisa mendongkrak promosi wisata daerah yang bersangkuta tidak hanya ke seluruh penjuru Tanah Air namun bisa juga ke seantero dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBS5rac57I/AAAAAAAAAGA/rfgkU9PM11I/s1600/Suwar-suwir+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBS5rac57I/AAAAAAAAAGA/rfgkU9PM11I/s400/Suwar-suwir+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526007893643290546" /&gt;&lt;/a&gt;Tumbuh dan berkembang di masyarakat secara turun temurun, bisnis ritel makanan tradisional ini terus eksis dari waktu ke waktu dalam jangka waktu lama dan terbukti mampu bertahan dari badai krisis. Menurut artikel Terus Berusaha Mempertahankan Warisan Kuliner Bangsa, Suara Karya Online edisi 18 Juli 2007, pada tahun 2007 lalu telah terdapat tidak kurang dari 140.000 unit usaha yang bergerak di produksi makanan tradisional, di mana 45.000 merupakan industri berskala kecil dan menengah (IKM) dan 95.000 merupakan industri rumah tangga (non-formal). Tenaga kerja yang berhasil diserap secara langsung mencapai 340.000 orang, di mana IKM sebanyak 180.000 orang dan rumah tangga sebanyak 160.000 orang. Usaha makanan tradisional banyak terdapat di Jawa, menyusul Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBT_bgLJKI/AAAAAAAAAGI/EFgkaO8mMCE/s1600/Suwar-suwir+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBT_bgLJKI/AAAAAAAAAGI/EFgkaO8mMCE/s400/Suwar-suwir+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526009091963167906" /&gt;&lt;/a&gt;Sejumlah inovasi juga berkembang dalam bisnis ini. Dalam inovasi produk misalnya. Menurut Bondan Winarno dalam artikel Bisnis Oleh-oleh Kagak Ada Matinye, ada dua kecenderungan inovasi yang berkembang dalam usaha ini. Pertama, persinggungan industri oleh-oleh Indonesia dengan resep-resep luar telah memunculkan jenis-jenis oleh-oleh baru yang diminati. Misalnya, brownies kukus dari Bandung adan bolu kukus dari Medan. Brownies dan bolu sebetulnya bukan makanan khas Indonesia. Tetapi karena dibuat sesuai dengan lidah Indonesia plus dipopulerkan sebagai oleh-oleh, jadilah ia oleh-oleh khas kota pembuatnya. Kedua, persaingan di antara sesama pelaku industri plus dorongan berekspansi telah memunculkan inovasi lewat eskplorasi makanan asli Indonesia lalu memodifikasinya. Bandeng Juwana di Semarang misalnya, tak lagi hanya memproduksi bandeng presto. Mereka juga memproduksi aneka oleh-oleh lain yang berbahan baku bandeng, mulai dari bandeng bakar, bandeng keju dan bandeng teriyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan inovasi pada produk, jalur pemasaran oleh-oleh juga semakin banyak bentuknya. Selain tetap menggunakan cara konvensional, banyak pelaku industri ini yang juga memasarkan produknya melalui cara-cara pemasaran modern. Misalnya melalui sistem keagenan dan sistem waralaba. Semakin banyak pula yang memperkuat jalur pemasaran secara online melalui lapak-lapak di dunia maya. Melalui inovasi pemasaran ini, jangkauan dan pangsa pasar makanan tradisional semakin luas hingga ke mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data dan ulasan di atas, semakin jelas betapa besarnya urgensi dan peluang bisnis makanan tradisional Indonesia. Sayangnya, upaya-upaya konkrit untuk lebih mengakselerasi bisnis ini masih jauh dari harapan. Meski beberapa telah mampu bersaing dan menembus pasar nasional bahkan internasional, secara umum industri makanan tradisional Indonesia masih bersifat sporadik dan memerlukan dorongan dan dukungan yang lebih konkrit khususnya dari pemerintah daerah dan pihak yang terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sejumlah problema yang dihadapi oleh para pelaku industri makanan tradisional yang umumnya adalah industri menengah ke bawah dan home industry. Sejumlah masalah itu antara lain : pertama, keterbatasan pengetahuan untuk mengelola bisnisnya secara lebih professional. Misalnya tentang cara pembuatan makanan/kuliner yang berkualitas, higienis serta mempunyai kemasan yang menarik dan aman. Masih menurut Terus Berusaha Mempertahankan Warisan Kuliner Bangsa, makanan tradisional yang sudah dikemas pada tahun 2007 lalu masih sekitar 70 produk. Sementara ribuan lainnya belum tersentuh oleh kemasan yang baik. Padahal, pengemasan yang baik merupakan salah satu kunci meningkatkan nilai tambah pada produk. Banyak makanan khas Indonesia yang sangat digemari tetapi karena terkendala dalam pengemasannya akhirnya tidak bisa berkembang sebagai oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, banyak industri makanan tradisional yang sebenarnya sangat prospektif masih dijalankan sebagai bisnis rumahan saja. Ini bisa terjadi karena yang bersangkutan belum memiliki pengetahuan mengenai manajemen bisnis yang baik atau karena merasa jika mengembangkan bisnisnya akan berurusan dengan birokrasi dan regulasi yang njelimet. Ketiga, minimnya akses dana para pelaku industri ini baik karena ketidaktahuan maupun karena tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan lembaga keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ketiga masalah di atas, sebenarnya masih banyak persoalan lain yang dihadapi oleh sektor usaha ini. Seperti masalah infrastruktur, persaingan hingga penyelesaian tekanan publik terkait penanganan dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial. Untuk itu diperlukan sejumlah langkah konkrit khususnya oleh pemerintah daerah dan pihak terkait untuk lebih mengembangkan bisnis ritel makanan berbasis local knowledge ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah konkrit penting untuk segera dilakukan. Pertama, pemerintah khususnya pemerintah daerah perlu menginventarisasi makanan tradisional di daerahnya masing-masing. Sejumlah makanan tradisional Indonesia ada yang mulai punah sehingga langkah inventarisasi ini juga bisa sebagai upaya untuk menyelamatkan budaya bangsa khususnya di bidang kuliner. Selanjutnya, diinventarisasi lebih lanjut makanan tradisional apa yang memiliki prospek bagus untuk dikembangkan secara lebih professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBVYg4B1eI/AAAAAAAAAGQ/ksaMlLb1nxE/s1600/Suwar-suwir+4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBVYg4B1eI/AAAAAAAAAGQ/ksaMlLb1nxE/s400/Suwar-suwir+4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526010622413755874" /&gt;&lt;/a&gt;Kedua, memberikan pengarahan, bimbingan dan pembinaan kepada industri makanan tradisional yang sudah ada di masyarakat agar bisa dikembangkan secara lebih professional. Misalnya dalam hal standarisasi mutu, kualitas dan higienitas produk, serta tata cara pengemasan yang menarik dan aman. Perlu perlu diinformasikan kepada pelaku usaha untuk mengelola limbah industri yang dihasilkan secara benar agar tidak menimbulkan masalah pencemaran lingkungan dan atau konflik sosial dengan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sosialisasi dan edukasi kepada pelaku bisnis ritel makanan tradisional mengenai pentingnya mengurus perijinan bahkan kalau perlu mematenkan produk makanan tradisional yang dikembangkan sebelum dipatenkan oleh pihak atau negara lain. Di era di mana kesadaran akan HaKI semakin baik terlebih di tengah persaingan global yang pesat seperti sekarang, mematenkan budaya dan produk turunannya adalah sangat penting. Karena jika sampai dipatenkan oleh pihak atau negara lain, maka meski itu sebenarnya adalah budaya kita sendiri, bisa-bisa kita harus membayar jika ingin memproduksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, guna meningkatkan eksistensi dan meningkatkan daya saing bisnis makanan tradisional, para pelaku bisnis yang umumnya adalah industri menengah ke bawah dan home industry  perlu dibimbing mengenai manajemen usaha yang professional agar tidak hanya usaha ini sebatas bisnis rumahan. Perlu pula disosialisasikan mengenai berbagai inovasi baik produk maupun pemasaran agar bisnis yang dijalankan bisa terus berkembang dan bisa menembus pasar nasional bahkan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, perlunya membuka akses pembiayaan yang lebih luas mengingat masalah permodalan merupakan salah satu hambatan utama sektor ini untuk terus berkembang. Persyaratan pengajuan modal usaha perlu lebih dipermudah jika perlu, pemerintah daerah, bank maupun lembaga keuangan mikro melakukan mekanisme jemput bola pada pelaku usaha yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terakhir atau keenam, pengembangan bisnis ini memerlukan dukungan dan kerjasama dengan semua pihak. Pemerintah khususnya pemerintah daerah tidak bisa meng-cover semua persoalan yang dihadapi sektor usaha ini. Agar bisa berkembang lebih optimal, dukungan dan kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan. Lembaga swadaya atau kelompok sosial masyarakat bisa menjadi tangan kanan pemerintah dalam hal sosialisasi dan edukasi. Dunia pendidikan dapat berkontribusi dalam melakukan berbagai riset guna mendapatkan informasi dan inovasi terbaru. Media massa bisa menjadi corong publikasi yang luas ke seluruh nusantara bahkan mancanegara. Selain itu, dukungan sektor lain seperti pertanian sebagai penyuplai bahan baku, dan jasa transportasi turut member andil yang besar bagi pengembangan bisnis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, masa depan ada di tangan kita. Bisnis ritel makanan tradisional Indonesia memiliki potensi sangat besar. Banyak peluang dan kesempatan yang bisa kita coba dan selalu ada jalan keluar dalam setiap persoalan yang menghadang. Bersama kita pasti bisa. Saatnya mengantarkan bisnis makanan tradisional Indonesia Go Internasional, untuk kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-7360405294624597246?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/7360405294624597246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=7360405294624597246' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7360405294624597246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7360405294624597246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/10/prospek-dan-tantangan-bisnis-ritel.html' title='Prospek dan Tantangan Bisnis Ritel Makanan Tradisional'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/TLBRMbVScaI/AAAAAAAAAF4/100o2tUIp6s/s72-c/Suwar-suwir+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-2013105298249505635</id><published>2010-09-06T23:56:00.000-07:00</published><updated>2011-02-01T16:01:15.300-08:00</updated><title type='text'>Mengantar Ibu Ke Syurga</title><content type='html'>Merenung di suatu waktu, apakah hadiah terindah untuk Ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah terindah atas segala kasih sayang dan pengorbanannya yang tak ternilai;  atas perhatian tulus ikhlasnya yang tak berharap balas; atas doa indah yang selalu beliau panjatkan; atas banyak hal yang tak mungkin disebutkan satu persatu bahkan tak mungkin terbayar andai dunia dan seisinya dipersembahkan pada Ibu sebagai ganti atas apa yang telah beliau lakukan pada anaknya….? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka file skripsiku. Di halaman persembahan tertulis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Untuk mereka yang tercinta : Ibu dan Ayah,&lt;br /&gt;Dua orang terkasih yang paling berhak atas segala penghargaan dan rasa terimakasih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan dan ungkapan rasa terimakasih yang terlalu kecil dan sederhana. Adakah hadiah lain yang lebih istimewa untuk sosok sangat istimewa bernama Ibu? Kulanjutkan kembali renunganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terpikir, jika ada ijin dan rizki dari Allah, ingin memberangkatkan Ibu dan Ayah pergi umroh atau haji. Mengunjungi tempat-tempat yang ingin mereka datangi. Mencukupkan segala kebutuhan mereka di hari tua. Tapi rasanya, itu semua belum cukup. Dan pasti takkan pernah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali merenung, apakah hadiah terindah itu? Hadiah yang tak hanya akan membuat Ibu bahagia selamanya. Tapi juga akan terus memotivasiku untuk melakukan yang terbaik, sepanjang hayatku pula. Hadiah yang harus kuperjuangkan terus menerus dan tak pernah merasa cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I get the answer&lt;/span&gt;! Aku berteriak senang dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu….. Untuk cintamu yang teramat besar, untuk kasih sayangmu yang teramat indah, untuk pengorbananmu yang tak terkira, hanya syurgalah hadiah terindah yang pantas untukmu Bu. Dan aku akan berjuang, sekuat tenaga di sepanjang umurku untuk menjadi tiket VIP untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;No body’s perfect&lt;/span&gt;. Tapi di mataku, di mata semua anak tentunya, Ibu adalah sosok yang paling sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, Ibu adalah orang biasa yang memiliki cinta dan semangat luar biasa. Tak lulus sekolah dasar, tapi Ibu adalah orang yang sangat cerdas dan bijak dalam menyikapi kompleksitas persoalan hidup. Kesabaran dan ketabahannya sungguh luar biasa. Dan itu menjadi salah satu inspirasi terbaik dalam hidupku. Sesuatu yang selalu membuatku merasa bangga padanya : Ini Ibuku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal indah tentangnya yang terekam abadi dalam benak. Tak pernah usang dan tak pernah bosan untuk mengingatnya. Saat masa kecil dulu, hampir tak ada hari terlewati tanpa bersama Ibu. Sejak pagi bangun tidur hingga malam tidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu teman yang menyenangkan dan pendengar yang setia. Mendengarkan ceritaku sepulang sekolah dengan penuh perhatian. Cerita yang mungkin menjemukan karena teramat sering diulang. Tapi Ibu tetap menyimak seolah pertama kali mendengar. Ibu hampir tak pernah mengeluh, bahkan sekedar mendesah jemu. Selalu ada waktu untuk mendengarkan ceritaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang juga teramat indah bahkan tak tergantikan oleh siapapun hingga sekarang, Ibu adalah orang yang selalu percaya pada mimpi-mimpiku. Bahkan mimpi paling konyol dan utopis sekalipun. Dukungannya selalu membuatku percaya, memiliki semangat dan kekuatan untuk meraih mimpi, betapapun sulitnya itu. Begitu besarnya the power of mom, sering aku merasa tak peduli andai seluruh dunia menertawakan mimpiku asal Ibu selalu ada dengan segenap dukungan dan cintanya. Ibu adalah sumber kekuatan untuk menatap masa depan dengan penuh optimisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu juga sumber inspirasi. Masih kuingat saat mengajukan aplikasi beasiswa ke National University of Singapore awal kuliah dulu. Begitu disodori lembaran esai tentang siapa yang paling inspiratif dalam hidupku, aku langsung berkata “Ibu”. Tak memerlukan banyak waktu untuk menulis satu halaman penuh tentang mengapa Ibu begitu inspiratif bagiku. Tak perlu diragukan lagi, Ibu adalah orang pertama dan utama yang mendukung studiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tugasmu hanya belajar Nak, yang lain urusan Ibu” demikian Ibu selalu menyemangati saat aku mengkhawatirkan soal biaya. Dan ketika musim ujian tiba, aku diperlakukan bak seorang putri. Ibu membebaskanku dari berbagai tugas rumah hanya agar aku bisa konsentrasi belajar. Ibu juga bersedia “ronda” hanya untuk membangunkan tengah malam untuk sholat malam dan belajar. Dan satu lagi, Ibu selalu menyebutkan namaku dalam setiap doa indahnya agar sukses selalu menyertaiku. Sepanjang hidupku, dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;No body’s perfect&lt;/span&gt;. Ibupun sering berbohong dan membohongiku. Tapi kebohongan Ibu adalah salah satu kebohongan terindah di dunia. Berbohong adalah salah satu cara dan seni seorang Ibu untuk mencintai anak-anaknya. Kebohongan yang tidak akan membuat kami, anak-anak yang dibohongi, merasa tersakiti. Justru, semakin kami sadari betapa besar cinta Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kuingat satu kenangan itu, di suatu waktu ketika aku masih anak-anak.&lt;br /&gt;Hari itu Ibu sepertinya sudah kehabisan uang belanja. Yang tersisa hanya sedikit beras dan sisa nasi kemarin. Ibu memasak beras yang tidak seberapa itu lalu menaruhnya di piring untuk kami anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa hanya tiga piring Bu?” tanyaku pura-pura tidak tau. Bukankah dengan dua adik, harusnya nasi di bagi dalam empat piring. Satu piring lagi untuk Ibu.&lt;br /&gt;“Ibu sudah makan” jawab Ibu dengan tenang. Aku tau pasti Ibu belum makan pagi, bahkan sejak kemarin sore. Nasi kemarin tersisa bukan karena tidak ada yang mau makan lagi, tapi Ibu sengaja tidak makan agar kami, anak-anaknya menghabiskannya dan kenyang. Ibu mungkin lupa atau mengira nasi itu sudah habis, jadi masih tersisa hingga pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan Ibu makan?” tanyaku pura-pura menyelidik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi pagi…” Ah Ibu, aku tau Ibu berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kinipun Ibu masih sering berbohong. Ibu hampir selalu berkata “baik-baik saja” bagaimanapun keadaan dan perasaannya hanya agar kami, anak-anaknya yang sebagian sudah tidak tinggal lagi bersama beliau, tidak merasa khawatir. Ibu juga sering berbohong agar setiap kami, anak-anaknya, merasa yang paling istimewa. Sikap, perhatian dan kata-kata Ibu padaku seringkali membuatku merasa akulah anak kesayangan Ibu. Akulah kebanggaan Ibu. Padahal tentu saja tidak. Semua anak bagi Ibu adalah istimewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Ibu, atas cintamu yang tak terkira, adakah hadiah yang lebih indah selain syurga?&lt;br /&gt;Aku ingin mempersembahkan itu untukmu Bu, dengan selalu berusaha menjadi anak yang baik, ibu sekaligus istri yang baik, saudara yang baik, warga negara yang baik, sepanjang hidupku. Agar dari setiap kebaikanku kau memperoleh “royalty” kebaikan yang akan membuat tabungan pahalamu berlipat ganda. Bukankah Allah telah menegaskan tentang tiga kebaikan yang akan membuat pahala dan kebaikan seseorang tidak akan pernah terputus meski yang bersangkutan telah tiada : ilmu yang bermanfaat, amal jariah, dan anak yang shalih. Semoga kebaikanku, kebaikan saudara-saudaraku dan amal baikmu Bu, kelak bisa menjadi tiket VIP Ibu menuju syurga.…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mamaaaa, aku minta Gery Chocolatos” teriak Sasha, putri kecilku yang sedari tadi asyik nonton TV. Intonasi suaranya agak lain tapi cukup lantang sehingga membuyarkan lamunanku tentang Ibu. Aku mengernyitkan kening, masak satu kotak langsung dihabiskannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bercanda koq Ma, aku cuma niru iklan di tivi….” katanya sembari melingkarkan lengan mungilnya ke pundakku yang masih belum beranjak dari depan komputer. Rupanya dia membaca ekspresi keheranan di wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmmm…..” balasku sambil cemberut, pura-pura marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama habis nangis ya?” tanyanya dengan polos begitu melihat mataku yang agak merah dan sembab. Mengenang Ibu sering membuatku menangis tanpa sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum sambil mengusap airmata yang masih tersisa. Sebuah kecupan hangat Sasha segera mendarat di pipiku. Terima kasih Sayang, bisikku dalam hati. Mama juga akan mengantarkanmu ke syurga Nak. InsyaAllah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-2013105298249505635?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/2013105298249505635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=2013105298249505635' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/2013105298249505635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/2013105298249505635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/09/mengantar-ibu-ke-syurga_06.html' title='Mengantar Ibu Ke Syurga'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-1563506991646284864</id><published>2010-09-06T17:59:00.000-07:00</published><updated>2011-02-01T16:05:44.874-08:00</updated><title type='text'>Mewaspadai Early Childhood Education</title><content type='html'>Seolah menjadi tren, kini semakin banyak orang tua cenderung menyekolahkan putra-putrinya lebih awal (early childhood education). Tak heran jika menjelang tahun ajaran baru seperti sekarang, Playgroup (PG) dan Taman Kanak-kanak (TK) ramai diserbu orang tua. Masing-masing ingin memberi pendidikan terbaik untuk anak-anaknya meski harus merogoh kocek dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, fenomena early childhood education ini cukup menggembirakan mengingat partisipasi pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia tergolong paling rendah se-Asia Tenggara. Masih menjangkau sekitar 25 persen balita. Partisipasi sebesar 25 persen itupun tidak merata baik secara geografis maupun sosial ekonomi. Tren ini pastinya akan berpengaruh terhadap partisipasi PAUD dan ini bisa menjadi indikasi semakin baiknya kesadaran dan pemahaman orang tua akan pentingnya PAUD sebagai bagian integral dari pendidikan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikemukakan oleh banyak pakar psikologi, masa usia dini (0-4 tahun) merupakan periode keemasan (golden age) dalam proses perkembangan anak. Dr.Benyamin S.Bloom misalnya, penulis Stability and Change in Human Characteristics ini mengemukakan bahwa sekitar 50 persen potensi inteligensi anak sudah terbentuk pada usia 4 tahun dan mencapai 80 persen saat berusia 8 tahun dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama merupakan masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, jika pada usia tersebut anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal (Sutaryati, 2006:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lebih luas dan jauh ke dapan, PAUD merupakan bentuk investasi strategis untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya. PAUD merupakan pondasi masa depan bangsa untuk mencetak SDM unggul dan berkualitas yang akan mewujudkan kemandirian bangsa di kemudian hari. Itulah mengapa banyak negara memberi perhatian besar pada PAUD. Di Singapura misalnya, penguasaan bahasa Cina dan Inggris sudah dapat diselesaikan di tingkat TK. Sedangkan di Amerika Serikat, pendidikan entrepreneurship bahkan sudah dikenalkan pada anak usia TK sejak lebih dari dua dekade lalu. Six is too late.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menggembirakan, tren early childhood education ini juga menyisakan sejumlah kekhawatiran. Menurut John Cadlwell Holt dalam bukunya How Children Fail (1964), manusia pada dasarnya adalah makhluk belajar dan senang belajar sehingga kita tidak perlu ditunjukkan bagaimana cara belajar; yang membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha menyelak, mengatur, atau mengontrolnya. Berdasar pada filosofi ini, kurikulum PAUD yang terlalu berat, banyak mengatur dan mengontrol bisa membunuh kreativitas anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Holt tersebut diperkuat oleh Ray dan Dorothy Moor yang melakukan penelitian mengenai kecenderungan orang tua menyekolahkan anak lebih awal. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa memasukkan anak-anak pada sekolah formal sebelum usia 8-12 tahun bukan hanya tak efektif, tetapi juga bisa berakibat buruk bagi anak-anak, khususnya anak-anak laki-laki karena keterlambatan kedewasaan mereka (Sumardiono, 2007: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut dan trauma ke sekolah akan membuat anak merasa tidak nyaman dan aman untuk belajar. Berbagai upaya akan dilakukannya sebagai bentuk protes dan penolakan pergi ke sekolah. Mulai yang ogah-ogahan beranjak dari tempat tidur, tidak mau meninggalkan acara televisi kesayangannya, malas sarapan hingga berbagai keluhan sakit yang tiba-tiba muncul. Jika ini terus terjadi dan semakin menjadi sedang berbagai upaya pendekatan telah dilakukan, sebagai orang tua sebaiknya kita mempertimbangkan kembali kesiapan dan dampaknya jika anak tetap dipaksakan sekolah. Karena usia dini tidak hanya merupakan masa keemasan namun juga periode yang sangat kritis yang menentukan tahap kehidupan anak selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menunggu anak lebih siap, homeschooling bisa menjadi pilihan untuk lebih mengakselerasi potensi emas anak di masa golden age.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homeschooling sebagai Alternatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpuasan terhadap lembaga pendidikan formal yang didorong pula oleh motivasi menyelenggarakan pendidikan yang menyenangkan bagi anak, membuat sejumlah orang tua menempuh model pendidikan baru bagi putra-putrinya, yakni homeschooling atau sekolah rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homeschooling yang juga populer dengan sebutan home education, home based learning atau sekolah mandiri, merupakan sebuah model pendidikan di mana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikan. Di sejumlah negara maju, homeschooling semakin populer sebagai model pendidikan yang sangat efektif untuk mencetak generasi-generasi masa depan yang handal dan berdaya saing tinggi. Di Indonesia sendiri, homeschooling semakin menjadi pilihan ketika sekolah formal dianggap telah gagal dan tak cukup mengakomodir potensi anak untuk tumbuh berkembang secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka pendidikan anak usia dini (PAUD), homeschooling memiliki sejumlah nilai strategis. Pertama, homeschooling memungkinkan anak mengembangkan potensi, bakat dan minatnya dengan optimal. Dalam suasana belajar yang menyenangkan dengan orang tua khususnya ibu sebagai guru, anak akan merasa lebih aman dan nyaman untuk belajar apa saja di masa keemasan (golden age). Ini sangat kontraduktif dengan sekolah jika anak belum siap memasuki dunia baru yang asing baginya. Sekolah juga kurang memungkinkan untuk “membaca”, mengarahkan dan mengembangkan potensi anak di masa keemasan secara individual. Apalagi, jika kurikulum yang ada terlampau berat dan justru mengekang kreativitas, bakat dan potensi anak bisa layu sebelum berkembang. Sangat disayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, homeschooling di usia dini (Playgroup dan Taman Kanak-kanak/TK) bisa berfungsi sebagai masa transisi bagi anak sebelum memasuki dunia baru di jenjang pendidikan sekolah dasar. Dengan proses transisi ini diharapkan anak akan lebih siap untuk memasuki sebuah dunia baru yang asing baginya. Namun jika orang tua ingin terus menerapkan homeschooling bahkan hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), ini bukan masalah. Sekolah rumah telah menjadi bagian integral dari usaha pencapaian fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan Undang-undang Sisdiknas No.20/2003, Departemen Pendidikan Nasional mengategorikan homeschooling sebagai jalur pendidikan informal yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (pasal 1 UU Sisdiknas No.20/2003). Meski pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan pendidikan informal namun hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal (sekolah umum) dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan (pasal 27 ayat 2). Output homeschooling juga tak perlu diragukan. Sejumlah tokoh besar adalah produk dari model pendidikan ini, misalnya saja Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka. Kak Seto dan Emmy Soekresno (pakar pendidikan anak) adalah contoh orang tua masa kini yang menerapkan homeschooling bagi putra-putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, homeschooling bisa menjadi solusi di tengah fantastisnya biaya pendidikan yang berkualitas saat ini. Sebagai contoh, sejumlah lembaga PAUD “bermerk” di kota Jember mematok biaya yang melebihi biaya pendidikan di perguruan tinggi. Homeschooling memungkinkan orang tua menyelenggarakan pendidikan rumah yang berkualitas sesuai dengan kemampuan finansialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang keempat, homeschooling bisa menjadi cara strategis dan konkrit untuk mengembalikan peran keluarga sebagai sekolah yang pertama dan utama bagi anak. Memudarnya peran strategis ini bisa jadi merupakan salah satu sebab semakin krisisnya moral bangsa akhir-akhir ini. Saatnya keluarga Indonesia memosisikan diri sebagai benteng moral bagi anak sejak dini agar generasi muda kita terlindung dari hamparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi, mencontek dan sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pendidikan homeschooling ini memang lebih kompleks dari pendidikan di sekolah formal karena orang tua harus bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan anak. Namun dalam rangka mencetak generasi masa depan yang cerdas dan bermoral, justru di sinilah tantangannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-1563506991646284864?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/1563506991646284864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=1563506991646284864' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/1563506991646284864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/1563506991646284864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/09/mewaspadai-early-childhood-education.html' title='Mewaspadai Early Childhood Education'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-7772605928625480512</id><published>2010-05-10T19:52:00.000-07:00</published><updated>2011-02-01T16:15:05.314-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bank Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='iB Blogger Comepetition'/><title type='text'>Bank Syariah Telah Membuat Saya Malu!</title><content type='html'>Saya adalah salah satu orang yang sangat mendamba dan bangga akan bank syariah. Sejak lama pula saya sudah ’jatuh hati’. Begitu tertariknya, sampai saya sempat berpikir akan meninggalkan program studi Hubungan Internasional yang telah saya tempuh hampir dua tahun di bangku kuliah, kira-kira sepuluh tahun lalu, dan mengambil jurusan yang berkaitan dengan bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap perkembangan terbaru tentang bank syariah saya ikuti dengan antusias. Meski hanya lewat surat kabar atau internet karena Bank Syariah baru ada di Kota Jember pada tahun 2003. Saya selalu berpikir ketika itu (saat ini dan juga nanti, InsyaAllah), inilah solusi konkrit untuk membangkitkan ekonomi umat! Besarnya harapan dan keyakinan akan hal itu, memotivasi saya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Hanya sekedar menuliskan apa yang terlintas dalam pikiran, apa yang menjadi harapan. Bukan karena saya sangat paham tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa di antara tulisan tersebut coba saya ikutsertakan dalam kompetisi menulis, baik lokal maupun nasional. Tahun 2004 misalnya. Dengan penuh percaya diri saya mengangkat tema Bank Syariah sebagai Role Model Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Padahal tema yang ditetapkan penyelenggara sebenarnya adalah tentang bank konvensional. Tulisan itu mengantarkan saya sebagai finalis dan harus presentasi di Bank Indonesia Jakarta. Tiga orang dewan juri mencecar saya habis-habisan sampai saya kehabisan kata-kata. Saya hanya berkutat dengan teori sedang mereka minta bukti konkrit mengapa bank syariah layak menjadi role model dalam API. Pada akhirnya saya memang hanya menjadi finalis namun saya sangat bangga karena berani ”bermimpi” bahwa bank syariah sangat potensial untuk menjadi role model API. Dewan juri mengakui bahwa tema itu bagus dan aktual. Namun perlu pembuktian yang konkrit di lapangan bahwa bank syariah memang pantas menjadi role model bagi perbankan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di tahun 2004, saya memberanikan diri ikut dalam lomba karya tulis tentang perbankan syariah dalam rangka Milad BNI. Saat itu saya mengangkat topik tentang keunggulan Good Corporate Governance (GCG) bank syariah dibandingkan dengan GCG pada bank konvensional. Tulisan inipun tidak menang tapi alhamdulillah dibukukan oleh panitia pada tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005, dengan antusias saya mengikuti lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Jember yang memang mengangkat tema tentang prospek dan tantangan bank syariah di wilayah Tapal Kuda. Lagi-lagi saya mengangkat tema tentang bank syariah ketika Majalah Bank dan Manajemen menyelenggarakan lomba penulisan artikel tentang strategi memenangkan persaingan perbankan pada akhir 2008 lalu. Kala itu saya menulis tentang ”Ketika Syariah Saja Tak Cukup”. Alhamdulillah tulisan ini memperoleh penghargaan sebagai pemenang harapan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini saya masih merasa bangga dan penuh harap pada Bank Syariah, tapi juga merasa malu sekaligus geram! Perasaan ini muncul karena sebuah peristiwa kecil yang tidak hanya membuat saya menahan malu tapi juga membangkitkan kenangan buruk tentang bank syariah di masa lalu. Ceritanya begini : belum lama ini ada seorang tetangga sedang kebingungan mencari pinjaman uang dalam jumlah lumayan banyak. Ia sudah mencari informasi ke berbagai lembaga keuangan namun terbentur pada satu masalah yang sama : bunga yang besar. Paling rendah yang ditawarkan adalah 24 persen setahun. Kesempatan itu saya jadikan ajang promosi lembaga keuangan syariah, tepatnya Pegadaian Syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di pegadaian syariah, sewa modalnya hanya 1 persen per bulan Mbak. Jaminannya BPKB sepeda motor. Dicoba saja” saran saya dengan penuh semangat. Sebenarnya saya tidak tau pasti detil lengkapnya karena hanya kebetulan melihat spanduk besar di jalan raya tentang hal itu. Secercah harapan membuat wajah teman saya berbinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, dia benar-benar ke Pegadaian Syariah yang saya rekomendasikan. Hasilnya? Wajahnya lebih suram dibandingkan saat dia kebingungan tempo hari. Terlihat jelas dia kecewa dan sepertinya juga trauma. Rupanya orang pegadaian menyambutnya tidak ramah bahkan ketus. Dengan menahan malu dan juga geram (labelnya Syariah tapi sikapnya lebih gak syar’i dari yang konvensional), saya coba merekomendasikan lembaga keuangan syariah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalo BPR atau Koperasi Syariah sudah coba Mbak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah Bu. Dua malah. Tapi ”bunga”nya hampir dua kali lipat dari yang konvensional” wajah saya semakin memerah menahan malu. Mengapa saya tidak merekomendasikan bank syariah saja sekalian. Ini malah pernah membuat saya lebih malu. But, it was!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya waktu jaman kuliah dulu, saya merekomendasikan pada seorang teman yang sedang mencari pinjaman modal bagi usaha ayahnya untuk bertanya ke salah satu bank syariah. Mungkin saja bisa mengajukan kredit ke sana. Maka datanglah ia dengan penuh semangat seperti tetangga saya tadi. Si Mbak Customer Service langsung menyambutnya di depan pintu dengan sangat ramah. Tapi ekspresi wajah si CS mulai berubah setelah teman saya mengatakan ingin mencari informasi pembiayaan untuk modal ayahnya. Mungkin karena mahasiswa, teman saya menanyakan dengan detil semua hal terkait dengan fasilitas pembiayaan di bank syariah yang bersangkutan. Wajah si CS semakin tidak familiar dan menunjukkan ekspresi seolah ingin teman saya segera angkat kaki. Teman saya akhirnya pulang dengan satu janji : gue gak akan lagi ke bank syariah dan diperlakukan seperti orang mau ngemis begini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itupun saya merasa malu pada teman saya. Tapi saya tetap menaruh ekspektasi besar pada bank syariah. Satu harap terucap semoga kelak bank syariah benar-benar bisa menjadi penolong umat untuk melepaskan diri dari jerat riba untuk kemudian bangkit menjadi umat yang mandiri. Mungkin karena masih baru jadi mikirnya menghimpun dana dulu, masalah penyaluran, pembiayaan dan sebagainya, menyusul kemudian. Hibur saya ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam tahun kemudian tepatnya tahun 2006, bank syariah ternyata belum juga mau berubah. Saat Bank Syariah yang dipioniri Bank Mualamat hadir di kota saya, saya langsung menjadi nasabahnya. Pun ketika Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah membuka kantor cabang, di dua bank tersebut saya juga membuka rekening. Kekecewaan yang langsung saya alami pada tahun 2006 lalu terjadi ketika saya menanyakan informasi tentang layanan bank syariah. Tujuan utama saya saat itu adalah menanyakan informasi tentang tabungan pendidikan untuk si kecil. Seperti biasa Mbak Customer Service menerangkan dengan ramah. Tapi begitu saya menanyakan tentang fasilitas pembiayaan (mungkin saja sewaktu-waktu saya membutuhkan), raut wajah si Mbak CS berubah. Persis seperti yang diceritakan oleh teman saya. Ekspresi dan sikapnya sungguh membuat saya ingin segera beranjak pergi. Herannya saya masih tidak kapok dan tetap menaruh ekspektasi yang besar pada bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, mungkin hampir tak ada lagi yang kita ragukan tentang bank syariah. Baik tentang berbagai keunggulan dan keutamaannya yang tidak dimiliki oleh bank konvensional ataupun tentang kemudahan dan daya tarik lainnya. Banyak teman-teman Kompasianer terutama yang berpartisipasi dalam iB Blogger Competition menulis soal ini. Tapi banyak pula yang mengungkap sisi lain dari bank syariah : Bank Syariah masih jauh dari harapan; atau Bank Syariah belum membumi. Bahkan ada pula yang mengatakan Bank Syariah munafik dan sok suci. Hmmm…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, saya sendiri sering menjumpai sejumlah fakta yang cukup bertolak belakang dengan teori yang pernah saya pelajari dan harapan yang saya bangun sendiri tentang bank syariah. Beberapa di antaranya seperti yang ceritakan di atas. Namun ada satu hal yang sangat mengganggu saya akhir-akhir ini, yakni : sense of belonging umat terhadap bank syariah ternyata masih dipertanyakan. Lebih tepatnya, masih kurang dan sangat jauh dari harapan dan semestinya. Tidak sebanding dengan nama besar bank syariah dalam ranah teori. Koq bisa, Bank Syariah kan bank-nya umat Islam? Apalagi MUI sudah sejak beberapa tahun lalu dan PP Muhammadiyah baru-baru ini telah memfatwakan bunga bank haram. Atau masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini masih asing dengan Bank Syariah karena sosialisasi dan jaringan bank syariah yang masih terbatas? Tidak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita sudah banyak koq yang tau tentang bank syariah. Jaringan bank syariah bahkan mulai marak di tingkat kecamatan. Apalagi bisa office chanelling atau melalui Kantor Pos untuk Bank Muamalat. So, pepatah tak kenal maka tak sayang sepertinya sudah usang. Yang lebih tepat, menurut saya, adalah maksud hati memeluk (bank syariah), apa daya tangan tak sampai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dari beberapa cerita di atas terlihat jelas antusiasme masyarakat untuk mencoba “meraih” bank syariah. Menjadikannya tumpuan harapan agar tak terjerembab dalam kubangan riba. Tapi apa daya, bank syariah seperti bidadari yang masih enggan turun ke bumi. Mungkin inilah sebab mengapa umat belum memiliki sense of belonging yang besar terhadap bank syariah. Padahal umat Islam adalah mayoritas di negeri ini. Masalahnya sederhana, kurang lebih begini : ”di mana kau (bank syariah) saat aku membutuhkanmu”, kata umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya geram, bank syariah sepertinya lamban dalam menyikapi berbagai persoalan dan peluang untuk merebut hati umat. Terkesan, bank syariah lebih memprioritaskan inovasi dalam penghimpunan dana pihak ketiga (meski saya rasa masih saja kalah dengan bank konvensional) dibandingkan dengan penyaluran dana terlebih untuk masyarakat menengah ke bawah. Batas minimal jumlah pinjaman relatif tinggi, masa angsuran lebih pendek, prosedur lebih rumit, kadang pelayanan agak sinis, dan yang membuat masyarakat terpaksa lebih memilih bank bank/lembaga keuangan konvensional : bagi hasilnya lebih besar dari bunga. Beberapa lembaga pemberi kredit konvensional di kota saya sering ramai dan sesak dengan antrian hingga keluar gedung. Bahkan sepintas pernah saya lihat ada yang sampai memberi pengumuman di kaca depan bahwa sementara waktu tidak melayani pemberian kredit. Bandingkan dengan bank syariah atau pegadaian syariah yang justru lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal ini, menarik pertanyaan yang diajukan seorang kerabat saya beberapa waktu lalu, yang mungkin mewakili pertanyaan jutaan muslim lain di Indonesia. Pertanyaan yang sederhana namun sangat menohok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau kita punya uang terus kita simpan di bank konvensional dan memperoleh bunga, jelas itu haram seperti yang difatwakan oleh MUI dan Muhammadiyah baru-baru ini. Lalu bagaimana bagi yang sedang butuh dana dengan segera namun tidak bisa meminjam ke bank atau lembaga keuangan syariah lain karena sistem bagi hasilnya yang jauh lebih besar sehingga justru menambah beban, atau karena jumlah pinjaman tidak memenuhi batas minimal pinjaman atau persyaratan lainnya padahal kebutuhan sudah sangat mendesak (untuk biaya rumah sakit, bayar kontrakan rumah, bayar biaya sekolah/kuliah, modal usaha karena habis di-PHK), apakah hukumnya juga haram Rin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang harus dijawab oleh Bank Syariah melalui serangkaian langkah konkrit : bahwa keberadaannya tidak hanya dalam rangka membebaskan para pemilik modal atau kalangan the have dari riba namun juga bagaimana membebaskan sejumlah besar umat (kelompok the have not) yang tidak punya daya dan pilihan untuk membebaskan dirinya dari jerat riba. Bank syariah harus ”membumi”, menjangkau tangan-tangan kecil yang membutuhkan. Dengan begitu, hampir bisa dipastikan bank syariah akan bersemai di hati umat. Kita semua akan bangga sekaligus merasa memiliki bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya bank syariah belajar dari Grameen Bank. Bank yang tidak memakai label syariah tapi mampu secara nyata mengentaskan sejumlah besar orang miskin di Bangladesh dari kemiskinannya. Inovasinya sangat luar biasa dan bukan tidak mungkin diadaptasi oleh bank syariah di Indonesia. Apalagi sejumlah daerah di Indonesia sudah memiliki lembaga keuangan mikro yang berkarakter sama dengan Grameen Bank dan bersentuhan langsung dengan masyarakat miskin, seperti Bank Gakin (Bank Keluarga Miskin) di Kabupaten Jember. Bank yang dikelola sendiri oleh warga miskin di mana 90% pengurusnya adalah perempuan, sebanyak 46% di antaranya adalah lulusan sekolah dasar dan 5% tidak melewatkan pendidikan sekolah formal ini, konon pada tahun 2009 lalu mencatatkan omzet sebesar Rp 14 miliar dengan aset Rp 2,1 miliar dengan pertumbuhan omzet selama tiga tahun terakhir rata-rata 260%. Sayangnya, bank gakin yang menaungi lebih dari 2.200 anggota tersebut sempat seperti telur di ujung tanduk. Pasalnya, modal bank yang dibina Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jember itu akan ditarik oleh pemiliknya, Bank Jatim. Padahal modal pinjaman yang diberikan Bank Jatim hampir mencapai 80%. Dari 29 Bank Gakin yang ada, hanya tujuh unit yang menggunakan dana mandiri. Dana yang digulirkan juga lumayan besar yakni mencapai Rp 14 milyar lebih. Harusnya ini menjadi peluang emas bagi bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah inovasi produk pembiayaan lain juga perlu terus diakselerasi seiring dengan tren dan kebutuhan umat terkini. Salah satunya, KPR. Bank syariah harus mampu bersaing dengan bank-bank konvensional lain yang telaten melayani kredit untuk rumah sekelas “kandang kelinci” apalagi “sangkar burung” (konon, ini sebutan orang-orang bank untuk rumah-rumah bertipe kecil alias Rumah Sangat Sederhana/Rumah Sederhana sehat atau RSS). Selama ini bank syariah seolah hanya mau mengurusi rumah-rumah bertipe “istana”. Dan yang tak kalah penting, bank syariah juga harus mampu “menjawab” pertanyaan terbesar umat saat ini, mengapa sistem bagi hasil yang dibebankan kepada peminjam lebih besar dari suku bunga bank konvensional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, selamat bekerja Bank Syariah, umat sangat menanti kau nyata hadir untuk mereka. Jangan lagi hanya mengandalkan isu halal haram karena umat butuh solusi yang lebih konkrit. Jadikan dirimu pilihan utama dan pertama. Bisa diandalkan. Dengan begitu, sense of belonging umat tak perlu dipertanyakan lagi. InsyaAllah……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-7772605928625480512?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/7772605928625480512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=7772605928625480512' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7772605928625480512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7772605928625480512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/05/bank-syariah-telah-membuat-saya-malu.html' title='Bank Syariah Telah Membuat Saya Malu!'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-3618385724401221937</id><published>2010-04-29T17:49:00.000-07:00</published><updated>2011-02-01T16:14:28.230-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Studi di Belanda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kompetiblog'/><title type='text'>Misteri Pesan Kartini : Mengapa Harus Belajar Hingga Ke Negeri Belanda?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 215px; height: 215px;" src="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/banner/kompetiblog2010.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MATAHARI&lt;/span&gt; pagi mulai tinggi ketika saya baru menyadari bahwa hari itu, 21 April 2010, adalah Hari Kartini. Padahal beberapa kali saya berpapasan dengan remaja putri berpakaian tradisional di sepanjang Jalan Letjen Soeprapto di Kota Suwar Suwir yang saya lalui pagi itu. Banyak salon yang masih ramai meski hari mulai beranjak siang. Sekolah-sekolah juga terlihat berbeda. Hampir semua siswi memakai pakaian daerah : cantik, anggun dan sangat Indonesia sekali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali saya tersenyum sendiri dan bergumam : sungguh cantik Indonesiaku. Sayang, rasa bangga itu hanya membuncah beberapa saat. Ada tanda tanya besar yang saya rasakan setelah itu.&lt;br /&gt;”Inikah yang diharapkan Kartini? Sudahkah nilai-nilai dan pesan filosofis Kartini tersampaikan dengan baik pada generasi muda? Ataukah perayaan Hari Kartini ini hanya sekedar seremoni sehingga generasi muda terjebak pada persepsi bahwa Kartini identik dengan kebaya?”. Tanya yang tak ingin saya jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghindari kemeriahan peringatan Kartini yang saya rasa hanya sebatas seremoni, saya beralih ke dunia maya. Ternyata, di sinipun tak kalah meriah. Para Facebooker misalnya, beramai-ramai mengupdate status, tautan, note dan sebagainya tentang Kartini. Lagi-lagi, semua terasa biasa dan membosankan. Pertanyaan-pertanyaan di atas kembali menyeruak mengkristal menjadi sebuah misteri : ada pesan dan harapan Kartini yang belum terjawab. Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan sedikit titik terang beberapa jam kemudian saat membaca catatan Tary Wulandari, tentang ”Belanda Juga Menghargai Kartini”. Ternyata di Negeri Kincir Angin tersebut, nama dan sosok Kartini cukup dikenal sebagai pejuang hak-hak perempuan. Nama Kartini bahkan diabadikan sebagai nama jalan di beberapa tempat di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Utrecht misalnya, Jalan RA Kartini atau Kartinistraat terletak di kawasan tenang dengan perumahan apik dan kebanyakan dihuni kalangan menengah. Jalan utama ini berbentuk 'U' yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Chez Geuvara, Agostinho Neto. Sementara di Venlo Belanda Selatan, RA Kartinistraat berbentuk 'O' di kawasan Hagerhof. Di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amsterdam, ibukota Belanda, juga mengabadikan nama penjuang hak-hak perempuan Jawa di abad 17 itu. Wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap. Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards. Paling menarik mengamati letak jalan Kartini di Haarlem, dekat Chris Soumokil. Di sana, jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke jalan Chris Soumokil presiden kedua RMS (Republik Maluku Selatan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://ngerumpi.com/baca/2010/04/21/jalan-kartini-di-belanda.html"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 231px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/S9ozdLc6pxI/AAAAAAAAAD4/9Xb1-KM6Koo/s320/Jalan+Kartini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465737674150815506" /&gt;&lt;/a&gt; Nice posting, tapi misteri itu belum terjawab!&lt;br /&gt;Ibu Kartini, katakan padaku apa yang sangat kau harapkan dari kami, generasi masa kini khususnya perempuan Indonesia? Karena pasti bukan seremoni kebaya ini yang kau harapkan. Katakan padaku apa yang sangat kau inginkan, kau impikan dan itu belum tercapai? Saya bermonolog. Berpikir keras untuk memecahkan misteri yang saya buat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal dua kata kunci, Kartini dan Belanda, saya semakin larut di dunia maya. Saya hampir menangis ketika menemukan beberapa tulisan yang menceritakan tentang impian Kartini yang tak sampai : melanjutkan studi ke negeri Belanda! Impian yang beliau titipkan pada Kartini-Kartini Masa Kini dalam sebuah pesan sederhana: Tuntutlah ilmu hingga ke Belanda! Tapi kenapa harus ke Negeri Kincir Angin?&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutlah ilmu hingga ke Belanda dalam pemahaman saya memiliki dua makna sekaligus, sebagai kiasan dan juga bermakna sebenarnya. Sebagai kiasan, Kartini mencita-citakan generasi muda Indonesia termasuk kaum perempuan bisa maju dan menjalankan peran strategis untuk memajukan bangsa. Satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan itu adalah melalui pendidikan. Pendidikan adalah hak sekaligus kewajiban semua warga negara, tak berbatas usia ataupun gender. Tidak pula berbatas teritori negara. Jika memang pendidikan berkualitas harus ditempuh hingga ke Negeri Belanda, why not?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makna sebenarnya, Kartini memang merekomendasikan generasi muda Indonesia untuk menuntut ilmu ke negeri Belanda. Pertanyaannya kemudian, apakah pesan ini masih relevan dengan konteks saat ini? Pada zaman kolonial dulu, seorang Kartini, Muhammad Hatta, M.Sjahrir dan banyak tokoh lainnya tentu akan menjadikan Belanda sebagai negara tujuan utama dan mungkin satu-satunya untuk melanjutkan studi. Karena mungkin hanya pemerintah Belanda yang memberi beasiswa kepada orang pribumi dan tentu saja pastinya harus ke Belanda. Tapi hari gini, ketika hampir semua negara berlomba-lomba memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi ke negaranya masing-masing dan universitas berkualitas berjamuran di banyak negara selain Belanda, masihkah Belanda menjadi pilihan utama? Kenyataannya : Ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat almarhum Munir kan? Beliau sedang dalam rangka menuju Belanda untuk melanjutkan studi ketika musibah itu terjadi. Ada juga Effendi Ghazali yang memilih Belanda sebagai tempatnya menimba ilmu untuk jenjang doktoral. Konon, HB IX juga belajar di Belanda, tepatnya di Groningen. Banyak pula praktisi dan akademisi lain di Tanah Air yang memilih Belanda sebagai negara tujuan utama melanjutkan studi ke luar negeri. Menurut data yang dirilis Nuffic untuk tahun ajaran 2008-2009 lalu, Indonesia berada di posisi ke-2 dengan 1,350 mahasiswa setelah Cina 5000 mahasiswa, disusul oleh India (550), Korea Selatan (450) dan Vietnam (450).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaran tentang seluk beluk studi di Belanda membuat saya semakin larut di dunia maya. Saya butuh alasan yang lebih personal dari orang-orang terdekat yang memilih Belanda sebagai negara tujuan studinya. Saya hubungi seorang teman, Erwin Nur Rif’ah, yang mengambil master Medical Anthropology di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa memilih Belanda?” tanya saya to the point dalam sebuah chat. Dengan beasiswa Ford Foundation yang diterimanya, ia bisa memilih negara manapun. Tapi kenapa Belanda yang dipilihnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendidikan di sana bagus, sudah diakui oleh badan akreditasi perguruan tinggi dunia. Dari 200 universitas terbaik di dunia, 11 di antaranya ada di Belanda. Ada lebih dari 1400 program studi berbahasa Inggris yang ditawarkan sehingga kita gak harus bisa bahasa Belanda” terangnya panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://artsci.wustl.edu/~overseas/programs/NetherlandsUtrecht.html"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/S9ot2BBs-nI/AAAAAAAAADw/iNwE4N_dLhs/s320/Utrecht.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465731503779281522" /&gt;&lt;/a&gt; “Kelebihan lainnya?” saya masih penasaran.&lt;br /&gt;“Karena Belanda merupakan salah satu negara favorit tujuan studi, kita bisa bertemu dan mengenal banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Masyarakat Belanda dikenal dunia sebagai masyarakat multikultural yang sangat ramah dan bertoleransi tinggi sehingga mahasiswa asing akan merasa at home. Jelasnya tentang aspek sosial dan kultur masyarakat di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang ini kamu pasti suka : karena Holland is gateaway to Europe alias pintu gerbang menuju Eropa, jadi kalau kita sudah punya visa dan ijin tinggal di Belanda, kita bisa bepergian ke negara-negara Eropa lainnya” Yeah, I really like it!&lt;br /&gt;“Kalau tidak enaknya kuliah di Belanda apa Mbak?” hehe, saya juga perlu tau real experiences soal yang satu ini.&lt;br /&gt;“Biasanya mahasiswa Indonesia awalnya shock karena sistem dan proses belajar di sana sangat berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia kita terbiasa pasif dan dimanja. Di Belanda kita harus aktif dan mandiri. Bahkan untuk fotokopipun kita harus melakukannya sendiri. Di kelas juga harus aktif. Pokoknya terasa bener-bener belajar deh...” wah seru juga.&lt;br /&gt;“Anything else Mbak?” Rasa penasaran saya belum tuntas.&lt;br /&gt;“Pastinya homesick-lah! Tapi karena di sini banyak teman senasib, kita gak merasa sendiri. Lagian, orang Indonesia di Holland cukup banyak jadi serasa punya banyak saudara....” I think it is enough.&lt;br /&gt;Sudah cukup banyak clue didapat, tapi misteri pesan Kartini untuk belajar hingga ke Belanda belum juga terjawab. Ayolah Bu, katakan saja langsung. Kenapa harus Belanda? Saya melanjutkan monolog yang terputus seolah Ibu Kartini ada di depan saya.&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya hampir lupa, mungkin lebih tepatnya hampir menyerah, untuk melanjutkan petualangan memecahkan misteri pesan Kartini, ketika tidak sengaja menemukan catatan kecil yang saya copas dari status Budiarto Shambazy beberapa bulan lalu. Saya simpan karena sangat menarik. Isinya kurang lebih begini :&lt;br /&gt;Dua neg ASEAN, Thai &amp;amp; Viet eksportir beras no 1 &amp;amp; 2 di dunia kuasai 41% n 19,6% psr (senilai $1,196 M n $2,9 M) n Thai, yg bkn neg bahari, eksportir produk perikanan no 3 dgn 8% ($6,477 M). Neg mini Belanda eksportir sayur/buah no 1, kuasai 10,4% psr ($16,395 M). Bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;“Koq bisa ya Belanda yang kecil begitu bisa menjadi eksportir sayur dan buah nomor satu di dunia? Kenapa bukan Indonesia atau negara lain yang memiliki lahan pertanian atau daratan lebih luas?” Rasa heran inilah yang menjadi starting point saya untuk menelusuri keunikan-keunikan dan keunggulan lain dari Negeri Orange. Dan hasilnya sungguh menakjubkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai dari bidang atau masalah yang paling saya minati dan sangat relevan dengan permasalahan bangsa Indonesia saat ini. Dari arsip artikel di kabarindonesia.com tertanggal 29 Desember 2007, tertulis bahwa Belanda adalah negara yang paling sukses dalam mengentaskan kemiskinan. Dengan membaca artikel ini saja, saya langsung ingin menyimpulkan bahwa Indonesia khususnya para decision maker harus berguru ke Negeri Orange agar bisa mengentaskan kemiskinan yang masih membelenggu sekian puluh juta saudara-saudara kita dengan lebih efektif dan konkrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah lingkungan hidup, Belanda ternyata juga unggul. Termasuk dalam penataan kotanya. Bahkan Belanda mendapat predikat sebagai kiblat tata kota dunia. Uniknya lagi, Belanda mampu menggabungkan antara art dengan konsep tata kota yang berwawasan lingkungan. Kota Amsterdam misalnya, berhasil menduduki peringkat 5 European Green City Index yang dikeluarkan oleh Economist Intelligence Unit yang melakukan indeksisasi tentang kota hijau di 30 kota di 30 negara di Eropa. Pemerintah Amsterdam juga telah membuat target pengurangan emisi dengan mengurangi sebesar 40% emisinya pada tahun 2025 (berdasarkan tahun 1990), atau juga target ini berarti di angka 34% di tahun 2020 dan lebih tinggi dari target Uni Eropa dimana UE memasang angka 20% pengurangan emisi di tahun 2020. Lagi-lagi saya harus menyimpulkan, Indonesia memang harus banyak belajar pada Belanda yang terbukti telah menjadi salah satu referensi terbaik di dunia dalam bidang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://onetravel.wordpress.com/2009/03/16/monday-morning-memories-amsterdam/"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 224px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/S9o2g8sfKbI/AAAAAAAAAEI/ub_pTODYXac/s320/amsterdam-canals.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465741037443951026" /&gt;&lt;/a&gt; Belanda juga merupakan salah satu negara yang memiliki sistem pengelolaan dan konservasi air terbaik di dunia. Duh.... ini juga kita harus belajar agar banjir tak lagi menjadi momok menakutkan ketika musim hujan datang terutama bagi kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Apalagi, banjir kini juga mulai menghantui banyak kota di Indonesia yang sebelumnya tidak pernah bermasalah. Seperti Bandung, Semarang dan sejumlah daerah di Pantai Utara Jawa (Pantura).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang arsitektur, Belanda juga memainkan peranan penting. Selama abad 20, Belanda telah mengembangkan arsitektur modern. Mulai tahun 1980an sampai sekarang, Belanda menjadi salah satu tempat di dunia dengan arsitektur terbaik dan juga menjadi referensi bagi para arsitek terkenal di dunia. Kepiawaian Belanda tentang konstruksi, bendungan, pulau buatan, dan semacamnya telah diakui dunia. Tak heran, bila kontraktor asal negeri Tulip ini banyak menjadi konsultan atau pelaksana beragam mega proyek di berbagai belahan dunia. Seperti Pulau Palem di Dubai. Tak hanya itu, para arsitek Belanda juga tengah mempersiapkan proyek masa depan dengan konsep mengambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang kearsipan, di mana Indonesia masih sangat payah, Belanda ternyata adalah salah satu negara yang diakui sistem kearsipannya dan merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Tidak hanya dokumen-dokumen negara saja yang diarsipkan, namun dokumen peninggalan-peninggalan budaya juga banyak yang diarsipkan, termasuk dari Indonesia. Kabarnya, dokumen dan peninggalan budaya Indonesia di sana sangat lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda juga memiliki andil besar dalam terobosan-terobosan terbaru di bidang teknologi informasi. Perancang program Microsoft Office, Windows XP, MSN, Internet Explorer atau Windows Vista ternyata adalah desainer Belanda yang bernama Tjeerd Hoek. Untuk pertanian selain menjadi produsen terbesar sayur dan buah, Belanda juga merupakan pemasok bunga dan tanaman utama di dunia yang menguasai hingga 52% penjualan global. Konon, Belanda adalah tempat diselenggarakannya transaksi jual-beli bunga terbesar di dunia. Setiap tahunnya, sejumlah uang bernilai lebih dari 4 miliar euro atau lebih dari 54,3 triliun rupiah berputar di Belanda hanya dari bisnis bunga ini. Tak hanya itu, Belanda juga sukses menyediakan 16.000 jenis tanaman yang dapat diterbangkan ke seluruh penjuru dunia. Padahal selain luas tanahnya sempit,  kondisi cuaca di sana juga buruk di samping berkembang pula isu penghematan energi yang sedikit banyak berpengaruh terhadap aktivitas pertanian Belanda.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.hickerphoto.com/tulip-flowers-7736-pictures.htm"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/S9o0bg8ggZI/AAAAAAAAAEA/pdVg4MUHZGs/s320/tulip_flowers_T1379.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465738745072353682" /&gt;&lt;/a&gt; Untuk bidang peternakan dan produk turunannya, Belanda dikenal sebagai produk susu dan keju terbaik di seluruh negeri. Wah, lelah juga menginventaris keunggulan Belanda di banyak bidang tapi ternyata ini belum selesai.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang gemar olahraga terutama sepakbola, pasti tidak asing dengan istilah “Total Football”. Total Football atau yang dalam bahasa Belanda-nya Totaalvoetbal, merupakan sebuah inovasi paling berharga di dunia sepakbola. Konsep yang ditemukan oleh Rinus Michel ini adalah sebuah konsep sepakbola menyerang di mana setiap pemain dapat mengambil alih peran pemain lain dalam tim. Meski sang penemu telah meninggal pada tahun 2007 lalu, penemuannya akan dikenang sebagai founding father sepakbola modern yang enak ditonton, menghibur dan tidak menjemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang seni dan budaya, Belanda juga memiliki cita rasa yang tinggi, unik dan khas yang kemudian dipadupadan dan dikreasikan dalam penciptaan karya, kemajuan ilmu dan penemuan ilmiah, yang dilandasi oleh rasa eksploratif yang peka. Kreasi seninya terlihat di segala aspek, mulai dari museum, arsitektur, produk industri dan ketertarikan terhadap sastra. Tak mengheran jika kemudian di Belanda terdapat beberapa jurusan sastra budaya Indonesia seperti Sastra Jawa dan Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang pendidikan tentu tidak diragukan lagi. Belanda adalah surga bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan. Tidak hanya memiliki beberapa universitas terbaik di dunia sehingga menjadi salah satu negara tujuan terfavorit, Belanda juga termasuk negara langganan penerima Nobel. Setidaknya ada 15 orang penerima Nobel dari negeri tulip ini karena kontribusinya yang sangat penting bagi perdamaian dunia atau untuk penelitian dalam fisika, kimia, kedokteran atau ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain unggul dalam beberapa bidang yang telah disebutkan di atas, Belanda ternyata juga mumpuni dalam bidang arkeologi dan paleontologi. Para ahli Belanda di bidang tersebut telah turut andil dalam mengungkap beberapa candi dan situs budaya di Indonesia. Masih ada beberapa bidang lain di mana Belanda juga unggul. Meski tak semua disebutkan di sini, tidaklah berlebihan kiranya jika penulis menyimpulkan bahwa Belanda adalah negara yang memiliki keunggulan hampir di semua bidang. Tak hanya diakui namun juga telah menjadi salah satu referensi terbaik di dunia. Sangat wajar jika kemudian Belanda menjelma menjadi salah negara maju dan terbaik di dunia.&lt;br /&gt;Inovasi Belanda lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan kreativitas yang sangat tinggi. Keterbatasan dan masalah (seperti luas daratan dan keterbatasan sumber daya alam) tidak menjadi penghalang, justru menjadi motivasi mereka untuk terus berinovasi hingga menjadi yang terdepan di segala bidang. Mereka pembelajar hebat yang juga memiliki semangat entrepreneurship tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Data Statistics Netherlands tahun 2008, Belanda memiliki 11,5 % dari total jumlah tenaga kerja yang berwirausaha. Nomor 2 terbanyak sedunia setelah Kanada. Masyarakat Belanda juga sangat forward loking, tak hanya dalam mengembangkan konsep arsitektur dan beberapa bidang lain yang memang sudah menjadi keahlian terbaik mereka. Kota-kota di Belanda juga mulai menisbahkan diri sebagai kiblat bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis masa depan. Amsterdam kini menjadi salah satu tempat yang terdepan di pusat kreatif dunia. Tak mengherankan jika kemudian World Economic Forum dalam Competitiveness Report-nya untuk tahun 2009-2010 menempatkan Belanda di peringkat ke-10 dalam Indeks Kreativitas Dunia, di bawah Kanada, Jepang, Jerman, Finlandia, Denmark, Swedia, Singapura, Amerika Serikat, dan Swiss sebagai peringkat teratas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integritas masyarakat Belanda juga terlihat dari sikap dan perilaku pejabat pemerintahannya yang sangat bersahaja namun tetap mengedepankan profesionalitas. Inipun sangat layak untuk menjadi referensi banyak negara termasuk Indonesia. Kita ambil contoh hak-hak dan fasilitas anggota parlemen Belanda. Selain tidak mendapat gaji, untuk urusan ke Gedung Parlemen di Binnenhof (Den Haag) yang nyata-nyata demi kepentingan negara tetap menjadi tanggung jawab masing-masing anggota parlemen. Apalagi mobilitas untuk merawat konstitueen, itu bukan tanggung jawab dan beban negara melainkan partai dari mana mereka berasal. Fasilitas yang diberikan Belanda terhadap pejabatnya hanya penggantian uang transport untuk kepntingan tugas anggota parlemen. Besarnya 781,36 uero untuk yang bertempat tinggal dalam radius 10-15 km dari kompleks Parlemen (Den Haag), 1.093,63 euro untuk radius 15-20 dan 1.562,72 euro untuk radius lebih dari 20 km. Jumlah tersebut semuanya bruto untuk satu tahun. Untuk yang bertempat tinggal dalam radius 10 km ke bawah tidak masuk dalam ketentuan tersebut alias tidak mendapat apa-apa. Keseharian anggota parlemen Belanda juga sangat bersahaja. Mereka terbiasa naik trem, sejenis angkutan umum kota mirip kereta api namun bentuknya lebih kecil. Tidak jarang pula menteri di sana bersepeda menuju kantornya. Demikian hati-hati dan ketatnya Belanda mengelola keuangan negara, pada tahun 2001 neraca keuangan Belanda surplus hingga 7 milyar gulden (mata uang uero belum diberlakukan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, jadi speechless!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah jawaban untuk pesanmu yang misterius itu Ibu Kartini, mengapa kami harus belajar hingga ke negeri Belanda. Rupanya kau tuntun langkah kami, putra-putri Indonesia, untuk mencari solusi bagi berbagai permasalahan bangsa dan krisis multidimensi yang tak berkesudahan ke sebuah negeri yang unggul hampir di semua bidang : Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini titipkan cita-cita besarnya pada kita, generasi muda Indonesia, karena ia percaya kita pasti bisa. Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan bangsa lain. Kita hanya perlu bersemangat lebih tinggi dan belajar lebih keras, berguru pada yang mumpuni dengan kultur belajar yang kondusif sehingga lahirlah SDM-SDM handal dan profesional di segala bidang. SDM-SDM yang berkualitas inilah yang nantinya akan mengantarkan Indonesia menjadi negara besar di kemudian hari. Semoga.&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri pesan Kartini terjawab sudah. Kini saatnya bagi kita, putra-putri Indonesia, mewujudkan satu mimpinya yang tak sampai : belajar hingga ke negeri Belanda! Untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;Banyak jalan menuju Holland........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber foto : Bisa di-link pada gambar masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;1. Paradigma Baru Pengentasan Kemiskinan di Indonesia, Ririn Handayani, kumpulan artikel pada Membangun Indonesia Sejahtera, LP3ES, 2005.&lt;br /&gt;2. Belanda juga Menghargai Kartini, http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/belanda-juga-menghargai-kartini&lt;br /&gt;3. Universitas di Belanda dan Beasiswa, http://mnrizal.wordpress.com/2009/04/06/universitas-di-belanda-dan-beasiswa/&lt;br /&gt;4. Kota Hijau yang Bernama Amsterdam, http://yangkiimade.blogspot.com/2010/04/kota-hijau-yang-bernama-amsterdam.html&lt;br /&gt;5. Bangsa yang Membangun Sejarah Bangsa dengan Kearsipan, http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/bangsa-yang-membangun-sejarah-bangsa-dengan-kearsipan/&lt;br /&gt;6. Belajar Kreatif dari Belanda,  http://lenidisini.wordpress.com/2010/04/14/belajar-kreatif-dari-belanda/&lt;br /&gt;7. I Amsterdam, dapat diakses di http://junitariany.wordpress.com/2010/04/26/i-amsterdam/&lt;br /&gt;8. Total Football, Inovasi Belanda Paling Berharga di Dunia Sepakbola, http://harris-maulana.blogspot.com/2010_04_01_archive.html#7153198606898843340&lt;br /&gt;9. Realitas Inovasi Belanda, http://nguping.dagdigdug.com/index.php/2010/04/19/rib/&lt;br /&gt;10. Jejak Sang Pemburu Missing Link, Eugene Dubois, www.fathoniarief.blogspot.com&lt;br /&gt;11. 5 Fakta Inovatif dari Si Oranye Belanda, selengkapnya dapat diakses pada http://www.ramadoni.com/2010/04/5-fakta-inovatif-dari-si-oranye-belanda/&lt;br /&gt;12. Ekonomi dan Industri Kreatif, http://opini-itb77.blogspot.com/2009/03/ekonomi-dan-industri-kreatif.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-3618385724401221937?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/3618385724401221937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=3618385724401221937' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/3618385724401221937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/3618385724401221937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/04/misteri-pesan-kartini-mengapa-harus_29.html' title='Misteri Pesan Kartini : Mengapa Harus Belajar Hingga Ke Negeri Belanda?'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8BqXVLK0PyY/S9ozdLc6pxI/AAAAAAAAAD4/9Xb1-KM6Koo/s72-c/Jalan+Kartini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-4973030775699100317</id><published>2010-04-25T19:04:00.001-07:00</published><updated>2011-02-01T16:14:46.524-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Indonesia (ter)Mahal di Dunia</title><content type='html'>Seyogyanya, adalah kewajiban negara untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas bagi setiap warga negaranya, termasuk warga negara yang lemah mental, difabel ataupun berkebutuhan khusus. Namun di negeri yang memiliki kekayaan dan sumber daya alam sangat melimpah ini, pendidikan adalah barang mahal bahkan termasuk yang termahal di dunia. Pendidikan berkualitas apalagi cuma-cuma, masih sebatas mimpi bagi sebagian besar anak Indonesia. Lebih ironis karena pendidikan berkualitas di Indonesia telah menjadi komoditi. Pendidikan telah menjadi ajang bisnis yang sangat menggiurkan. Banyak sekolah menawarkan metode pendidikan terbaik, sarana lengkap dengan tenaga pengajar berkualitas, tentu saja dengan harga yang sangat membelalakkan mata. Hanya kalangan berpunya atau the have yang bisa menikmatinya. Sementara sejumlah besar anak Indonesia dari kalangan the have not, hanya bisa menikmati pendidikan dengan sarana dan prasarana apa adanya, berbagi guru dengan kelas lain bahkan dengan kondisi gedung atau ruang sekolah yang hampir rubuh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lebih ironis karena masih banyak anak Indonesia yang ternyata tidak bisa menikmati atau melanjutkan pendidikannya. Jumlah anak putus sekolah dan berpendidikan rendah di Indonesia masih tinggi. Dari Februari 2006 hingga Agustus 2007, tercatat penduduk yang berpendidikan SD dan tidak tamat SD meningkat dari 17,57% menjadi 18,52%. Bahkan, pada tahun 2009 lalu diperkirakan sekitar 12 juta anak Indonesia putus sekolah. Tak kalah ironis, jutaan anak juga masih mengalami gizi buruk. Bagaimana mau pintar dan memiliki daya saing tinggi jika kebutuhan yang lebih mendasar yakni sehat, tidak terpenuhi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan anak usia dini (PAUD) juga tak kalah memprihatinkan. Menurut data Departeman Pendidikan Nasional, jumlah anak usia 0-6 tahun pada 2009 diprediksi sebanyak 28,377 juta orang. Dari jumlah tersebut, baru 25% yang bisa berpartisipasi dalam PAUD. Itupun tidak merata baik secara geografis maupun sosial ekonomi. Alhasil, partisipasi PAUD di Indonesia tergolong paling rendah se-Asia Tenggara[i]. Ini bisa jadi sebuah jawaban mengapa SDM kita rendah, karena fondasi pendidikan kita selama ini tidak kuat. Six is too late.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak sekolah di India sudah bisa menikmati program OLPC, perbandingan antara komputer dan siswa yang menggunakannya pada tahun 2008 di Indonesia adalah 1:3.000 siswa, padahal angka yang ideal adalah 1:20. Dengan fasilitas minim seperti ini, wajar saja jika banyak generasi muda kita yang gaptek (gagap teknologi). Pada jenjang pendidikan tinggi, keadaannya juga tak lebih baik. Banyak lulusan perguruan tinggi kita yang menjadi pengangguran. Jumlahnya terus meningkat dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya kemudian, apa yang salah dengan pendidikan di negara kita? Bukankah kekayaan dan sumber daya alam kita sangat melimpah yang seharusnya dengan itu negara sangat mampu untuk menyelenggarakan pendidikan berkualitas dan cuma-cuma untuk semua warga negara? Apakah kualitas pendidikan kita kalah bersaing sehingga banyak lulusannya tidak bisa diserap oleh lapangan kerja yang ada? Apakah sistem pendidikan kita juga kurang baik sehingga banyak kalangan berpunya yang lebih memilih melanjutkan studi di luar negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita amati, ada beberapa persoalan besar dan mendasar yang menghambat terselenggaranya pendidikan yang berkualitas dan mudah diakses bahkan seharusnya bisa dinikmati secara cuma-cuma oleh semua rakyat di Indonesia. Salah satu yang utama adalah belum terwujudnya good governance dalam tata kelola negara dan pemerintahan. Belum terwujudnya good governance telah mengakibatkan dampak yang sangat sistemik pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Termasuk dalam dunia pendidikan kita. Tak ada goodwill (kemauan/komitmen) yang konkrit dari pemerintah, salah satunya terlihat pada besarnya alokasi APBN untuk sektor pendidikan. Pendidikan gratis tak lebih dari sekedar retorika politik terutama pada masa kampanye pemilihan umum. Bahkan, alokasi 20% APBN/APBD untuk sektor pendidikan seringkali mengalami tarik ulur kepentingan yang berkepanjangan. Bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 25% dan Thailand 30%. Ironisnya, anggaran yang masih belum memadai tersebut masih tidak luput dari korupsi. Diperkirakan, anggaran di sektor pendidikan mengalami kebocoran hingga 30%[ii]. Berdasarkan evaluasi pengelolaan dana alokasi khusus tahun 2009 untuk pendidikan oleh KPK, dari total anggaran Rp 9,3 triliun yang dibagikan ke 451 daerah tingkat dua, diperkirakan Rp 2,2 triliun telah diselewengkan di 160 kabupaten atau kota[iii]. Sementara itu menurut temuan ICW, selama kurun waktu 2004-2009, sedikitnya terungkap 142 kasus korupsi di sektor pendidikan. Kerugian negara mencapai Rp 243,3 miliar[iv].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya praktik korupsi di negara kita hingga ke sektor pendidikan, berdasarkan survei yang diadakan Political and Economic Risk Consultancy (PERC), mengakibatkan Indonesia menempati urutan teratas dalam daftar negara paling korup di antara 16 negara tujuan investasi di Asia Pasifik (Media Indonesia Online, 10 Maret 2010). Dalam survei tersebut, Indonesia mendapatkan 9,27 dari total skor 10. Pada 2009, Indonesia juga menempati urutan teratas namun pada waktu itu skornya masih lebih baik yakni 8,32. Di posisi kedua negara terkorup di Asia Pasifik adalah Kamboja dengan skor 9,10 dan diikuti Vietnam dan Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi seperti itu, belum adanya goodwill yang konkrit dan anggaran yang memadai, sangat wajar jika kualitas pendidikan kita sangat memprihatinkan. Banyak anak-anak tak bisa sekolah karena biaya pendidikan yang terus melambung (biaya pendidikan di Indonesia termasuk yang termahal di dunia); sarana dan prasarana pendidikan apa adanya dan kualitas guru yang kurang memadai karena di negeri kita profesi guru masih dipandang sebelah mata. Mereka yang masuk Ilmu Pendidikan biasanya adalah “sisa” yang gagal bersaing masuk ke jurusan elit. Salah satu sebabnya karena gaji guru yang jauh dari cukup sehingga selain mengajar, para guru harus kerja serabutan lain untuk menopang kehidupannya. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang parkir bahkan pemulung. Dengan kondisi seperti ini, sangat sulit untuk mengharapkan para guru akan totalitas dalam menjalankan tugas mulianya sebagai pendidik generasi muda. Pada akhirnya akan berpengaruh pada kualitas anak didik dan daya saing mereka sebagai aset bangsa. Jika ini terus dibiarkan, kita akan semakin tertinggal. Bisa-bisa kita menjadi tamu di negara sendiri karena SDM handal dari luar negeri akan mengambil alih posisi-posisi strategis di negeri kita. Itulah hukum persaingan di era global saat ini : siapa yang memiliki daya saing tinggi, dia yang akan menguasai dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[i] Perhatian pemerintah terhadap PAUD masih minim meski PAUD sudah dimasukkan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Untuk program PAUD nasional, pemerintah baru mampu menyediakan anggaran Rp 500 milyar. Dengan dana sebesar itu, hanya sekitar 25% balita di Indonesia yang bisa menikmati PAUD. Tidak mengherankan pula jika dari 182.201 lembaga PAUD yang tercatat hingga tahun 2008, semuanya merupakan lembaga milik masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ii] Sumber : http://www.transparansi.or.id/majalah/edisi4/4berita_6.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[iii] Sumber : Wabah Korupsi Dana Pendidikan, diposting pada 22 Januari 2010. Lebih lengkap dapat diakses pada http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2010/01/22/krn.20100122.188618.id.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[iv] Kebocoran dana pendidikan yang paling besar terjadi dalam pengadaan gedung dan sarana prasarana sekolah. Hal itu disebabkan karena besarnya dana yang digunakan untuk pengadaannya, banyaknya aktor yang terlibat dalam pengelolaannya, serta banyaknya celah korupsi dalam pengelolaan dana tersebut. Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/09/09/&lt;br /&gt;19453779/korupsi.dana.pendidikan.dari.dinas.hingga.sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-4973030775699100317?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/4973030775699100317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=4973030775699100317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/4973030775699100317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/4973030775699100317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2010/04/pendidikan-indonesia-termahal-di-dunia.html' title='Pendidikan Indonesia (ter)Mahal di Dunia'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-7176216743105318532</id><published>2009-12-24T18:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-24T18:55:17.067-08:00</updated><title type='text'>Agar Semua Menuai Berkah Tarif Seluler Murah</title><content type='html'>Oleh : Ririn Handayani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan seluler di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Saat ini, jumlah pengguna seluler di negara kita diperkirakan sekitar 125 juta pelanggan yang berarti penetrasi pasar telah mencapai 50 persen. Tahun lalu, dengan estimasi jumlah pengguna seluler sekitar 116 juta, kita menempati peringkat ke-6 sebagai negara dengan jumlah pengguna telepon seluler terbanyak di dunia (www.detik.com). China menempati peringkat pertama dengan jumlah pengguna sebanyak 585 juta jiwa; India di tempat kedua dengan jumlah sekitar 291 juta jiwa, diikuti oleh Amerika Serikat dengan jumlah sekitar 259 juta jiwa. Selanjutnya Rusia sebanyak 172 juta jiwa, Brazil sebanyak 134 juta jiwa dan Indonesia. Jepang dan Jerman masing-masing memiliki jumlah pengguna sebanyak 103 juta jiwa, Italia sekitar 90 juta jiwa dan Pakistan sekitar 86 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif seluler yang semakin murah dan harga ponsel yang kian terjangkau masyarakat bawah merupakan salah satu faktor utama yang mendorong pesatnya pertumbuhan seluler di Indonesia. Dengan Rp 300 ribu kini kita bisa mendapatkan ponsel dengan layanan online. Nomor perdana diobral bak kacang goreng dengan berbagai bonus menarik hanya dengan Rp 5 ribu bahkan Rp 2 ribu. Karenanya, sudah tak asing lagi kita temui tukang becak, mlijo, kuli bangunan atau tukang parkir berponsel. Dan mungkin tak lama lagi, para gelandangan dan pengemis alias gepeng akan menjadi komunitas baru berponsel di Indonesia. Fenomena ini sangat menarik. Di satu sisi kita melihat keadilan bertelekomunikasi khususnya berponsel telah merambah seluruh lapisan masyarakat. Namun di sisi lain, kita dapati pula sejumlah catatan besar yang cukup ironi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif seluler dan ponsel yang semakin murah mendorong aktivitas bertelekomunikasi masyarakat baik telepon, sms maupun internet semakin meningkat. Seiring dengan itu, pengeluaran budget masyarakat untuk ponsel juga semakin meningkat. Tarif seluler murah yang sedang booming digencarkan para operator seluler saat ini tidak berarti budget seluler masyarakat menjadi rendah. Sebaliknya, tarif seluler murah justru mendorong masyarakat semakin konsumtif. Jika saja setiap pengguna seluler di Indonesia yang kini diperkirakan berjumlah sekitar 125 juta orang menghabiskan rata-rata Rp 50 ribu setiap bulannya untuk budget seluler, maka total pengeluaran pengguna seluler di Indonesia adalah Rp 6,25 triliun setiap bulannya. Jumlah yang hampir menyamai dana bailout Bank Century yang kini menjadi kontroversi dan perhatian publik. Nominal ini akan lebih besar jika ternyata pengeluaran rata-rata pelanggan seluler di Indonesia melebihi nominal Rp 50 ribu setiap bulannya. Angka yang sangat luar biasa. Pertanyaannya kemudian apakah cost yang sangat besar ini telah memberi kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas dan taraf hidup masyarakat khususnya pengguna seluler dari kalangan masyarakat menengah ke bawah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif Seluler Murah dan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kajian ilmiah mengemukakan bahwa pertumbuhan seluler memiliki pengaruh yang positif terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat dan kemajuan sebuah negara. Berdasarkan data dari Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikeluarkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) misalnya, kita dapat menganalisis bahwa terdapat hubungan antara penetrasi telekomunikasi khususnya seluler dengan kemajuan dan kualitas hidup masyarakat di suatu negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuran HDI mengacu pada tiga dimensi pembangunan manusia yakni kehidupan yang panjang dan sehat, kesempatan menikmati pendidikan dan hidup dengan standar yang layak.  Kualitas kehidupan juga menjadi bahan penilaian UNDP dengan indikator pendapatan nasional bruto (GDP) dan daya beli masyarakat yang dinyatakan dalam dolar Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDP mengelompokkan negara-negara menjadi dua bagian berdasarkan HDI. HDI sendiri dinyatakan dalam angka antara 0 hingga 1. Negara dengan HDI lebih dari 0,900 dikategorikan sebagai negara maju (kelompok ini sering juga disebut sebagai Organization for Economic and Co-Operation Development atau OECD). Sementara negara yang mencatat HDI kurang dari 0,900 dimasukkan kelompok negara berkembang. Negara-negara yang masuk kategori negara berkembang cenderung memiliki kesejahteraan lebih rendah dibandingkan dengan negara maju. Kesejahteraan dapat dilihat pada indikator gross domestic bruto per kapita (GDP per kapita). Negara maju cenderung memiliki GDP per kapita lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang. Berdasarkan data, negara berkembang memiliki GDP per kapita sebesar US $ 5,282 dan negara maju memiliki GDP per kapita sebesar US $ 9,527.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan pertumbuhan seluler, negara-negara maju cenderung memiliki penetrasi yang lebih tinggi pada pengguna telepon seluler (cellular subscribers) selain juga pada sambungan telepon (telephone mainlines) dan pengguna internet (internet user). Sebaliknya, negara berkembang cenderung memiliki penetrasi yang lebih rendah. Sebagai contoh berdasarkan data yang dikeluarkan UNDP, pada tahun 2005 negara berkembang memiliki penetrasi pengguna telepon seluler sebesar 229 per 1.000 orang atau 22,9 persen, sedangkan negara maju (OECD) memiliki penetrasi telepon seluler sebesar 785 per 1.000 orang atau 78,5 persen dan negara OECD berpendapatan tinggi memiliki penetrasi pengguna telepon seluler yang lebih tinggi yakni sebesar 828 per 1.000 orang atau 82,8 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data dan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara penetrasi telekomunikasi seluler dengan kualitas dan taraf hidup masyarakat di suatu negara. Semakin tinggi penetrasi telekomunikasi seluler, maka semakin besar peluang meningkatnya kualitas dan taraf hidup masyarakat. Penetrasi telekomunikasi seluler yang tinggi akan mempermudah berbagai aktivitas manusia, mulai dari aktivitas ekonomi, bisnis, pemerintahan, organisasi, industri, pendidikan dan sebagainya sehingga kualitas dan taraf hidup masyarakat dapat terakselerasi. Sebaliknya, semakin rendah penetrasi telekomunikasi seluler maka akan berpengaruh pada semakin rendahnya aktivitas masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas dan tingkat kesejateraan masyarakat. Pertanyaannya kemudian apakah kesimpulan dan formulasi di atas juga terjadi di Indonesia yang penetrasi pengguna selulernya telah mencapai 50 persen atau sekitar 125 juta orang dengan estimasi budget seluler mencapai sekitar Rp 6,25 triliun setiap bulannya?&lt;br /&gt;Pertama kita lihat HDI Indonesia yang diumumkan UNDP 5 Oktober 2009 lalu. Meski kita termasuk negara dengan pertumbuhan dan penetrasi seluler terbesar di dunia, HDI kita tahun ini hanya naik tipis menjadi 0,734 dari 0,728 pada 2007 dengan tetap menempati posisi sama yakni peringkat ke-111 dari 182 negara. Di antara negara-negara Asia Tenggara, kualitas hidup di Indonesia masih kalah dari Singapura yang berada di rangking 23 (HDI 0,944), Brunei (peringkat 30/HDI 0,920), Malaysia (peringkat 66/ HDI 0,829), Thailand (rangking 86/HDI 0,783) dan Filipina (urutan 105/HDI 0,751). Hanya Vietnam (116) dan Laos (133) yang peringkatnya berada di bawah Indonesia. Dari data ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa pertumbuhan dan penetrasi seluler yang sangat spektakuler di Indonesia belum berjalan beriringan dengan berbagai indikator kesejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;Pertumbuhan dan penetrasi seluler nampaknya juga masih belum banyak berimbas pada program pengentasan kemiskinan meski ponsel sudah membooming hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Maret 2009, masih ada 32,53 juta jiwa penduduk atau sekitar 14,15 persen dari total penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan. Angka ini tidak mengalami perubahan berarti dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, sebuah studi yang dilakukan sebuah universitas di London menyebutkan bahwa pertumbuhan sebesar 10% dari jumlah telepon selular dapat mengurangi kemiskinan hampir 2 kali lipatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran teknologi seluler terlebih di tengah perang tarif antar operator seluler seyogyanya dapat mengakselerasi munculnya ekonomi alternatif dan optimalisasi tumbuh kembang Unit Usaha Kecil atau UKM sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja. Kenyataannya, ketika pertumbuhan seluler meroket, penurunan angka penggangguran di Indonesia seolah diam di tempat bahkan menunjukkan indikasi akan semakin bertambah akibat pengaruh dari krisis ekonomi global. Berdasarkan data BPS, jumlah pengangguran di Indonesia per Maret 2009 lalu mencapai 9,4 juta orang. Dan diperkirakan, setiap tahun muncul rata-rata 1 juta pengangguran baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percepatan pembangunan daerah tertinggal juga tidak terkerek optimal. Menurut data Kementerian Negara Percepatan Daerah Tertinggal (PDT), secara kuantitatif ada 55 persen atau lebih dari setengah dari seluruh kabupaten yang ada di Indonesia masih tergolong daerah tertinggal. Secara makroekonomi baru 14,4 persen dari pendapatan daerah nasional dengan pertumbuhan 4,91 persen saja. Di tengah makin besarnya pangsa telepon seluler, Indonesia justru mengalami penurunan peringkat dalam indeks daya saing industri teknologi informasi (TI) sebagaimana yang diumumkan Economist Intelliegent Unit (EIU).  Tahun ini Indonesia menempati rangking ke-59. Padahal tahun lalu kita menempati posisi 58. Sementara itu, pertumbuhan seluler yang pesat juga masih berkorelasi terbalik dengan iklim investasi di Indonesia yang masih payah. Menurut data International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia, kelayakan investasi Indonesia berada di peringkat ke-122. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenjangan yang tajam antara pertumbuhan seluler dengan berbagai indikator kesejahteraan masyarakat di atas menjadi catatan besar bagi kita semua. Bukan berarti kehadiran teknologi seluler tidak memberi manfaat sama sekali bagi kehidupan masyarakat. Hanya saja, pertumbuhannya yang sangat pesat seharusnya dapat memberi kontribusi yang lebih optimal bagi peningkatan kualitas dan taraf hidup masyarakat. Bukan timpang sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai data di atas. Karenanya, perlu dirumuskan sejumlah langkah konkrit agar Rp 6,25 triliun yang kita keluarkan setiap bulan dapat memberi hasil yang sepadan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Bangladesh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangladesh adalah salah satu negara yang mampu membuktikan bahwa hadirnya teknologi seluler mampu menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakatnya. Bangladesh sebelumnya merupakan salah satu negara paling sedikit sarana telekomunikasinya di dunia di mana 97% dari rumah-rumah dan hampir semua pedesaan kekurangan telepon. Ketiadaan sarana telekomunikasi ini mendukung keterbelakangan dan pemiskinan  penduduk Bangladesh. Massalisasi telepon selular atau ponsel di berbagai daerah remote dan sentra-sentra kemiskinan melalui konsep phone lady terbukti memberi dampak yang siginifikan untuk menaikkan derajat dan taraf hidup masyarakat khususnya kaum perempuan di Bangladesh. Phone Lady adalah konsep sekaligus sebutan bagi para perempuan yang berfungsi sebagai wartel berjalan bagi penduduk sekitar yang membutuhkan alat komunikasi dengan beragam kebutuhan, melakukan pengecekan harga bahan baku sampai dengan mengontak sanak saudara yang tinggal jauh di seberang lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan Bangladesh memanfaatkan teknologi seluler sebagai akselator peningkatan kualitas dan taraf hidup masyarakatnya khususnya kaum perempuan, tidak terlepas dari kiprah Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya yang fenomenal dan telah direplika lebih dari seratus negara di dunia. Melalui anak perusahaan Grup Grameen yakni Grameen Phone, para perempuan di Bangladesh yang menjadi anggota Grameen Bank diberi kredit mikro untuk membeli ponsel yang kemudian disewakan kepada siapapun yang memerlukan terutama para pria-pria pedagang sebesar 2 dollar/menit untuk telpon keluar internasional; 0.1 dollar/menit untuk menerima telefon internasional dan masing-masing 1 dan 0.05 Dollar setiap menitnya untuk telefon keluar dan masuk domestik. Dengan itu, seorang phone lady di Bangladesh berpenghasilan 2000 dollar per tahunnya atau kurang lebih 4 kali lipat pendapatan per tahun masyarakat Bangladesh. Sementara dari perspektif kinerja perusahaan, GrameenPhone memiliki pendapatan sebesar I milyar Dollar dan keuntungan tahunan sebesar 200 juta Dollar. Kesuksesan Model Grameen Phone dengan konsep Phone Lady-nya ini kini telah direplikasi di banyak negara seperti Filipina, Uganda, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi dan karakter masyarakat Indonesia yang unik memerlukan pendekatan dan pemetaan masalah yang berbeda dengan Bangladesh. Masyarakat miskin di Bangladesh bisa memiliki sebuah ponsel dengan mengajukan kredit mikro kemudian mereka diedukasi secara intensif bagaimana menggunakan ponsel tersebut secara produktif sehingga bisa meningkatkan taraf hidupnya. Ponsel bagi masyarakat Bangladesh tak ubahnya seperti hewan ternak atau lahan pertanian yang bisa menghasilkan. Konteks Indonesia berbeda. Mind set masyarakat kita pada umumnya masih didominasi oleh life style minded : tuntutan gaya hidup adalah yang pertama dan utama. Istilah yang ngetrend saat ini : “Hare gene, gak punya HP?”. Ironisnya, virus ini telah merambah hingga masyarakat bawah. Mereka juga tidak mau ketinggalan jaman dan gaya untuk berponsel tanpa memikirkan apa manfaat atau nilai tambah yang bisa didapat bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan pemilik yang tahu dan paham bagaimana memanfaatkan secara bijak dan cerdas, benda ajaib bernama teknologi seluler benar-benar dapat mendatangkan keajaiban. Terlebih di tengah booming tarif seluler murah seperti sekarang. Dunia serasa dalam genggaman. Akses informasi tanpa batas, jaringan luas di seluruh penjuru dunia, beragam bisnispun bisa dikembangkan dengan mudah dan murah. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak tahu, teknologi dan tarif seluler murah tak ubahnya seperti parasit yang mengambil sejumlah besar pendapatannya setiap bulan. Nilai tambah yang mereka dapat tidak seoptimal yang didapat oleh masyarakat kalangan atas. Di sinilah pentingnya edukasi berponsel bijak dan cerdas khususnya bagi masyarakat kelompok bawah agar semua bisa menuai berkah tarif seluler murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Masyarakat Cerdas Berponsel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edukasi bagi pelanggan seluler tengah mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan khususnya terkait dengan perang tarif antar operator yang dinilai banyak menjebak dan merugikan konsumen. Operator seluler merespons keluhan ini dengan melakukan sejumlah edukasi tentang esensi dari kata  murah yang diiklankannya. Biasanya dilakukan dalam acara talkshow radio atau program-program below the line. Edukasi semacam ini penting agar masyarakat lebih bijak dalam berponsel sehingga tidak dirugikan dan boros dalam penggunaan pulsa. Hanya saja, untuk membuat masyarakat menjadi lebih cerdas dan produktif dalam memanfaatkan teknologi dan tarif seluler murah, edukasi perlu dikembangkan dan ditindaklanjuti menjadi sebuah program konkrit dan berkelanjutan yang berorientasi untuk lebih meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Program ini hanya akan berjalan optimal jika  semua pihak turut andil, mulai dari para operator seluler yang telah meraup keuntungan besar dari booming ponsel di Tanah Air, pemerintah selaku regulator termasuk masyarakat sendiri sebagai pelaku utama.&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia yang kompleks memungkinkan para stakeholders melakukan berbagai pendekatan dan metode edukasi yang beragam sesuai dengan kondisi dan karakter masyarakat yang menjadi sasaran. Setidaknya ada dua segmen masyarakat yang perlu diprioritaskan dalam program edukasi berponsel bijak dan cerdas ini. Yakni masyarakat kalangan menengah ke bawah dan generasi muda. Dua tujuan besar yang ingin dicapai adalah masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri serta generasi muda yang memiliki kompetensi dan daya saing tinggi. &lt;br /&gt;Ada beberapa poin yang penting untuk diedukasikan kepada masyarakat terkait dengan kehadiran teknologi seluler dan tarif seluler murah dalam rangka meningkatkan kualitas dan taraf hidup serta kompetensi dan daya saing masyarakat di era global sekarang ini. Di antaranya : bagaimana berponsel bijak agar tidak terjerumus pada pemborosan; memahami rumusan “murah” yang benar yang banyak diiklankan para operator seluler; memberikan informasi tentang nilai tambah telepon seluler dalam kehidupan sehari-hari seperti sebagai sarana menjalin koneksi dengan banyak orang di seluruh penjuru dunia, akses informasi dan pengetahuan tanpa batas, sebagai sarana promosi atau bisnis online dan masih banyak lagi. Poin-poin edukasi ini diharapkan dapat mengubah mindset masyarakat yang konsumtif menjadi produktif; inovasi dan daya saing meningkat karena akses informasi dan pengetahuan yang lebih besar. Selain itu, edukasi diharapkan juga dapat memunculkan semangat interpreneurship (kewirausahaan) masyarakat agar lebih optimal dalam memberdayakan potensi yang dimiliki dan melihat peluang usaha yang ada. &lt;br /&gt;Dalam tataran implementasi, edukasi bagi masyarakat menengah ke bawah sedikit banyak dapat mengadaptasi konsep Grameen Phone di Bangladesh. Sejumlah orang miskin di Indonesia telah memiliki lembaga keuangan mikro sendiri seperti Grameen Bank di Bangladesh, yakni Bank Gakin atau Bank Keluarga Miskin. Bank Gakin mulai banyak bermunculan di sejumlah wilayah di Indonesia yang bertujuan untuk memberikan bantuan modal kepada masyarakat kecil yang tidak memiliki akses modal ke perbankan. Salah satu Bank Gakin yang berhasil meraih MDGs Award dan menjadi role model bagi bank gakin-bank gakin di daerah lain di Indonesia adalah Bank Gakin di Kabupaten Jember yang dipelopori oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Jember sejak tahun 2005 lalu. Sama halnya dengan Grameen Bank di Bangladesh, target utama Bank Gakin ini adalah perempuan miskin dan produktif. Bank Gakin adalah sebutan yang diberikan sendiri oleh warga miskin yang menjadi anggotanya. Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh beberapa pengurus dan anggota Lembaga Keuangan Masyarakat Mikro (LKMM) sebagai antitesis terhadap bank formal yang selama ini tidak pernah mau peduli dengan ekonomi keluarga miskin. Bank ini dikelola sendiri oleh warga miskin, di mana 90% pengurusnya adalah perempuan. Sebanyak 46% di antaranya adalah lulusan sekolah dasar dan 5% tidak melewatkan pendidikan sekolah formal. Meski demikian, omzet bank gakin di Jember mampu mencapai Rp 14 miliar dengan aset Rp 2,1 miliar. Pertumbuhan omzet selama tiga tahun terakhir rata-rata 260%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masyarakat yang telah terorganisir dan memiliki akses terhadap kredit mikro seperti ini, implementasi edukasi dapat mencontoh konsep Grameen Phone di Bangladesh. Misalnya operator bekerja sama dengan Bank Gakin memberikan kredit handphone (HP) kepada para anggotanya. Tentu saja dengan disertai edukasi dan bimbingan intensif serta evaluasi berkala agar kehadiran HP dapat memberi nilai tambah dan akselerasi pada peningkatan kualitas hidup para anggota. Selain Bank Gakin, masih banyak organisasi atau komunitas lain di masyarakat yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. Misalnya saja paguyuban dari berbagai profesi seperti paguyuban pedagang kaki lima, tukang becak, nelayan, petani, peternak dan sebagainya. Kelompok pengajian, arisan atau pertemuan warga seperti Dasawisma juga memiliki potensi sama. Edukasi akan berjalan lebih efektif pada masyarakat yang sudah terorganisir seperti ini daripada masyarakat yang masih bersifat sporadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Bank Gakin, tidak semua organisasi atau komunitas di atas memiliki fasilitas kredit mikro atau pinjaman bagi anggotanya. Padahal, mungkin saja terdapat sejumlah orang di dalamnya yang sangat membutuhkan ponsel untuk menunjang aktivitas kehidupannya namun tidak memiliki atau kesulitan dana untuk membeli. Dalam konteks ini, produsen dan atau operator seluler dengan pihak terkait dapat berperan lebih selain memberi edukasi yakni dengan memberi bantuan atau fasilitas kredit ponsel kepada yang membutuhkan. Adapun yang menjadi jaminan adalah asas kepercayaan dan sistem tanggung renteng para anggota dari organisasi atau komunitas yang bersangkutan. Program semacam ini akan lebih efektif dibandingkan program lain yang sifatnya charity namun tidak memiliki esensi pemberdayaan yang jelas. Masyarakat di kantong-kantong kemiskinan dan daerah terisolir perlu mendapat prioritas dari program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas selanjutnya adalah generasi muda. Kelompok ini merupakan salah satu sasaran utama para produsen dan operator seluler karena karakternya yang mudah dipengaruhi, selalu ingin tampil gaya dan orientasi just for fun yang sangat besar. Dalam hitungan bulan bahkan minggu mereka bisa berganti model HP terbaru. Beban para orang tua dipastikan bertambah karena adanya pos pengeluaran baru yakni pulsa. Aktivitas bertelekomunikasi yang relatif tinggi (telefon, sms, internet), ringback tone, premium sms dan sebagainya yang bisa membengkakkan anggaran untuk pulsa, menyebabkan generasi muda menjadi salah satu penyumbang terbesar dari Rp 6,25 triliunan yang kita bicarakan di awal tulisan. Inilah alasan mengapa kelompok ini patut diprioritaskan dalam program edukasi berponsel cerdas. Peran strategis generasi muda sebagai aset masa depan bangsa juga menjadi alasan lain yang tak kalah penting. Jika bukan sekarang, kapan lagi kita membentuk generasi muda yang cerdas, berkompetensi, penuh inovasi dan memiliki daya saing tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edukasi bagi generasi muda dapat include dalam kurikulum sekolah atau perguruan tinggi, misalnya dengan memasukkan materi edukasi pada mata pelajaran atau kuliah Teknologi Informasi dan Komunikas (TIK). Melalui cara ini, diharapkan generasi muda khususnya para siswa dan mahasiswa tidak hanya paham teknologi secara teknis namun juga etika serta bisa menjadikan teknologi seluler sebagai akselerator transfer ilmu pengetahuan dan informasi. Di luar institusi pendidikan, edukasi berponsel cerdas juga dapat melalui organisasi atau komunitas kepemudaan seperti Karang Taruna, Kelompok Studi dan sebagainya. Peran orang tua juga sangat penting dalam mengedukasi putra-putrinya. Sebagai penyuplai energi si ponsel, orang tua memiliki wewenang untuk mengontrol dan membatasi anggaran pulsa anak-anaknya termasuk mengawasi penggunaan ponsel jangan sampai digunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, semoga masyarakat dan generasi muda yang cerdas dalam berponsel segera terwujud agar tarif seluler murah menjadi berkah bagi kita semua dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih baik. Siapapun kita, mari turut ambil bagian untuk mewujudkannnya dengan mengedukasi orang-orang terdekat di sekitar kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-7176216743105318532?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/7176216743105318532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=7176216743105318532' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7176216743105318532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7176216743105318532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/12/agar-semua-menuai-berkah-tarif-seluler.html' title='Agar Semua Menuai Berkah Tarif Seluler Murah'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-7878331730523963791</id><published>2009-12-02T17:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T17:17:26.900-08:00</updated><title type='text'>Kenapa Kau Tutup Akun Facebookmu?</title><content type='html'>”Kenapa menghilang dari fb Rin?” tanya seorang teman via sms ketika saya menutup akun fb saya beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;Saya punya beberapa alasan dan karena tak ingin menimbulkan kesalahpahaman, saya sempat ”berpamitan” kepada beberapa teman. Rupanya teman yang satu ini terlewati.&lt;br /&gt;Saat akun fb saya tutup, saya akan hilang dari daftar seluruh teman saya. Teman yang tidak tau mungkin mengira saya meremove dia, padahal tidak. Kesalahpahaman ini yang ingin saya hindari. Jangan sampai ada yang suudzon. Tapi ya, sejujurnya saya pernah meremove dua orang dengan alasan efisiensi:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasan mengenai alasan mengapa seseorang menutup atau tidak aktif lagi di fbnya ternyata cukup menarik. Saya menanyai seorang teman yang hampir setahun ini tidak aktif lagi di jagad fb. Padahal, sebelumnya dia sangat aktif termasuk di Friendster, tempat kami menyambung kembali silaturahmi setelah sekian tahun tidak berjumpa. Saat teman saya di fb masih dalam hitungan jari tangan dan kaki, temannya sudah lebih dari empat ratus orang. Tiba-tiba saja dia ”menghilang”.&lt;br /&gt;Kenapa? tanya saya via sms. Sudah puluhan orang tanya hal sama di fbnya tapi tidak pernah dijawab. ”FB membuatku tidak punya privasi” jawabnya.&lt;br /&gt;”Kadang aku lupa, mungkin karena keasyikan atau sudah keranjingan, fb kuanggap seperti diary. Kutuliskan semua hal yang ada di kepala dan hati sampai kemudian aku menyadari banyak di antaranya yang bersifat pribadi dan sepatutnya tidak dipertunjukkan ke publik. Lama-lama aku merasa tidak enak sendiri.....” Alasannya yang pertama.&lt;br /&gt;Yang kedua : ”Aku sering menuliskan di statusku hal-hal yang bersifat baik dan memotivasi, ternyata itu hanya membuatku malu pada diri sendiri karena banyak yang tak bisa kulakukan. Hal-hal baik di statusku itu ternyata justru sering menggodaku untuk riya’. Hasrat untuk diperhatikan dan menjadi pusat perhatian juga acapkali muncul dalam setiap status yang kutulis”. Alasan-alasan yang membuat saya merenung lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman lain yang juga saya tanya, punya alasan dan kisah yang tak kalah menarik. Oleh suaminya, teman saya yang satu ini mendapat fasilitas internet unlimited dari rumah. Sebagai hiburan, kata suaminya. Fasilitas ini tentu saja dimanfaatkan dengan optimal, salah satunya untuk fb-an. Hampir sepanjang waktu dia online sembari mengerjakan aktivitas sehari-hari. Dia merasa sangat terhibur ketika berhasil menjumpai teman-teman semasa SMP dan SMAnya dulu, bahkan teman di SD dan TK, apalagi teman kuliah yang sudah cukup lama tidak bersua. Termasuk special someone-nya di waktu jahiliyah dulu sebut saja X. Tidak enak kalo ditolak permintaan pertemanannya, katanya sebagai alasan. Cukup masuk akal.&lt;br /&gt;Suatu waktu mereka online bareng dan si X menyapa, tanya kabar bla bla bla, pertanyaan formal. Supaya Cinta Lama Tidak Bersemi Kembali, teman saya berterus terang bahwa dia sudah menikah dan punya satu putra. Si X ternyata juga sudah menikah.&lt;br /&gt;Hari-hari berlalu, si X rajin sekali mengunjungi fb teman saya, rajin juga kasih komentar pada foto dan catatan. Chatting juga sering, meski obrolannya masih dalam hal-hal umum. Lama-lama teman saya merasa ada yang kurang kalo sehari saja si X tidak muncul. Dia mencoba menepis perasaan itu tapi tetap susah menolak kalau si X mengajaknya chat. Pertemuan di dunia maya semakin intens sampai kemudian teman saya merasa hati kecilnya berontak. ”Aku merasa selingkuh” katanya suatu waktu.&lt;br /&gt;”Saat suamiku kerja di kantor mencari nafkah untuk keluarga, aku asyik chat dengan dia. Saat chat bersamanya aku merasa seperti kembali ke masa lalu; terkadang aku lupa bahwa aku sudah berkeluarga. Jika suamiku melakukan hal yang sama, berchat ria dengan teman perempuannya sementara yang kutau dia sedang bekerja, padahal aku menunggunya dengan setia, menjaga rumah dan anaknya, aku tak rela jika dia memperlakukanku begitu”. Sesaat saya mencoba berempati lebih jauh pada alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman lain, juga seorang ummahat, punya kisah unik yang membuatnya mengurangi aktivitas di fb terutama memposting foto. Ceritanya, suatu hari saat ia menunjukkan fbnya pada putrinya yang baru berumur empat tahun, si anak langsung histeris senang, ”Ada foto Bunda di komputer!”. Komentar si kecil semakin ramai ketika melihat koleksi foto Bundanya. Kebetulan teman saya yang satu ini memang cantik, malah sangat cantik. Foto-foto closed up yang dipampang di fbnya semakin memperjelas kecantikannya.&lt;br /&gt;”Bunda tidak malu fotonya diliatin banyak orang?” tanya si kecil kemudian dengan lugu.&lt;br /&gt;Si anak memang pemalu. Dia sering menghindar jika ada orang yang menatap wajah imutnya berlama-lama apalagi orang yang tidak dikenal apalagi makhluk bernama laki-laki-laki yang tidak dikenalnya sebagai kerabat atau keluarga. &lt;br /&gt;Pertanyaan polos putri kecilnya ternyata sedikit banyak mengusik pikiran teman saya. Zaman kuliah dulu, susah sekali mendapatkan fotonya apalagi bisa menatap wajahnya berlama-lama. Ia banyak menunduk dan sedikit berpaling dengan jarak sekitar dua meter saat berbicara dengan lawan jenis. Tapi sekarang, wajah ayunya nongol bak selebritis di fb. Seperti di cover majalah meski sebenarnya masih dalam batas yang wajar. Ia lalu menceritakan kegundahan hatinya pada sang suami sepulang kerja.&lt;br /&gt;”Foto Bunda memang bagus-bagus. Hanya, kadang ayah khawatir nanti di fb dilihat sama sembarang orang. Kalau teman-teman perempuan sih gak papa, kalo laki-laki? Apalagi kalo ternyata suka sama Bunda” kata sang suami sembari menyiratkan kecemburuan terpendam.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, foto-foto yang begitu menampakkan dirinya hilang dari fb si ummahat. Kadang-kadang saja dia menampilkan fotonya saat bersama dengan keluarga atau beramai-ramai dengan teman. Selebihnya ia sering mengisi foto profilnya dengan flora dan fauna kesukaannya.&lt;br /&gt;”Kenapa foto profilnya macan Bunda?” tanyaku suatu waktu.&lt;br /&gt;”Fb sudah bikin aku narsis. Aku gak rela fotoku dipandang sembarang orang. Hanya untuk suamiku saja” jawabnya singkat. Gambar macan juga asyik koq Bun:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih ke teman lain yang memilih hengkang dari fb dengan alasan fb itu wasting time baginya. Awalnya dia juga excited, fb itu ajaib dan baik hati, pujinya. Salah satunya bisa membantu menemukan teman-teman lama yang hilang dari peredaran atau lenyap seperti ditelan bumi. Tapi katanya kemudian, lama-lama Fb menguras banyak waktu berkualitasnya hanya untuk berkomentar atau menjawab pertanyaan yang tidak urgen malah boleh dibilang sepele, belum lagi kalau terjebak dalam diskusi yang tidak ada juntrungannya. Padahal, waktu untuk keluarga dan beristirahat tidak terlalu banyak karena aktivitasnya yang sangat padat. Akhirnya dia say goodbye pada facebook. Fbnya masih ada, tapi seperti rumah yang sudah lama ditinggal penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman terakhir yang ingin saya ceritakan alasannya kenapa sudah lama non aktif dari fb, mungkin sedikit menyindir kita para facebooker mania. Katanya ”Aku fb-an bisa 3-4 jam sehari kadang lebih dari itu kalo pas libur atau jutek. Padahal ngajiku paling banter setengah jam, itupun sering gak konsen karena mikirin fb. Kadang malah bolong, sehari gak ngaji blas. Tapi, sehari aja gak online gak mungkin banget. Harusnya kan dibalik, ngajinya 3 jam, fb-an setengah jam. Paling gak lebih banyak ngajinya daripada fb-annya” katanya dengan nada sedikit sebal. Lalu ia menambahkan,&lt;br /&gt;”Aku sering begitu semangat mengubah statusku sesering mungkin dengan kata-kata terbaik, berkesan, penuh makna, mendalam dsb. Nulisnya mungkin cuma satu-dua menit, tapi mikirnya mau nulis status apa bisa sepuluh menit, satu jam, kadang malah seharian....” Masak sampai segitunya?&lt;br /&gt;”Bikin makan hati juga kalo ada yang komen nyebelin atau komen sampah” tambahnya.&lt;br /&gt;Ohhhhh, aku mencoba memahami.&lt;br /&gt;”Kamu sendiri kenapa jarang nongol di fb?” tanyanya balik.&lt;br /&gt;Hmm...... Ada deh:) Kabuuur.........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-7878331730523963791?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/7878331730523963791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=7878331730523963791' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7878331730523963791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7878331730523963791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/12/kenapa-kau-tutup-akun-facebookmu.html' title='Kenapa Kau Tutup Akun Facebookmu?'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-937424980927286500</id><published>2009-11-11T23:09:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T23:10:56.418-08:00</updated><title type='text'>Aku Pasti Bisa!</title><content type='html'>Saya menikah ketika masih aktif kuliah. Mungkin inilah salah satu revolusi terbesar lain dalam hidup saya. Di sela-sela masa kehamilan dengan morning sick yang cukup parah, saya memulai mengerjakan tugas akhir skripsi. Kebetulan pada waktu itu, Media Indonesia, Metro TV dan BBC Siaran Indonesia mengadakan lomba menulis untuk mahasiswa.&lt;br /&gt;Ada dua masalah besar yang saya hadapi ketika itu. Pertama, kondisi tubuh yang sangat lemah. Morning sick membuat saya hanya bisa terbaring di tempat tidur selama hampir 3 bulan. Saya merasa terhempas ke dunia lain yang sangat asing dan nyaris tak memiliki denyut kehidupan. Nyaris membuat rasa percaya diri saya runtuh. Bagaimana tidak, beberapa bulan sebelumnya saya masih aktif dengan beberapa kegiatan kemahasiswaan sekaligus. Kegiatan saya sepanjang hari selalu padat dari pagi hingga malam. Tempat kos hanya menjadi tempat untuk numpang mandi dan tidur. Saya merasa sangat energik dan dunia terasa begitu dinamis. Saya merasa bisa melakukan apapun dan kapanpun. Tapi kemudian, kehamilan membuat saya menjadi makhluk yang begitu lemah bahkan makan dan sholatpun sering hanya bisa saya lakukan sambil berbaring.&lt;br /&gt;Tubuh boleh lemah, tapi semangat tidak boleh menyerah. Saya bertekad untuk tidak melewatkan lomba menulis itu. Sekuat tenaga saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya bisa bagaimanapun kondisi saya saat itu. Tapi kendala lain menghadang : tema. Panitia membagi peserta lomba dalam beberapa region dengan tema yang berbeda. Untuk wilayah Jawa Timur temanya adalah seni. Tema yang kurang familiar dan jujur, kurang saya minati.&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit saya berusaha membangun kekuatan untuk bangkit. Saya mulai mencari ide tentang apa yang akan saya tulis. Saya buka lagi memori dan stock of knowledge saya yang terbatas tentang seni. Satu minggu berlalu saya masih blank. Sampai akhirnya saya ingat satu berita yang dulu pernah saya liput sewaktu bergabung dengan UKM Jurnalistik yakni musik Patrol, musik tradisional orang Madura yang mulai dilupakan. Apreasiasi dan upaya pelestarian terhadap musik inilah yang saya angkat menjadi tema tulisan. Agar tulisan semakin berbobot saya berusaha mencari data yang relevan di perpustakaan maupun di UKM Kesenian hingga pada para pelaku musik Patrol sendiri. Dengan tubuh yang lemah, rasa mual dan ingin muntah yang tak mau kompromi, ditambah hujan yang mengguyur Kota Jember hampir setiap hari, saya tetap tak mau menyerah dan yakin pasti bisa menyelesaikan tulisan untuk lomba tersebut.&lt;br /&gt;Waktu pengumuman relatif lama dan nyaris sudah saya lupakan, kurang lebih dua bulan. Media Indonesia mengundang saya ke Surabaya melalui surat tanpa penjelasan apakah saya menang atau tidak. Awalnya saya tidak tertarik datang karena kehamilan yang sudah hampir memasuki bulan kedelapan lagipula saya tidak yakin menang. Saya pikir hanya undangan biasa karena pengumuman pemenang disatukan dengan sebuah seminar tentang pendidikan bertempat di sebuah hotel di Surabaya. Telpon panitia yang meminta kepastian kehadiran saya akhirnya memaksa saya untuk datang.&lt;br /&gt;Dengan perut yang semakin besar meski terkadang banyak orang tidak menyangka saya sedang hamil, saya tidak bisa menikmati seminar pendidikan yang dilaksanakan di awal acara. Ketika peserta lain, baik mahasiswa, dosen, wartawan dan sebagainya hanyut dalam diskusi yang menarik dengan tokoh pendidikan kawakan, Arif Rahman, saya justru meringis di pojok ruangan merasakan perut yang sakit akibat guncangan selama 5 jam perjalanan Jember-Surabaya. Belum lagi keinginan untuk ke kamar kecil yang berulang kali.&lt;br /&gt;Saya hanya melongo, antara tak percaya dan sakit perut ketika pembawa acara menyebut nama dan tulisan saya sebagai pemenang pertama dalam lomba menulis tersebut. Butuh beberapa waktu untuk meyakinkan diri sebelum melangkah ke panggung, di mana Andi F.Noya telah menunggu untuk memberi ucapan selamat dan hadiah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-937424980927286500?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/937424980927286500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=937424980927286500' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/937424980927286500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/937424980927286500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/11/aku-pasti-bisa.html' title='Aku Pasti Bisa!'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-2385314949443384849</id><published>2009-11-11T23:08:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T23:09:17.076-08:00</updated><title type='text'>One Wish Three Jobs</title><content type='html'>Sasha pulang agak terlambat siang itu karena harus mengikuti kelas ”akselerasi” untuk mengejar beberapa pelajaran yang tertinggal karena beberapa kali tidak masuk sekolah. Begitu keluar dari kelas, saya segera menggamit tangannya tapi dia jalan melambat seperti kura-kura. Pasti ada maunya nih anak, duga saya dalam hati.&lt;br /&gt;”Ayo mbak, dek naura nanti nangis lho” kata saya sambil berjalan cepat menuju tempat parkir. Saya sudah meninggalkan Naura hampir setengah jam dan kepanasan di gerbang sekolah berpuluh menit. Mana saya tau Sasha akan ikut kelas akselerasi.&lt;br /&gt;”Ma, tas Ayu baru, aku mau punya tas seperti itu juga” katanya sambil merengek, dan dengan tetap gerak lambat dia naik ke sepeda motor. Saya hanya diam, begitu banyak permintaannya dalam beberapa hari ini. Terutama jika lihat iklan di TV.&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan pulang, saya membeli Harian Kontan di pinggir jalan, Sasha ikut turun dari sepeda motor. Kembali dia melambat saat disuruh naik sambil menunjuk majalah bergambar Spongbob. ”Aku mau majalah itu!”&lt;br /&gt;”Kemarin Mbak Sasha sudah beli komik banyak” anak satu ini tak bisa dijanjikan, ingatannya sangat tajam untuk mengingat apa-apa yang dijanjikan padanya. lhamdulillah dia gak komentar lagi meski wajahnya tetap cemberut.&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, saya suruh ia segera berganti pakaian sedang saya segera menggendong Naura yang sudah menangis. Hampir sepuluh menit berlalu, Sasha tak juga keluar dari kamarnya, suaranyapun tak terdengar sama sekali.&lt;br /&gt;”Lho Mbak, koq belum ganti baju?” tanya saya.&lt;br /&gt;”Ma, lihat mainanku yang ini? Sudah rusak, aku mau yang baru...” Oh My God, belum juga satu jam, dia sudah mengajukan tiga permintaan!&lt;br /&gt;.........&lt;br /&gt;Problem di atas mungkin banyak dialami para orang tua. Anak seusia Sasha, lima tahun, pada umumnya sudah sangat pintar meminta. Meski saya dan suami tidak bisa selalu mengabulkan setiap permintaannya dalam sekejap, Sasha sering tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan yang ia minta. Bahkan belum memintapun, tak jarang kami sudah memberikan. Mungkin itulah salah satu wujud sayang kami padanya. Tapi ternyata dampaknya tak selalu baik. Mudah mendapatkan setiap yang diinginkan hanya dengan meminta pada orang tua, membuatnya tidak mengerti arti ”berjuang” dan ”bekerja keras” untuk mewujudkan apa yang kita inginkan.&lt;br /&gt;Alhamdulillah ternyata suami juga berpikir sama dan punya ide bagus untuk mengajari Sasha menjadi seorang yang mandiri dan pejuang tangguh sejak dini. One Wish Three Jobs, nama ide itu. Intinya, kami tidak akan larang Sasha meminta dan memiliki keinginan, tapi dia harus ”bekerja” untuk mendapatkannya. Sebagai contoh, dia boleh meminta tas atau mainan baru, namun sebelum meminta dia harus melakukan tiga hal atau pekerjaan terlebih dahulu. Sesuai dengan usianya yang masih kecil, tiga pekerjaan yang bisa dipilihnya antara lain : tidak bangun kesiangan pada hari sekolah, segera mandi dan tidak malas berangkat sekolah, menghabiskan susunya, tidak nonton TV terlalu lama, membereskan mainannya sendiri seusai bermain, atau mau menemani adiknya bermain jika saya sedang sholat misalnya. Dengan cara ini, kami ingin Sasha belajar memahami hak dan kewajibannya, jika ingin sesuatu maka harus bekerja keras, sekaligus belajar bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Selain konsep One Wish Three Jobs, kami juga mengajari Sasha untuk belajar menentukan pilihan dan skala prioritas. Lagi-lagi masih berkaitan dengan permintaannya yang banyak dan kepintarannya dalam mengakali. Misalnya saja jika ditanya, pilih es krim atau mainan? Biasanya kalimat tanya itu saya ikuti dengan penegasan jika memilih es krim berarti tidak beli mainan dan sebaliknya.&lt;br /&gt;”Aku pilih es krim” jawabnya dengan mantap tapi begitu es krimnya habis dia akan bilang, ”sekarang aku mau mainan dan gak mau es krim lagi” anak pintar. Alhamdulillah seiring dengan usianya yang terus bertambah, dia semakin kooperatif dan belajar konsisten dengan pilihannya. Terimakasih Mbak Sasha, jadi anak shalihah ya, amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-2385314949443384849?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/2385314949443384849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=2385314949443384849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/2385314949443384849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/2385314949443384849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/11/one-wish-three-jobs.html' title='One Wish Three Jobs'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-5668579996546496815</id><published>2009-11-11T23:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T23:08:34.470-08:00</updated><title type='text'>Pesan dari Surga</title><content type='html'>Kawanku, pernahkah sejenak kau pikirkan, pesan yang kau kirim pada seorang temanmu seolah menjadi “pesan dari surga” baginya?&lt;br /&gt;Pesan yang mungkin menjadi teman bagi mereka yang merasa tak berkawan, pelipur lara bagi mereka yang sedang berduka, menjadi inspirasi dan motivasi bagi mereka yang tengah mencari atau bahkan menjadi solusi bagi teman kita yang tengah dilanda masalah. Padahal, mungkin tak ada kata luar biasa yang kau tulis, mungkin kau hanya menjawab pertanyaan singkatnya, tapi itu seolah adalah pesan dari surga untuknya, dan kau adalah Malaikatnya…..&lt;br /&gt;………&lt;br /&gt;Banyak hal yang sebenarnya bisa saya teladani dari kawan yang satu ini. Satu hal sederhana yang sangat berkesan buat saya adalah dia tidak pernah tidak membalas email dan sms saya, sepele apapun pertanyaan yang saya ajukan dan sesempit apapun waktu yang dia punya di sela kegiatannya yang sangat padat.&lt;br /&gt;Apakah karena saya sosok yang special baginya? Tidak juga karena dia melakukan itu hampir pada semua temannya. Dan pesannya selalu simpatik, penuh penghargaan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;Sebelum bertolak ke Negeri Sam untuk menyelesaikan master komunikasi politiknya beberapa bulan lalu, saya bertanya padanya untuk mengakhiri rasa penasaran di kepala saya.&lt;br /&gt;”Kenapa kamu selalu menjawab setiap pesan yang masuk ke inboxmu?”&lt;br /&gt;”Adakah alasan untuk tidak menjawab?”&lt;br /&gt;”Sekalipun itu sangat sepele? Sekedar tanya kamu sedang apa?”&lt;br /&gt;”Pertanyaan seperti itu tidak selalu sepele meski kelihatannya mungkin sangat sepele” jawabnya.&lt;br /&gt;”Lalu?”&lt;br /&gt;”Bisa jadi si penanya sedang butuh teman karena ia merasa sendiri, mungkin juga dia ingin melakukan sesuatu tapi tidak tau apa, jadi dia bertanya. Atau karena ia peduli pada kita.....” beberapa saat saya diam mencoba mencerna jawabannya.&lt;br /&gt;”Bagaimana jika yang bertanya itu dirimu, entah apa sebabnya dan untuk apa, lalu teman yang kau tanya, misalnya saja aku, memberikan jawaban terbaikku dengan sepenuh hati dan tulus?” tanyanya balik.&lt;br /&gt;”Aku merasa kau adalah temanku....”&lt;br /&gt;”Itu tujuanku!”&lt;br /&gt;”Begitukah...?”&lt;br /&gt;”Aku juga sering mengirimkan pesan sepele pada teman-temanku” lanjutnya.&lt;br /&gt;”Contohnya?”&lt;br /&gt;”Misalnya, kotaku sangat panas beberapa hari ini, bagaimana dengan kotamu? Atau, sudah baca artikel ini di media ini....”&lt;br /&gt;”Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?”&lt;br /&gt;”Hanya menunjukkan aku ada sebagai temannya....”&lt;br /&gt;”Just it?”&lt;br /&gt;”Haruskah dibuat rumit?”&lt;br /&gt;“Mungkin tidak rumit, tapi apa untungnya?”&lt;br /&gt;“Kau akan menjadi teman bagi semua orang, dan pesanmu mungkin menjadi pesan dari surga bagi sebagian mereka di mana kau adalah malaikatnya…”&lt;br /&gt;Hemmm….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-5668579996546496815?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/5668579996546496815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=5668579996546496815' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/5668579996546496815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/5668579996546496815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/11/pesan-dari-surga.html' title='Pesan dari Surga'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-3267715667240552254</id><published>2009-10-01T17:55:00.001-07:00</published><updated>2009-10-01T17:55:49.266-07:00</updated><title type='text'>Ekonomi Kreatif ala JFC : Think Globally, Act Locally</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C05%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place" downloadurl="http://www.5iantlavalamp.com/"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City" downloadurl="http://www.5iamas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:SimSun; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:宋体; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1 135135232 16 0 262144 0;} @font-face 	{font-family:"\@SimSun"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1 135135232 16 0 262144 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:SimSun; 	mso-fareast-language:ZH-CN;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ingin lihat catwalk terpanjang di dunia yang namanya sudah dikenal di banyak negara? Anda tak perlu jauh-jauh pergi ke Rio &lt;span style="" lang="IN"&gt;de Jenairo&lt;/span&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;Milan&lt;/st1:city&gt; atau &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Paris&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Datang saja ke Jember setiap awal bulan Agustus, dan Anda akan lihat catwalk jalanan yang sudah diakui dunia : JFC atau Jember Fashion Carnaval.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Catwalk jalanan sepanjang 3,6 km tersebut menampilkan ratusan model dengan tampilan yang sangat meriah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Berbeda dengan Festival Samba yang pesertanya memakai kostum sejenis, di JFC tidak ada satupun peserta yang berkostum sama. Setiap model yang tampil menampilkan seribu pesan. JFC sebenarnya adalah unjuk rasa; semacam demo di mana pesan disampaikan dengan eksklusif. JFC juga merupakan perpaduan harmonis antara perwujudan mimpi dan semangat zaman untuk melindungi bumi dari ancaman perubahan iklim dan pemanasan global. Bahan utama yang digunakan peserta baik pakaian maupun aksesorisnya adalah bahan daur ulang. Misalnya saja, bulu-bulu burung yang mereka kenakan sebagai hiasan kepala dan tubuh, berasal dari bulu ayam pembersih debu. Kreatif dan ekonomis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Konsep JFC sebenarnya lebih kurang sama dengan penyelenggaraan karnaval yang diselenggarakan oleh daerah-daerah lain. Hanya saja, JFC dikemas dengan lebih elegan, dikomunikasikan dengan baik dan terpenting mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat sebagai ajang promosi daerah. &lt;span style="" lang="IN"&gt;Keunikan&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; event ini dijadikan sebagai sebuah point lebih untuk membuatnya memiliki value yang tinggi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Inilah salah satu wujud ekonomi kreatif yang sangat inspiratif. Meski tumbuh dan berkembang di daerah kecil dan terpencil, JFC mampu mengembangkan diri secara profesional berstandar internasional. &lt;i&gt;Think globally, act locally&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;JFC memiliki standar carnival yakni sarat kreativitas, punya nilai komunikasi, punya nilai jual, punya nilai kontinyu, tren dan aktual. Acuannya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan karnaval kelas dunia. Spektakuler, unik, fantastik dan &lt;i&gt;amazing&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagai wujud ekonomi kreatif, JFC adalah sebuah fenomena; sebuah realisasi mimpi dan aktualisasi kreativitas intelektual dalam sebuah karya yang begitu inovatif di bidang fashion. Masyarakat kita yang masih awam akan ekonomi kreatif, seringkali bersikao apatis dan skeptis terhadap bibit-bibit ekonomi kreatif di sekitar kita. Itu pula yang terjadi pada JFC ketika pertama kali digelar pada tahun 2002 lalu. Tak hanya tak dipercaya, banyak pula yang menentang karena dianggap tidak sesuai dengan kultur dan karakter masyarakat Jember yang religius dan agraris. Tak berputus asa, JFC terus berkembang mendobrak &lt;i&gt;pakem&lt;/i&gt; masyarakat. Masyarakat kini mulai merasakan manfaatnya. Dengan ratusan ribu pengunjung di setiap pagelarannya, baik dalam maupun luar negeri, JFC telah berkontribusi menggerakkan roda perekonomian di Kabupaten Jember. Sektor pariwisata menggeliat, hotel-hotel, rumah makan, pusat perbelanjaan kian menjamur. Begitu pula dengan moda transportasi. Yang tak kalah penting, usaha kecil menengah masyarakat seperti industri makanan dan kerajinan ikut pula terakselerasi. Pemerintah Daerahpun semakin menata diri. Dunia kini tak hanya mulai mengenal Jember, satu kota terpencil di penghujung Pulau Jawa; iapun mulai diperhitungkan sebagai tujuan investasi yang prospektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berkat JFC, Jember telah menjadi kota carnaval, kota trendsetter, acuan, jadi pusat penelitian, pusat perbandingan dan mulai diikuti kota lain. Di kota ini, dalam satu hingga tiga tahun ke depan, akan didirikan pula Indonesian Carnaval Institute. Institut karnaval pertama di Indonesia. Sekolah ini bertujuan melahirkan SDM-SDM kreatif seiring dengan Kalender Indonesia 2025 : Peningkatan Ekonomi Kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mulai diterimanya JFC sebagai salah satu wujud ekonomi kreatif merupakan awal yang baik bagi terbangunnya budaya penghargaan terhadap karya intelektual di Indonesia. JFC dapat menjadi &lt;i&gt;role model&lt;/i&gt; lahirnya ekonomi kreatif-ekonomi kreatif di bidang lain. Semoga Indonesia akan semakin kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-3267715667240552254?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/3267715667240552254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=3267715667240552254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/3267715667240552254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/3267715667240552254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/10/ekonomi-kreatif-ala-jfc-think-globally.html' title='Ekonomi Kreatif ala JFC : Think Globally, Act Locally'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-635006750348932136</id><published>2009-10-01T17:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T17:52:00.781-07:00</updated><title type='text'>Buku “KAPOK”</title><content type='html'>Kapok No.1 :  …….&lt;br /&gt;Kapok No.2 : ……..&lt;br /&gt;Kapok No.3 : Kapok masak soto, udah capek mikir menunya, capek belanjanya, capek masaknya, e..... cuma dimakan dikit sama suami sambil dikomentari “rasanya koq aneh?”, emang makanan alien? Males deh masak soto lagi, ni yang pertama sekaligus yang terakhir!&lt;br /&gt;Kapok No.8 : Jangan lupa sedia tas plastic di bagasi or bawa sendiri dari rumah tiap mau belanja biar gak nambah timbunan plastic …… stop global warming!&lt;br /&gt;……&lt;br /&gt;Kapok No.25 :  Males SMS si A, jarang bales, kalo ditanya jawabannya gak memuaskan mana kayaknya enggan gitu bales smsku.&lt;br /&gt;Kapok No.60 : Jangan belanja di Ozzy Mart apalagi Matahari pas akhir atau awal bulan, rame sampe parkir aja susah, antri di kasir lama.....&lt;br /&gt;Kapok No.85 : Kapok makan duren monthong kebanyakan, habis makan perut panas dan kantong bisa bolong, hehehe&lt;br /&gt;..........&lt;br /&gt;Kapok No.99 : Catatan : nasi uduk di Alun-alun gak uduk banget, tapi karena gak ada pilihan, terpaksa deh. Ingat2 loh, rasanya gak uduk banget!&lt;br /&gt;Kapok No 110 : Pempek di pertigaan Kertanegara enak tapi mahal, jangan beli kalo uang lagi pas....&lt;br /&gt;.........&lt;br /&gt;Kapok No.147 : Belanja di warung Z, uang agak gedean dikit sering gak ada kembalian, terpaksa beli lain-lain yang gak dibutuhin biar pas&lt;br /&gt;Kapok No.156 : Males beli di resto X, harga mahal rasa gak enak, mending juga di kampus, murah meriah .........&lt;br /&gt;..........&lt;br /&gt;Kapok No.310 : Jangan lagi deh telfon F, bikin sakit hati.....&lt;br /&gt;Kapok No 437 :  Kapok fesbuk-an.... hehe (kalo yang ini paling sering dilanggar:))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sering kapok-an tapi pelupa, aku merasa perlu punya buku ”KAPOK”, sebagai catatan apa aja yang bikin aku kapok biar gak jadi keledai yang jatuh pada lubang yang sama berkali-kali. Ada yang berminat bikin catatan yang sama?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-635006750348932136?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/635006750348932136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=635006750348932136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/635006750348932136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/635006750348932136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/10/buku-kapok.html' title='Buku “KAPOK”'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-8253652736365834553</id><published>2009-07-16T17:52:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T17:54:20.570-07:00</updated><title type='text'>Beranikah Bank Syariah Menjadi Grameen Bank di Indonesia?</title><content type='html'>Ada berita memprihatinkan yang dimuat Harian Pagi Radar Jember dua hari berturut-turut, 28 dan 29 Juni 2009 lalu. Yakni tentang nasib 2.200 anggota Bank Gakin (Bank Keluarga Miskin) di Kabupaten Jember yang seperti telur di ujung tanduk. Pasalnya, modal bank yang dibina Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jember itu akan ditarik oleh pemiliknya, Bank Jatim. Padahal modal pinjaman yang diberikan Bank Jatim hampir mencapai 80%. Dari 29 Bank Gakin yang ada, hanya tujuh unit yang menggunakan dana mandiri. Dana yang digulirkan juga lumayan besar yakni mencapai Rp 14 milyar lebih. Jika benar Bank Jatim akan menarik seluruh pinjamannya, dipastikan sekitar 2.200 anggota Bank Gakin Jember akan kelabakan. Mereka harus pontang-panting mempertahankan eksistensi usahanya yang sudah tiga tahun ini dirintis dengan gemilang. Mereka akan terpukul karena pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Jember, belum mampu menyediakan dana pengganti karena keterbatasan anggaran. Demikian sebagian isi dari tulisan di Harian Pagi Radar Jember tersebut. Atas realitas ini, akankah Bank Syariah khususnya Bank Syariah di Kota Jember tergerak hatinya dan melihat ini sebagai potensi pasar yang prospektif?&lt;br /&gt;            Tujuh belas tahun sudah usia bank syariah di Indonesia sejak berdiri 1992 lalu, namun eksistensinya masih ”melangit”. Sebagian besar strategi dan inovasi produk yang dikembangkan bank syariah belum bisa dinikmati sektor riil yang notabene adalah kalangan masyarakat kelas bawah yang jelas-jelas sangat membutuhkan aliran modal namun tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan agunan. Dalam mekanisme pemberian kredit/modal, bank syariah menetapkan prosedur yang tidak jauh berbeda dengan bank konvensional. Masalahnya kemudian menjadi sangat sederhana, apa artinya perbedaan antara bank konvensional dengan sistem bunganya dan bank syariah dengan sistem bagi hasilnya, jika keduanya sama-sama susah diakses oleh masyarakat kecil yang membutuhkan modal untuk kelangsungan usahanya?&lt;br /&gt;Saya terenyuh mendengar cerita seorang ibu lijo (penjual sayur keliling) tentang bagaimana ia bisa mendapatkan modal usaha untuk bisa berjualan dan bagaimana ia harus membayar bunganya. Tak adanya akses untuk meminjam modal usaha ke bank karena tak punya apa-apa untuk dijadikan agunan, terpaksa si ibu meminjam uang kepada rentenir dengan bunga 20 persen sebulan. Bandingkan dengan tingkat suku bunga kredit komersil bank konvensional yang kini hanya berkisar 11-14 persen/tahun (Jawa Pos, 4 Juli 2009). Si rentenir rupanya sedikit berbaik hati dengan ”belanja” pada ibu lijo rata-rata Rp 10 ribu setiap hari. Ia tidak perlu membayar belanjaannya, cukup dihitung dengan teliti kemudian mengurangi jumlah bunga yang harus dibayar ibu lijo atas pinjamannya. Rata-rata sepuluh ribu setiap hari mungkin sedikit meringankan dan tidak terlalu besar dibandingkan jika harus membayar sekaligus. Tapi bagi seorang lijo yang jam 12 malam harus sudah bangun dan segera kulakan ke pasar kemudian berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain, dari satu rumah ke rumah lain sejak hari masih gelap, yang jika sedang hoki paling cepat jam 10 pagi baru bisa pulang ke rumah atau hingga jam 12 siang jika dagangannya tak cepat laku, nominal itu sangat luar biasa. Betapa tidak? Dari setengah kilogram daging ayam yang harganya sekitar Rp 11 ribu, lijo biasanya hanya mengambil keuntungan Rp 500, atau Rp 100 dari seikat bayam yang dijualnya. Dari receh demi receh itulah ia membayar bunga dan mencicil hutangnya pada rentenir, menghidupi keluarganya dan masih harus menyisihkan untuk modal berjualan esok harinya.&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti ibu lijo di atas, keberadaan Bank Gakin tentu akan sangat membantu. Sayangnya, untuk kabupaten Jember sebagaimana diberitakan oleh Harian Pagi Radar Jember bulan lalu, nasibnya seperti telur di ujung tanduk. Akankah bank syariah yang semakin marak mengekspansi Kota Suwar-suwir ini mau menjadi dewa penolong bagi wong cilik tersebut? Memberdayakan secara ekonomi sekaligus membebaskan masyarakat dari jerat riba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Grameen Bank&lt;br /&gt;Muhammad Yunus dan Grameen Bank-nya berhasil membuktikan bahwa gerakan nyata untuk mendayagunakan ekonomi masyarakat bawah bisa berjalan. Salah satu ciri unik Grameen Bank adalah pola pemberian kredit yang disandarkan pada pembentukan kelompok kecil penerima kredit. Satu kelompok terdiri dari lima orang yang saling bantu dan mengawasi dalam proses income generating (aktifitas yang mendatangkan penghasilan). Hanya dua orang dari mereka yang diperkenankan meminta kredit dari bank dan jika mereka tidak bermasalah dalam pengembalian kreditnya, dua orang lainnya dalam kelompok boleh ikut meminjam, dan jika semua sukses si orang kelima bisa mengajukan kredit pada bank. Dukungan moral dari sesama anggota kelompok peminjam menjadi pemacu pengembalian kredit secara disiplin. Hanya sebagian kecil dari kreditor yang gagal mengembalikan kredit, sebagian besar (98,85%) mengembalikannya secara penuh tepat pada waktunya.&lt;br /&gt;Di antara kriteria pemberian modal yang dianut oleh Grameen Bank adalah bahwa kredit pada masyarakat miskin pedesaan diberikan tanpa perlunya agunan atau penjaminan, kredit digunakan untuk aktifitas yang mendatangkan penghasilan (income generating), adanya pengawasan dan bimbingan ketat dari pihak bank, serta transparansi pada pengelolaan banknya. Hampir semua permodalan Grameen Bank dimiliki oleh para kreditornya sendiri dan hanya sebagian kecil (6%) dimiliki oleh pemerintah Bangladesh. Saat ini, operasional mereka dibiayai dari hasil pemutaran kredit dan sama sekali tidak tergantung dari pinjaman atau bantuan dari pihak lain.&lt;br /&gt;Muhammad Yunus dan Grameen Bank berhasil menjadi pemecah mata rantai lingkaran setan yang diciptakan antara kemiskinan dan permodalan. Dukungan anggota kelompok dalam proses peminjaman kredit menjadi pengganti perlunya agunan di Grameen Bank. Dalam praktik ekonomi kapitalisme yang umum berlaku, setiap peminjam kredit harus mempunyai sejumlah agunan sebagai jaminan bagi bank. Dengan adanya syarat ini, rakyat miskin yang tidak punya apa-apa tidak mungkin mendapat kesempatan mendapatkan modal dalam upayanya meningkatkan penghasilan.&lt;br /&gt;Upaya yang dilakukan Muhammad Yunus dan Grameen Bank terus berkembang pesat dan yang sangat menarik adalah bahwa 97% diantara peminjam adalah perempuan. Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya tidak hanya berhasil membuktikan bahwa gerakan nyata untuk mendayagunakan ekonomi masyarakat bawah bisa berjalan namun juga membuktikan bahwa kaum perempuan yang menjadi nasabah utama (98%) ternyata tidak hanya bisa dipercaya namun juga mampu melakukan sebuah perubahan sangat revolusioner, yakni berhasil melawan kemiskinan. Perempuan secara tidak disengaja menjadi ujung tombak penerima kredit Grameen Bank. Dengan nilai kredit yang tidak terlalu besar, perempuan pedesaan Bangladesh yang secara tradisional tidak terlalu banyak berkontribusi ekonomi dapat mencoba menumbuhkan usaha-usaha kecil yang menghasilkan uang. Hasilnya luar biasa. Kaum perempuan Bangladesh memiliki andil besar dalam meningkatkan perekonomian di desanya masing-masing dan karena Grameen Bank dilakukan pada skala yang besar, kontribusinya pada perekonomian negara juga cukup signifikan. Diperkirakan 1,1% dari GDP Bangladesh merupakan nilai tambah dari seluruh aktifitas Grameen Bank. Hingga 2008 lalu Grameen Bank telah memiliki 1.181 cabang, bekerja di 42.127 desa, didukung 11.777 staf, menyalurkan kredit sebanyak $3,9milyar kepada 2,6juta debitur yang 95% perempuan. Hingga kini model Grameen Bank telah direplikasi oleh lebih 250 lembaga keuangan mikro di hampir 100 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grameen Bank di Kabupaten Jember&lt;br /&gt;Pertumbuhan dan perkembangan Bank Gakin di Kabupaten Jember sangat pesat bahkan berhasil meraih MDGs Award dan menjadi role model bagi bank gakin-bank gakin di daerah lain di Indonesia. Bank Gakin adalah sebutan yang diberikan sendiri oleh warga miskin yang menjadi anggotanya. Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh beberapa pengurus dan anggota Lembaga Keuangan Masyarakat Mikro (LKMM) sebagai antitesis terhadap bank formal yang selama ini tidak pernah mau peduli dengan ekonomi keluarga miskin.&lt;br /&gt;Tumbuh kembang bank gakin di Jember dipelopori oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Jember sejak tahun 2005 lalu. Tujuan utamanya adalah perempuan miskin dan produktif. Pada awalnya program ini akan diimplementasikan pada tingkat desa. Namun karena wilayah desa dianggap masih terlalu luas, wilayah kerja Keuangan Mikro Masyarakat dipersempit menjadi tingkat dusun. Semakin sempit wilayah kerja diprediksi akan semakin efektif. Dusun Semenggu dan Mojan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang terpilih sebagai pioneer karena masyarakat di kedua lokasi tersebut telah di-black list lembaga perbankan. Dengan modal dana hibah dari Dinas Koperasi dan UMKM sebesar dua puluh lima juta rupiah dan simpanan sukarela anggota, kedua Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat tersebut telah mampu melayani sekitar 30 kelompok yang beranggotakan lebih dari 150 kepala keluarga.&lt;br /&gt;Sebagaimana halnya Grameen Bank, bank gakin di Jember juga menggunakan prinsip tanggung renteng di antara para anggotanya. Kelompok usaha yang terdiri atas 5-10 orang dapat mengajukan kredit usaha tanpa agunan antara Rp 50.000 hingga Rp 1 juta. Masyarakat yang mengajukan kredit tidak perlu menyerahkan proposal usaha, apalagi melalui survei yang berbelit. Proposal bisa diajukan secara lisan. Dana kredit bisa langsung cair setelah diadakan survey sekilas terhadap usaha yang dijalankan. Dengan kucuran kredit berjangka waktu 10 minggu yang diangsur setiap minggu dengan bunga 0,5 persen, terobosan ini sangat membantu kelompok usaha kecil dan menengah.&lt;br /&gt;Anggota satu bank gakin maksimal 200 orang warga miskin. Jika lebih dari 200 orang, bank akan mengalami kesulitan dari sisi pengelolaan. Bank ini dikelola sendiri oleh warga miskin, di mana 90% pengurusnya adalah perempuan. Sebanyak 46% di antaranya adalah lulusan sekolah dasar dan 5% tidak melewatkan pendidikan sekolah formal. Meski demikian, omzet bank gakin di Jember mampu mencapai Rp 14 miliar dengan aset Rp 2,1 miliar. Pertumbuhan omzet selama tiga tahun terakhir rata-rata 260%. Sebuah pertumbuhan yang sangat spektakuler jika dilihat dari kacamata usaha. Sayang, nasibnya kini seperti telur di ujung tanduk. Empat tahun belum cukup bagi sebagian besar bank gakin untuk bisa mandiri. Hanya tujuh dari 29 Bank Gakin yang mampu menggunakan dana mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh Keberanian Revolusioner dan Niat Tulus&lt;br /&gt;Problematika yang tengah melanda bank gakin di Jember sebenarnya bisa menjadi potensi pasar yang prospektif. Termasuk bagi bank syariah di kota Jember : Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah. Dibutuhkan keberanian revolusioner dan niat tulus untuk mengambil alih peran Bank Jatim yang selama ini menjadi pengayom. Keberanian yang revolusioner dan niat yang tulus menjadi hal yang penting dalam konteks ini mengingat :&lt;br /&gt;Pertama, sekalipun prospektif karena pertumbuhannya yang pesat hingga 260%, membiayai bank gakin yang tidak lain adalah banknya orang miskin, tentu tak semenguntungkan jika membiayai usaha besar yang omsetnya jauh lebih besar. Juga jauh lebih menguntungkan dan aman jika dana bank disimpan dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia atau SBI. Faktor komersil ini yang mungkin menjadi salah satu pertimbangan Bank Jatim mau menarik dananya di bank gakin. Dengan sistem bagi hasilnya, bank syariah sebenarnya tidak akan rugi. Bukankah selama ini prinsip bagi hasil yang dijalankan bank syariah berdasarkan keuntungan riil di lapangan. Artinya, jika usaha yang dibiayai oleh bank gakin berhasil, bank syariah yang memberikan dana pinjaman juga akan memperoleh keuntungan. Hanya saja, karena pelakunya adalah unit usaha kecil, keuntungannya juga relatif kecil. Di sinilah perlu adanya niat tulus untuk memberdayakan ekonomi rakyat.&lt;br /&gt;Kedua, ini adalah moment untuk membebaskan umat dari jerat riba. Andai Bank Jatim benar-benar menarik modalnya, bisa jadi sebagian dari 2.200 anggota bank gakin yang harus mencari suntikan dana baru akan masuk dalam jebakan rentenir. Sangat disayangkan.&lt;br /&gt;Kalaupun Bank Jatim tidak jadi menarik dananya atau Pemkab Jember bisa mendapatkan bank/sponsor pengganti, fenomena maraknya bank gakin tetap menjadi peluang pasar yang prospektif bagi bank syariah. Usaha kecil yang dibiayai oleh bank gakin tidak akan selamanya menjadi usaha kecil. Pembinaan yang intensif dan dukungan modal yang memadai sangat mungkin mengantarkannya menjadi usaha besar tidak hanya dalam skala regional dan nasional, tapi juga internasional. Di new economy era seperti sekarang, semuanya serba mungkin. Tinggal apakah bank syariah berani menangkap peluang emas ini atau membiarkannya berlalu begitu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-8253652736365834553?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/8253652736365834553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=8253652736365834553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/8253652736365834553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/8253652736365834553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/07/beranikah-bank-syariah-menjadi-grameen.html' title='Beranikah Bank Syariah Menjadi Grameen Bank di Indonesia?'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-8544791927668085243</id><published>2009-06-28T22:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T22:06:30.750-07:00</updated><title type='text'>Saatnya Berasuransi!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Asya kuikutkan Asuransi Pendidikan di AJB Bumiputera 1912 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;dengan nilai tanggungan di Perguruan Tinggi Rp 30 juta, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;premi Rp 1,8 juta per semester selama 15 tahun”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demikian jawaban dari seorang teman melalui pesan singkat ketika saya menanyakan apakah ia sudah mempersiapkan asuransi pendidikan untuk putra-putrinya. &lt;/span&gt;Ya, saya memang tengah &lt;i&gt;hunting&lt;/i&gt; informasi mengenai asuransi pendidikan bagi dua putri saya. Bukan karena tengah mengikuti tren, tapi memang saya merasa sangat perlu untuk mempersiapkannya sejak dini sebagai bagian dari rencana mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak saya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Mungkin ini sedikit terlambat, tapi bukan tanpa sebab. Seperti kebanyakan orang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; pada umumnya, awalnya sayapun menganggap asuransi bukanlah hal yang penting untuk dijadikan prioritas. Baru terpikir setelah anak kedua lahir dan menyadari betapa kian mahalnya pendidikan yang berkualitas di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Alasan yang &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;, ini khas Indonesia sekali, asuransi khususnya pendidikan, terasa absurd karena diperuntukkan untuk sesuatu yang masih sangat “jauh” di masa depan yakni pendidikan anak-anak yang mungkin baru akan benar-benar dibutuhkan belasan tahun lagi. Alasan &lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt; tak kalah konservatif, seperti kebanyakan masyarakat yang masih awam, sayapun menganggap asuransi bukan pilihan investasi yang menguntungkan. Yang terjadi adalah sebaliknya, nilai uang akan semakin menurun dan bila jumlahnya tidak seberapa tidak akan memberi banyak manfaat saat pengembalian dan benar-benar dibutuhkan nanti. Sederhananya, asuransi hanya akal-akalan perusahaan asuransi untuk memanfaatkan dana kita saat nilainya masih tinggi dan produktif. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Hmmm, pemikiran yang perlu didekonstruksi karena zaman sudah semakin berubah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hal pertama yang saya lakukan sebelum mengambil keputusan terbaik dalam berasuransi sekaligus berinvestasi adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak hanya tentang asuransi tetapi juga bentuk investasi lain sebagai alternatif dan perbandingan. Saya tanya beberapa teman-teman yang tersebar di berbagai kota, hasilnya ternyata tak jauh beda dengan saya. Sebagian besar dari mereka belum memikirkan, sebagian lagi baru akan memikirkan dan hanya sedikit yang telah merealisasikan. Padahal kelompok yang saya ”survei” ini adalah masyarakat kelas menengah dengan latar pendidikan perguruan tinggi dan penghasilan yang lumayan. Tak salah ternyata kalau dikatakan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum sadar akan pentingnya asuransi. Sebagaimana disebutkan oleh Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia (FAPI), perbandingan antara premi dan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di Indonesia hanya 1,57 persen, sementara persentase negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina sudah di atas 5,5 persen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai asuransi pendidikan, saya juga mencari informasi mengenai “bentuk investasi” lain yang juga bisa digunakan sebagai dana persiapan untuk pendidikan anak-anak di masa depan. &lt;/span&gt;Salah satunya adalah investasi dalam bentuk emas batangan bersertifikat. Cukup menggiurkan karena nilainya yang hampir dipastikan akan selalu naik. Sumber lain memberikan informasi investasi dalam bentuk tanah yang diproduktifkan untuk pertanian sehingga bisa menghasilkan pendapatan yang cukup lumayan dalam periode tertentu. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada juga dalam bentuk ternak. Tawaran yang tak kalah menarik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah dipikir dan dipertimbangkan dengan seksama, pilihan jatuh pada asuransi pendidikan sebagai prioritas investasi saat ini. Bentuk investasi inilah yang saya rasa paling relevan dan kondusif dengan karakter dan psikologis saya yang mewakili budaya berasuransi masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; pada umumnya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; beberapa alasan yang melatarbelakangi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, asuransi adalah bentuk investasi yang memberi rasa “aman” karena adanya jaminan atau proteksi ketersediaan biaya pendidikan putra-putri jika terjadi sesuatu di luar keinginan dan perkiraan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain itu, dalam keadaan darurat, asuransi bisa “diuangkan” atau diambil sebagian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;, sifatnya yang terencana dan berjangka membuat saya bisa memutuskan berapa besar “investasi” yang saya inginkan sesuai dengan kemampuan. Apalagi dengan sistem auto debet dari tabungan, selain tidak ribet juga sangat membantu terakselerasinya budaya menabung sebagai prioritas. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Selama ini seperti masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; kebanyakan, menabung seringkali saya lakukan jika ada uang berlebih. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Alhasil, niatan menabung sering tidak terlaksana karena godaan konsumtif yang sangat besar. Auto debet yang biasanya dilakukan di awal bulan, mau tidak mau ”memaksa” saya untuk menabung di awal sebelum uang yang ada dipergunakan untuk kebutuhan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;, asuransi juga dapat memberi keuntungan seperti bentuk investasi lain.&lt;/span&gt; Fungsi asuransi sebagai penanggung risiko kini telah bergeser menjadi media investasi. Dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang tren kerja sama antarberbagai institusi keuangan guna menghasilkan produk gabungan yang menarik dan menguntungkan masyarakat juga pelaku industri asuransi tentunya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Salah satunya adalah kerja sama antara perusahaan asuransi dan institusi perbankan. Produk yang dihasilkan antara lain &lt;i&gt;Bank Insurance&lt;/i&gt; dan Unit Link atau &lt;i&gt;Universal Insurance&lt;/i&gt;. Kedua produk ini selain memberi proteksi juga memberikan peluang keuntungan investasi yang tak kalah menarik dibandingkan dengan tabungan dan deposito. Sangat pas untuk mereka yang ingin meraih keuntungan berinvestasi melalui asuransi. Sementara bagi saya yang mewakili keluarga Indonesia kebanyakan, asuransi pendidikan plus yang juga meng-cover asuransi kecelakaan dan kesehatan, menjadi pilihan yang cukup menarik. Tinggal menyesuaikan saja dengan tujuan dan kemampuan kita dalam berasuransi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan alasan &lt;i&gt;keempat&lt;/i&gt; yang tak kalah penting adalah adanya pilihan untuk berasuransi secara syariah. Saya tidak hanya ingin berasuransi untuk mencari rasa aman dan keuntungan investasi semata, namun juga ingin berasuransi dengan rasa aman dan nyaman secara spiritual. Tren syariah di semua aspek kehidupan termasuk dalam berasuransi, telah menjadi tuntutan sekaligus kebutuhan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Alhamdulillah, produk asuransi syariah kini bisa didapatkan hampir di semua perusahaan asuransi dan perbankan syariah. AJB Bumiputera 1912 misalnya sebagai perusahaan asuransi tertua di Indonesia, menjawab tantangan ini dengan mengeluarkan produk asuransi syariah. Salah satunya Mitra Iqra untuk jenis asuransi pendidikan. So, tunggu apalagi? Saatnya berasuransi untuk kehidupan dan masa depan yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-8544791927668085243?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/8544791927668085243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=8544791927668085243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/8544791927668085243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/8544791927668085243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/06/saatnya-berasuransi.html' title='Saatnya Berasuransi!'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-819493476328364781</id><published>2009-06-07T18:50:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T18:53:14.594-07:00</updated><title type='text'>Kemenangan Tidak Datang Begitu Saja</title><content type='html'>Everything is difficult but nothing is impossible. Segala sesuatu itu sulit tapi tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk menjadi seorang pemenang dalam kompetisi menulis. Sebenarnya, setiap orang bisa menulis dan setiap orang bisa menjadi pemenang.&lt;br /&gt;Meraih kemenangan, dalam konteks apapun termasuk dalam kompetisi menulis, seperti mendaki gunung yang terjal. Itulah hakikat sebuah kemenangan. Susah dicapai, melelahkan dan terkadang butuh waktu yang lama. Karenanya, perlu banyak persiapan yang matang karena perjalanan yang harus dilalui tidak mudah, banyak aral melintang, sangat melelahkan dan tidak selalu menjanjikan kemenangan. Semakin susah diraih, biasanya kemenangan akan terasa semakin manis dan indah.&lt;br /&gt;Semangat adalah modal awal yang harus kita miliki dalam setiap perjuangan. Kerja keras yang akan membantu kita mewujudkan segala impian dan hanya ijin Allah yang akan menentukan setiap keberhasilan. Semangat, meski berperan sangat penting bagi tercapainya sebuah kemenangan, tak akan berarti apa-apa jika tidak disertai langkah-langkah nyata. Jika Anda ingin belajar menulis, jika Anda ingin berkompetisi dan berharap menang, jangan hanya berkontemplasi dan bermimpi. Segera ambil pena atau ketik di keyboard dan tuangkan segala ide dan pemikiran yang ada di kepala. Awalnya mungkin susah dan membingungkan. Semangat yang besar untuk belajar dan menang harusnya dapat membantu anda melawan rasa itu. Saya sendiri sering dilanda putus asa baik dalam menemukan ide maupun dalam menyelesaikan sebuah tulisan ketika deadline semakin dekat. Sering merasa tidak mampu, merasa tidak menguasai, data kurang, atau ide yang tiba-tiba buntu. Kalau sudah begini, ingin rasanya melarikan diri dari arena peperangan. Tapi tentu saja, saya tak ingin menyerah apalagi jika garis finish sudah di depan mata.&lt;br /&gt;Untuk menjadi seorang penulis yang baik khususnya dalam rangka menjadi seorang pemenang dalam kompetisi menulis, membaca adalah kegiatan sekaligus prasyarat yang tidak bisa ditawar. Karena di sinilah sumber stock of knowledge kita. Membaca di sini tidak hanya dalam arti membaca teks (tulisan dari berbagai sumber dan bentuk), tetapi juga konteks (realitas).&lt;br /&gt;Beruntung sekali, sejak awal kuliah dulu saya bisa berteman dengan sekelompok mahasiswa yang sangat gila membaca. Selain buku-buku tentang ilmu politik, buku favorit mereka yang lain adalah buku-buku filsafat seperti tulisan Karl Max, Sigmund Freud, dsb. Sedikit banyak “virus” itu juga menular pada saya. Saya sempat begitu “tergila-gila” membaca buku-buku Karen Armstrong, Sang Ilmuwan Jenius. Demikian saya menyebutnya dulu. Agar tak tertinggal dengan bacaan teman-teman yang sudah lebih dulu terbiasa melahap buku-buku tebal, saya menjadikan diskusi sebagai cara lain untuk membaca. Saya aktif mengajak mereka berdiskusi tentang buku-buku baru yang mereka baca sehingga walaupun saya belum membacanya, sedikit banyak saya sudah tau. Jadi, gak kuin-kuin banget-lah.&lt;br /&gt;Selain semangat dan kerja keras yang besar, didukung oleh kegiatan membaca yang optimal, mengikuti lomba menulis juga memerlukan cost yang tidak sedikit. Pertama, waktu. Lomba menulis umumnya memiliki rentang waktu 1-2 bulan sejak pertama kali diumumkan sampai batas akhir pengumpulan naskah. Kurang lebih selama itu pula waktu yang kita punya sekaligus waktu yang harus kita korbankan di sela-sela kegiatan kita yang lain, baik sebagai pelajar, mahasiswa, dosen, wartawan atau siapa saja. Banyak orang melewatkan suatu lomba menulis padahal sudah punya ide yang bagus karena terbentur masalah waktu. Mereka merasa tak punya waktu. Dalam hal ini, diperlukan kemampuan untuk memenej waktu sebaik mungkin sehingga sebuah kesempatan bagus yang belum tentu akan berulang tidak lewat begitu saja. Cost kedua yang tak kalah penting dan menentukan adalah biaya. Mengikuti lomba menulis membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mulai dari penyediaan materi, hunting data di internet, biaya pengetikan, penyetakan, penggandaan, dll hingga pengiriman. Untuk sebuah lomba menulis paling tidak saya harus mengeluarkan dana sekitar 100-200 ribu rupiah. Nominal ini akan terasa besar dan memberatkan bagi sebagian orang terutama pelajar dan mahasiswa dengan uang saku pas-pasan. Cost yang besar seringkali pula menjadi beban tersendiri jika kemudian tidak menang. Oleh karena itu sekali lagi saya tekankan, jadikan aktualisasi dan apresiasi sebagai motivasi utama dalam mengikuti lomba menulis. Dengan begitu, kalaupun nantinya kita belum berhasil menang atau kemenangan yang kita dapat tidak seperti yang kita harapkan, InsyaAllah tidak akan terlalu kecewa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-819493476328364781?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/819493476328364781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=819493476328364781' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/819493476328364781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/819493476328364781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/06/kemenangan-tidak-datang-begitu-saja.html' title='Kemenangan Tidak Datang Begitu Saja'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-4156578205704499177</id><published>2009-06-07T14:57:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T15:00:30.542-07:00</updated><title type='text'>Menyongsong Tapal Kuda ‘Bersyariah’ Bersama Perbankan Syariah</title><content type='html'>Meski perbankan syariah telah hadir di Indonesia sejak tahun 1992 , ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengenal apa dan bagaimana perbankan syariah . Kondisi ini mengakibatkan kehadiran bank syariah di suatu wilayah tidak serta merta mendapat respon positif dari masyarakat. Harus ada kerja keras dan strategi yang jitu dari bank syariah sendiri untuk bisa menarik simpati dan partisipasi masyarakat. Inilah salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh bank-bank syariah di wilayah Eks Karesidenan Besuki yang dipioneeri oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI) diikuti Bank Syariah Mandiri (BSM) di Kota Jember.Dalam kurun waktu yang relatif singkat, kehadiran perbankan syariah di wilayah Eks Karesidenan Besuki mampu meraih prestasi perbankan yang cukup gemilang. Di tahun keduanya ini, bank syariah telah mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 250,84% dan 1.025,64% untuk pertumbuhan dana pembiayaan. Angka-angka yang cukup spektakuler jika dibandingkan dengan DPK total bank yang hanya 3,84% dan pertumbuhan pembiayaan total perbankan sebesar 31,95%. Akan tetapi, tanpa bermaksud mengurangi apresiasi terhadap prestasi yang telah dicapai bank syariah, ternyata jika persentase tersebut dinominalkan akan kita dapati gap yang cukup siginifikan antara bank syariah dan bank konvensional. Total pembiayaan bank syariah pada tahun 2003 sebesar Rp 2,8 miliar dan pada tahun 2004 meningkat menjadi Rp 32,4 miliar. Sedangkan pembiayaan total bank (bank umum dan BPR) mencapai Rp 2,4 triliun pada tahun 2003 menjadi Rp 3,2 triliun pada tahun 2004. Untuk dana pihak ketiga (DPK), pada tahun 2003 DPK bank syariah adalah Rp 2,3 miliar naik menjadi Rp 8,3 miliar pada tahun 2004. Sedangkan DPK total bank pada tahun 2003 sebesar Rp 3,9 triliun meningkat menjadi Rp 4,1 triliun pada akhir 2004 (data Kantor Bank Indonesia Jember).Peluang dan TantanganKesenjangan di atas dapat menjadi indikasi bahwa perbankan syariah masih belum bisa menggarap pangsa pasar yang sangat potensial di wilayah Eks Karesidenan Besuki secara optimal. Perbankan syariah masih seperti tamu di rumah sendiri mengingat bahwa 98,19% dari 4.777.005 jiwa penduduk di wilayah ini beragama Islam.Selain jumlah penduduk yang cukup banyak dan mayoritas adalah muslim, Eks Karesidenan Besuki merupakan wilayah yang luas (11.749,14 kilometer persegi) dengan empat kabupaten (Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi). Peta demografis ini saja sudah merupakan potensi pasar yang sangat potensial bagi pengembangan perbankan syariah. Kekentalan unsur religi dan tradisi dapat menjadi akselerator jika dapat diberdayakan dengan tepat. Realitas lain yang juga mengindikasikan prospektifnya pengembangan perbankan syariah di wilayah ini antara lain adalah besarnya jumlah umat Islam sekitar 98,19% dari 4.777.005 penduduk. Sebanyak 115.740 orang adalah santri yang tersebar di 622 pesantren. Dan hingga saat ini sudah ada kurang lebih 251 kopontren. Selain itu juga sudah berdiri 50 Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) yang uniknya justru merupakan prakarsa masyarakat setempat yang mempunyai komitmen untuk mengembangkan ekonomi syariah di kalangan masyarakat kcil ke bawah. Suatu pertanda bahwa telah muncul inisiatif dari bawah yang seharusnya dapat diakomodasi secara proaktif dari atas (khususnya oleh bank-bank syariah dan Bank Indonesia). Persoalannya sekarang bagaimana bank-bank syariah mampu menangkap peluang tersebut.Menggarap pasar potensial yang berpenduduk banyak dan tersebar di wilayah yang luas merupakan sebuah tantangan besar bagi perbankan syariah yang belum genap dua tahun berekspansi ke wilayah Eks Karesidenan Besuki. Belum lagi dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata perbankan syariah masih begitu asing bagi masyarakat setempat sehingga langkah yang ditempuh oleh perbankan syariah benar-benar harus dimulai dari titik nol. Meminjam istilah Hari Setiawan (Radar Jember, 11 April 2005), tahun-tahun pertama tak ubahnya seperti ‘membabat hutan’. Selain harus membabat hutan, bank-bank syariah di wilayah Tapal Kuda ini juga harus memiliki terobosan agar dapat ‘mencuri’ nasabah dari bank-bank konvensional. Selain dari data statistik di atas, indikasi belum optimalnya bank syariah menggarap pasar bisa juga kita lihat dari performance keseharian keduanya. Bank-bank konvensional favorit hampir selalu ramai dengan nasabah yang rela antri berjam-jam bahkan bersedia menunggu sebelum jam kantor dimulai. Berbeda jauh dengan bank-bank syariah yang sering terlihat sepi nasabah.Keterbatasan jaringan fisik juga menjadi tantangan besar untuk segera dipenuhi agar dapat menjangkau wilayah Eks Karesidenan Besuki yang cukup luas. Diperlukan terobosan baru agar pasar potensial tetap dapat digarap. Di wilayah potensial yang menjanjikan prospek masa depan cerah ini, bank syariah masih harus bekerja ekstra.Kendala Tantangan besar perkembangan perbankan syariah di wilayah Eks Karesidenan Besuki tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Kurangnya sosialisasi dan promosi serta strategi pemasaran yang tepat adalah kendala-kendala yang memang pada umumnya dihadapi oleh perbankan syariah hampir di semua wilayah Tanah Air. Sosialisasi merupakan suatu hal yang bersifat memberikan pemahaman kepada masyarakat akan hal yang baru. Sedangkan promosi merupakan alat yang digunakan untuk meningkatkan angka, dalam hal ini penjualan. Secara urnum, lembaga keuangan syariah memahami betul bahwa sosialisasi produk syariah harus pula diikuti dengan langkah melakukan promosi. Sebenarnya, segala bentuk sosialisasi dan promosi perbankan syariah di Tanah Air telah dilakukan. Sosialisasi dilakukan tiada henti melalui kerjasama dengan lembaga publikasi syariah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dan media. Bahkan ijtima Komisi Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) secara resmi telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan riba pada akhir 2003 lalu. Beragam sosialisasi tersebut juga telah diikuti oleh berbagai bentuk promosi mulai dari bentuk media seperti above the line (televisi, koran, majalah, tabloid, dan radio) serta didukung media bellow the line (event-event, seminar, brochure / leaflet, poster, spanduk, umbul-umbul, billboard). Meski demikian, anggaran promosi lembaga keuangan syariah masih relatif kecil dan belum memadai dibandingkan dengan bank konvensional . Arena persaingan menjadi semakin keras di tengah ‘booming’ bank-bank konvensional yang menawarkan beragam hadiah sangat menggiurkan. Daya pikat yang hingga saat ini jarang sekali kita temui pada kegiatan promosi dan strategi pemasaran bank-bank syariah.Kendala berikutnya adalah keterbatasan jaringan fisik bahkan di wilayah potensial seperti Eks Karesidenan Besuki ini. BMI mencoba menjembatani keterbatasan fisik ini dengan meluncurkan Shar-e Card . Sementara BSM mengeluarkan fasilitas SMS Banking . Dengan dua teroboson canggih ini diharapkan nasabah dua bank syariah tersebut tetap dapat melakukan berbagai transaksi perbankan tanpa harus ke kantor bank syariah. Meski demikian, dua solusi ini tidak serta merta menyelesaikan kendala fisik secara keseluruhan. Kedua fasilitas tersebut bagi sebagian masyarakat yang secara ekonomi dan akademis tergolong masyarakat menengah ke bawah, terkesan masih sangat spektakuler. Profesionalitas kinerja bank-bank syariah yang masih harus terus ditingkatkan agar memiliki daya saing terhadap bank konvensional adalah kendala yang juga harus segera diatasi oleh perbankan syariah. Karena meski masyarakat sudah tahu dan paham, jaringan fisik juga sudah tersedia dan mudah diakses, namun jika fasilitasnya belum mampu memenuhi tuntutan dan kebutuhan up to date dari masyarakat, bisa jadi masyarakat masih belum bisa mengucapkan “selamat tinggal” pada bank-bank konvensional yang profesional. Hingga saat ini berdasarkan pengamatan penulis khususnya terhadap fasilitas perbankan Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri di Kota Jember, kedua bank tersebut sebenarnya telah cukup memiliki dan akan terus mengembangkan fasilitas perbankan terkini. Hanya saja karena kurangnya sosialisasi dan promosi terhadap masyarakat luasnya khususnya bagi umat Islam sendiri, banyak yang tidak tahu bahkan tidak menduga jika bank syariah ternyata sudah sedemikian modern. SolusiKetua Asosiasi Pelaku Ekonomi (Aspek) Jember, HM Saifuddin SE, menawarkan beberapa solusi bagi kendala-kendala pengembangan perbankan syariah di wilayah Tapal Kuda ini (Radar Jember, 11 April 2005). Dari identifikasi masalah di atas dan realitas yang ada di lapangan, penulis juga mencoba turut memberikan sumbangsih pemikiran bagi pengembangan perbankan syariah khususnya di wilayah Eks Karesidenan Besuki. a. Sosialisasi dan Promosi Sosialisasi dan promosi merupakan ujung tombak keberhasilan pengembangan perbankan syariah di manapun berada. Bagaimana masyarakat akan bertransaksi jika kenal saja tidak. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar sosialisasi dan promosi menjadi efektif dan tepat sasaran yakni : strategi, frekuensi dan inovasi.Hingga saat ini iklan merupakan cara paling umum yang terbukti memiliki power luas biasa dalam penyampaian informasi sekaligus untuk mempengaruhi psikologis dan pilihan masyarakat. Menyadari kekuatan iklan tersebut, bank-bank konvensional dengan sadar menganggarkan dana iklan dalam nominal yang tidak sedikit. Iklan mereka begitu ramai menghiasi beragam media yang mudah diakses masyarakat dari semua kalangan. Tidak hanya itu, mereka juga berlomba-lomba menawarkan beragam hadiah yang sangat menggiurkan. Tuntutan realitas mengharuskan perbankan syariah untuk juga beriklan dengan frekuensi yang cukup tinggi. Konsekuensinya jelas anggaran iklan harus ditingkatkan. Iklan dengan frekuensi tinggipun belum menjamin bahwa masyarakat akan langsung terpengaruh. Harus ada inovasi dalam sosialisasi dan promosi. Inovasi dapat terinspirasi dari karakter dan kultur masyarakat setempat. Mayoritas masyarakat Eks Karesidenan Besuki yang mayoritas beragama Islam dan bersuku Madura. Ini berarti bahwa bank-bank syariah dapat menempuh metode pendekatan secara psiko-religius sekaligus tradisional yang dapat menyentuh unsur lokalitas masyarakat.Penggarapan pangsa pasar potensial di wilayah Eks Karesidenan Besuki ini dapat diawali dengan terlebih dahulu membidik segmen masyarakat yang tidak hanya potensial untuk direkrut sebagai nasabah tetapi juga memiliki potensi untuk menyebarluaskan informasi dan menarik segmen masyarakat luas untuk mengenal dan menjadi nasabah bank syariah. Segmen masyarakat prioritas ini dapat terdiri dari kalangan akademisi, pengusaha muslim, tokoh agama dan masyarakat. Lalu bagaimana pelaksanaan teknis konkret dari penggarapan pangsa pasar potensial tersebut? Syaifuddin memberi masukan sangat berharga untuk masalah ini : staf bank syariah harus bersikap proaktif dan inovatif. Dengan kalimat lain, mereka harus turun ke lapangan di mana calon customer potensial berada dan menjalankan peran sebagai Public Relation (PR) bank syariah. Sebuah terobosan yang menuntut semangat dan kerja keras ekstra. Sebagai supply power agar pegiat bank syariah selalu menjadi petarung tangguh di medan laga, hendaknya potensi besar ekspansi usaha di wilayah Tapal Kuda ini tidak hanya dipandang dari sudut ekonomi dan bisnis semata tetapi juga dilihat dari kacamata dakwah. Semangat dakwah mengajarkan konsep peerjuangan yang tidak kenal menyerah dan putus asa. Dengan misi dakwah ini juga akan memperbesar akses bank syariah untuk bersosialisasi dan berpromosi melalui sarana-sarana yang ada dan marak di wilayah Eks Karesidenan Besuki dalam batasan yang diperbolehkan. Suatu kesempatan yang tidak akan pernah didapati oleh bank konvensional.Selain bersikap proaktif dalam menggarap pasar, inovasi juga dapat melalui pendekatan yang menyentuh unsur religiusitas dan lokalitas masyarakat mengingat masyarakat di wilayah Eks Karesidenan Besuki masih memiliki dan mempertahankan nilai-nilai religius dan lokalitas yang cukup fanatis. Dalam hal religi, masyarakat pada umumnya masih memiliki fanatisme yang cukup tinggi dan kepatuhan yang besar terhadap tokoh agama. Fanatisme tersebut mudah ‘dirangsang’ dengan munculnya isu-isu yang memiliki nilai kontroversial dengan agama seperti isu haram terhadap sistem bunga. Terlebih jika yang mengemukakan hal tersebut adalah alim ulama yang sangat berpengaruh. Hal ini dapat menjadi bargaining yang cukup berpower untuk mengimbangi “booming” iklan dan hadiah yang ramai ditawarkan oleh bank-bank konvensional. Jika sudah masuk dalam kategori “haram”, masyarakat yang fanatis tidak akan interest pada hadiah apapun yang ditawarkan. Meski demikian, adalah kurang profesional dan tidak akan berkembang optimal jika cukup mengandalkan isu halal-haram.b. Jaringan FisikJaringan fisik memang merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan dalam pengembangan usaha. Dalam skala nasional, pengembangan jaringan perbankan syariah di Indonesia pasca reformasi telah mencapai angka pertumbuhan di atas 50% dan hingga kini terus berkembang pesat. Namun, penyebarannya belum merata dan mampu menjangkau seluruh wilayah Tanah Air bahkan di wilayah yang cukup potensial sekalipun termasuk di wilayah Eks Karesidenan Besuki yang baru memiliki dua bank syariah di Kota Jember yakni Bank Muamalat Indonesia (sudah memiliki satu kantor kas di luar kota Jember) dan Bank Syariah Mandiri.Jaringan fisik menjadi bukti konret eksistensi perbankan syariah di suatu wilayah. Akan tetapi, pengadaan jaringan fisik membutuhkan banyak modal termasuk di dalamnya sumber daya manusia. Hal ini mengakibatkan penambahan jaringan fisik tidak selalu mudah diwujudkan. Namun demikian, hal ini hendaknya jangan sampai menjadi faktor penghambat ekspansi usaha sehingga mengharuskan adanya upaya pencarian solusi dan terobosan untuk mengatasinya. Sebagaimana tawaran dari Saifuddin, kemampuan staf bank syariah menjadi PR di lapangan potensial yang belum ada jaringan fisik bank syariah dapat memiliki fungsi ganda sebagai pengganti jaringan fisik. Cara ini dapat ditambah dengan pengadaan “kantor kas keliling” di hari-hari tertentu untuk memudahkan nasabah melakukan transaksi.c. Peningkatan ProfesionalitasSebagaimana telah dipaparkan pada point (a) bahwa isu halal-haram dapat menjadi moment menguntungkan yang dapat mengakselerasi pengembangan perbankan syariah. Langkah selanjutnya adalah meningkatkan profesionalitas perbankan syariah baik SDM, sumber daya teknologi, fasilitas, pelayanan maupun peran dan fungsinya dalam perbankan dan perekonomian secara luas. Peningkatan profesionalitas perbankan syariah memiliki aspek yang cukup luas. Selain yang telah disebutkan di atas, profesionalitas dapat ditumbuhkembangkan dari karakter dan prinsipnya yang unik yang tidak dimiliki oleh bank konvensional. Antara lain seperti prinsip bagi hasil (Profit Sharing), konsep Good Corporate Governance Plus (GCG+), prudential principle (prinsip kehati-hatian), efektivitas fungsi intermediasi dan sistem pengawasan yang berlapis-lapis (multilyer audit). Sistem bagi hasil yang menjadi prinsip dasar perbankan syariah sekaligus yang membedakannya dengan sistem konvensional memiliki nilai keadilan yang lebih nyata dan stabil bahkan dapat menjembatani perekonomian masyarakat menuju real economy. Keunggulan lain adalah konsep Good Coorporate Governance-nya (GCG) yang lebih unggul dari bank konvensional karena selain bertanggung jawab pada pihak manajemen juga bertanggung jawab pada Sang Khalik. GCG Plus ini terbukti cukup efektif mengantisipasi munculnya kecurangan, manipulasi maupun kejahatan perbankan yang akhir-akhir ini marak menghiasi dinamika perbankan nasional. Sampai saat ini prinsip kehati-hatian bank syariah juga terbukti baik dengan sedikitnya kasus dan persentase kredit macet. Berbagai keunikan yang sekaligus menjadi keunggulan perbankan syariah tersebut telah mengakselerasi profesionalitas perbankan syariah yang manfaatnya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat dan negara. Buktinya dengan mudah dapat kita lihat dalam kehidupan sehari. Perbankan syariah semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai bank yang bersih, sehat dan mampu menjalankan fungsi intermediasi dengan cukup baik. Sementara itu, perbankan nasional justru semakin ramai dengan berbagai kasus perbankan mulai dari kredit macet hingga korupsi di kalangan manajemen . Peran Bank Syariah Di Eks Karesidenan BesukiSebagai wilayah yang luas dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dan memiliki sarana keagamaan yang cukup banyak (662 pondok pesantren dan 39.641 masjid/mushalla), sudah sepatutnyalah jika wilayah Tapal Kuda ini juga “bersyariah” dalam aspek perekonomian khususnya perbankan. Menghadapi peluang dan tantangan tersebut, perbankan syariah memiliki peran sangat signifikan di wilayah Eks Karesidenan Besuki yakni : pertama, mengawal langkah hijrah masyarakat menuju kehidupan perekonomian dan perbankan yang sesuai syariah. Sebagaimana kita ketahui bersama hingga saat ini sistem konvensional (riba/bunga) masih sangat mendarah daging dalam kehidupan masyarakat termasuk kalangan masyarakat muslim sendiri.Peran selanjutnya adalah menggerakkan ekonomi rakyat khususnya kalangan menengah ke bawah yang selama ini masih belum memiliki akses atau belum terjangkau oleh bank-bank konvensional maupun lembaga bantuan keuangan sejenis. Dalam hal ini, bank-bank syariah harus lebih mengoptimalkan fungsi intermediasinya yang selama ini terbukti cukup berhasil dan lebih baik dari bank konvensional. Wilayah Eks Karesidenan Besuki memiliki potensi ekonomi kerakyatan yang cukup besar baik dari sektor pertanian, perikanan (nelayan) maupun usaha rakyat (home industries).Dalam skala yang lebih luas, perbankan syariah turut berperan dalam membangkitkan kembali perekonomian dan perbankan di wilayah Eks Karesidenan Besuki sebagai bagian integral dari perekonomian dan perbankan nasional yang sempat collapse pasca krisis ekonomi pada tahun 1997. Lebih spesifik, perbankan syariah juga memiliki peran untuk menjadikan wilayah Eks Karesidenan Besuki sebagai salah satu pilar utama bagi perekonomian Islam di kemudian hari. Peran Bank IndonesiaHadirnya perbankan syariah di wilayah Eks karesidenan Besuki memiliki prospek masa depan yang cerah sejalan dengan berbagai peluang dan tantangan besar yang turut mengiringinya. Dalam hal ini, Bank Indonesia khususnya Bank Indonesia Jember memiliki peran yang sangat penting dan besar pengaruhnya bagi perkembangan perbankan syariah di wilayah ini. Tugas dan tanggung jawab Bank Indonesia antara lain: 1. Peran Regulasi, pentingnya peran BI sebagai regulator bertolak dari salah satu masalah utama dalam pengembangan perbankan syariah yakni sangat perlunya penyempurnaan hukum perbankan syariah dan yang terkait secara lebih komprehensif, akomodatif, sistematis dan mampu menjawab tantangan pasar. 2. Peran Edukasi dan SosialisasiMasih minimnya SDM perbankan syariah mengharuskan BI mengoptimalkan peran edukasinya dalam menciptakan SDM-SDM syariah yang handal baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Begitu pula dalam mengatasi masalah sosialisasi yang hingga kini masih menjadi salah satu kendala signifikan pengembangan perbankan syariah terutama tidak hanya karena keterbatasan SDM dan biaya, tetapi dihadapkan juga pada realitas bahwa perbankan syariah masih begitu asing bagi masyarakat dan kalangan dunia usaha terlebih di daerah-daerah yang belum atau baru saja memiliki bank syariah di wilayahnya.3. Peran Kordinasi Realitas yang kurang menguntungkan di lapangan menunjukkan bahwa subjek-subjek perbankan syariah khususnya bank masih belum memiliki sistem kordinasi yang baik; antara satu dengan yang lain masih lebih sering berjalan sendiri-sendiri secara individual, padahal adanya kordinasi dan kebersamaan langkah akan semakin mengakselerasi pengembangan perbankan syariah sendiri. Belum lagi kemampuan subjek-subjek tersebut masih belum optimal dalam menjalin hubungan kemitraan maupun aliansi dengan pihak-pihak lain yang berkompeten baik lembaga perbankan, lembaga keuangan, perusahaan dsb baik yang beroperasi secara syariah maupun yang non syariah. Dalam hal ini, BI perlu merangkul semua pihak yang terkait dan berkompeten dalam pengembangan perbankan syariah. Perangkulan itu dilakukan dengan tujuan peningkatan akseptabilitas perbankan syariah di kalangan dunia usaha baik oleh pengusaha besar maupun kecil, peningkatan dukungan kebijakan oleh berbagai lembaga otoritas keuangan dan sekuritas di Tanah Air termasuk di daerah-daerah yang baru terekspansi perbankan syariah, serta peningkatan dukungan jasa profesional dari berbagai lembaga profesional yang potensial meningkatkan kredibilitas perbankan syariah. 4. Peran SupervisiMaraknya kasus perbankan akhir-akhir ini juga patut diwaspadai oleh perbankan syariah meski perbankan syariah memiliki keunikan sekaligus kelebihan yang membuatnya memiliki imunitas lebih dibandingkan bank konvensional serta memiliki dewan pengawas dan pengontrol seperti Dewan Pengawas Syariah dan Dewan Syariah Nasional yang tidak dimiliki oleh sistem perbankan konvensional, itu belum menjamin tidak terjadinya pelanggaran dan kekeliruan. Dalam hal inilah peran supervisi BI sebagai otoritas pengontrol sangat diperlukan. KesimpulanWilayah Eks Karesidenan Besuki menyimpan banyak potensi yang sangat mendukung bagi akselerasi pengembangan perbankan syariah ke depan. Berbagai potensi itu antara lain wilayah yang luas, penduduk yang banyak, psiko-religius masyarakat yang mayoritas beragama Islam, keberadaan beberapa institusi pendukung seperti kopontren dan BMT serta sektor perekonomian rakyat yang cukup banyak dan beragam.Sayangnya, potensi itu tidak serta merta mampu diberdayakan seiring dengan hadirnya bank-bank syariah di wilayah ini. Meski mampu meraih prestasi yang cukup spektakuler dalam waktu yang relatif singkat, perbankan syariah belum memiliki porsi yang signifikan dalam dinamika perbankan regional terhadap bank konvensional khususnya dalam penggalangan dana pihak ketiga dan dana pembiayaan. Beberapa kendala di lapangan harus segera diantisipasi antara lain masalah sosialisasi dan promosi baik dalam hal strategi, frekuensi maupun inovasi, begitu juga dengan kendala jaringan fisik dan peningkatan profesionalitas kerja. Beberapa solusi sudah di depan mata dan sangat mungkin untuk direalisasikan. Persoalannya sekarang bagaimana perbankan syariah mau bekerja ekstra untuk menggarap pasar potensial tersebut. Dalam hal ini peran Bank Indonesia Jember turut menjadi bagian yang menentukan. Dengan strategi, kerja ekstra dan kerja sama dengan pihak-pihak yang berkompeten, Insya Allah Eks Karesidenan Besuki yang bersyariah akan segera terwujud.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-4156578205704499177?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/4156578205704499177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=4156578205704499177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/4156578205704499177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/4156578205704499177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/06/menyongsong-tapal-kuda-bersyariah.html' title='Menyongsong Tapal Kuda ‘Bersyariah’ Bersama Perbankan Syariah'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-9171949933929079749</id><published>2009-06-07T14:56:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T14:57:48.531-07:00</updated><title type='text'>Dilema Ibu Jika Si Kecil Harus Diasuh Pembantu</title><content type='html'>Bagi sebagian wanita yang bekerja, menitipkan anak pada pembantu (pengasuh) seringkali menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Beragam perasaan kerap berkecamuk, mulai sedih, khawatir, takut dsb, kala pilihan itu harus diambil. Inilah share beberapa teman yang menarik perhatian saya beberapa waktu lalu. Sedih adalah perasaan pertama yang umumnya para Ibu rasakan ketika anak harus ”berpindah pengasuhan” sementara waktu pada orang lain. Tak jarang Ibu menangis sejak langkah pertama meninggalkan rumah bahkan hingga sampai di tempat kerja. Perasaan berikutnya yang juga kerap menghinggapi adalah perasaan takut dan khawatir karena pada umumnya para pembantu atau pengasuh tersebut adalah orang asing yang tidak dikenal sebelumnya. Keamanan, kasih sayang dan pendidikan seringkali menjadi tiga masalah utama yang menjadi sumber kekhawatiran Ibu. Kadang muncul perasaan takut akan ada apa-apa pada anak saat Ibu tidak di rumah seperti dibentak, dimarahi atau bahkan dipukul jika mereka berulah atau melakukan kesalahan. Bukan tidak mungkin akan sekali tersirat juga di benak Ibu tentang penculikan yang cukup santer disorot media dalam beberapa waktu terakhir. Tak adanya hubungan kekerabatan juga kadang memunculkan kekhawatiran pembantu hanya akan ala kadarnya saja menyayangi dan mengasuh anak kita, sebatas formalitas atau bergantung pada besarnya salary yang mereka terima. Masalah pendidikan juga sering membuat para Ibu khawatir. Para pengasuh yang pada umumnya berpendidikan rendah dikhawatirkan akan ”menurunkan”, ”menularkan” atau ”mengajarkan” ilmunya pada anak-anak kita. Kekhawatiran yang sangat beralasan dan sangat mungkin terjadi karena kadang secara kuantitas mereka lebih banyak bersama anak-anak kita di waktu-waktu berkualitas anak yakni dari pagi hingga siang atau sore, saat di mana anak lebih banyak bermain dan ”belajar”. Sedangkan di malam hari di mana para Ibu umumnya di rumah, anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beristirahat. Perasaan lain yang juga kerap muncul adalah perasaan ”cemburu” jika anak nantinya menjadi lebih dekat dengan pembantu daripada Ibunya sendiri. Terlebih jika sejak usia sangat dini, antara 2-3 bulan, mereka sudah diasuh pembantu.Seorang teman saya yang bekerja lima hari dalam seminggu dari jam tujuh pagi hingga jam lima sore, merasa menjadi Ibu Nomor Dua saat anaknya demam ketika ditinggal mudik oleh pembantunya. Berbagai obat dan pengobatan sudah diberikan namun demam sang anak tak juga mengalami perubahan berarti. Demam itu ”sembuh” ketika si anak kembali pada pangkuan sang pembantu.Sementara teman saya yang guru merasa prihatin atas sikap anaknya ketika diajak belajar. Si anak nyaris tak merespon ketika si Ibu menawarkan buku anak-anak yang umumnya atraktif menarik perhatian si kecil. Sebaliknya, si anak begitu antusias dan mudah akrab dengan peralatan dapur dan aktivitasnya seperti mencuci piring, menyapu, mengepel lantai dan sebagainya.Teman saya yang lain merasa sedih sekaligus malu dalam sebuah acara keluarga ketika si anak yang tiba-tiba ketakutan dan menjerit entah karena apa, spontan memanggil dan memeluk pembantu padahal si Ibu berada lebih dekat dengan sang anak saat accident terjadi. Spontan hampir semua orang di acara tersebut tercengang, entah apa yang mereka pikirkan. Saya bisa bayangkan bagaimana perasaan teman saya kala itu. Keadaan yang lebih ekstrim juga pernah saya temui di mana si anak menganggap dan memanggil si pembantu dengan sebutan ”Ibu” dan justru merasa asing dengan Ibu-nya sendiri. Wow!Cerita-cerita di atas mungkin hanya sebagian dari nilai minus jika anak terpaksa diasuh pembantu. Saya yakin, sebagaimana beberapa teman telah mengalaminya sendiri, pasti ada solusi atau langkah-langkah antisipasi untuk menghindari atau mereduksi berbagai kekhawatiran dan masalah di atas. Seperti yang dilakukan seorang teman dengan sesekali mengaktifkan telpon di rumah tanpa sepengetahuan si pembantu untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi dengan si buah hati saat ia di kantor.Tak kita pungkiri, pasti ada nilai plus dan manfaat yang bisa diperoleh dalam burden sharing pengasuhan anak dengan pembantu. Hal yang paling umum dikemukakan teman-teman adalah melatih anak lebih mandiri. Manfaat lainnya adalah memberi si Ibu kesempatan untuk memiliki waktu bagi dirinya sendiri, anggota keluarga yang lain dan beraktualisasi.Mungkin ada yang ingin share atau memberi masukan buat para Ibu yang mengalami dilema ini? Semoga bermanfaat untuk kita semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-9171949933929079749?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/9171949933929079749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=9171949933929079749' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/9171949933929079749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/9171949933929079749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/06/dilema-ibu-jika-si-kecil-harus-diasuh.html' title='Dilema Ibu Jika Si Kecil Harus Diasuh Pembantu'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-7399176162263586933</id><published>2009-06-07T00:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T00:13:21.327-07:00</updated><title type='text'>Penulis Besarpun Pernah Gagal</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Tidak ada orang besar yang tiba-tiba menjadi besar tanpa berproses. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Bahkan beberapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di antaranya yang melegenda harus mengalami kegagalan berulang kali. Salah satu contoh yang sangat mengesankan saya adalah kisah Soichiro Honda. Semangatnya untuk tidak menyerah menghadapi kegagalan demi kegagalan bahkan kehancuran demi kehancuran, sangat luar biasa. Begitu pula dengan kisah beberapa tokoh lain yang juga sangat inspiratif dalam meraih kesuksesan masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-US"&gt;Seperti Abraham Lincoln, Sir Winston Churchill, Helen Keller, Thomas Alva Edison dsb. Segelintir orang yang meraih kemenangan sejati karena tidak takut untuk berkali-kali bangkit lagi ketika mereka jatuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sang Pemenang Sejati, seperti tokoh di atas juga bisa kita temui dalam dunia menulis. Sederet nama yang pantang menyerah untuk membuktikan eksistensi diri sebagai penulis sekaligus pemenang sejati. Joane Kathleen Rowling atau yang lebih populer dengan J.K.Rowling misalnya. Sama seperti Soichiro Honda, mungkin kita lebih mengenal kesuksesan Rowling daripada penolakan demi penolakan terhadap karya &lt;i style=""&gt;masterpiece&lt;/i&gt;nya, &lt;i style=""&gt;Harry Potter&lt;/i&gt;. Harry Potter yang telah membuat Rowling memiliki kekayaan melebihi kekayaan Ratu Inggris itu dulu pernah ditolak oleh 12 penerbit sebelum kemudian diterbitkan oleh sebuah penerbit kecil, &lt;i style=""&gt;Boomsbury&lt;/i&gt;, setahun kemudian. Tidak putus asa terhadap penolakanlah yang membuat Rowling seperti sekarang. Kini, karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam 61 bahasa di 200 negara dengan ratusan juta eksemplar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Contoh lain adalah Dan Brown yang terkenal dengan karya kontroversialnya, The Da Vinci Code. Karya yang telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa sebanyak 60,5 juta eksemplar di seluruh dunia tersebut menurut New York Times memberikan penghasilan sebanyak 250 juta dollar pada Brown. The Da Vinci Code adalah karya keempat Brown yang sempat diragukan oleh penerbit &lt;i style=""&gt;Simon &amp;amp; Shuster&lt;/i&gt; sebelum kemudian Brown pindah ke penerbit lain, &lt;i style=""&gt;Doubleday&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Hampir semua penulis-penulis besar yang mencengangkan dunia pernah mengalami kegagalan demi kegagalan sebelum kemudian mereka dikenal sebagai penulis besar seperti sekarang. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari kegagalan orang-orang besar di atas, banyak hikmah yang bisa kita ambil. &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, kegagalan atau kekalahan adalah hal yang biasa dan bukan akhir dari segalanya. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, kegagalan sebagaimana sering dikatakan dalam nasehat klasik sebagai kesuksesan yang tertunda, nampaknya benar adanya. Dari kegagalan kita dapat belajar tentang apa kekurangan dan kelemahan diri sehingga kita belum layak menyandang gelar juara. Dari sanalah kita bertolak untuk berbuat lebih baik lagi sampai bisa meraih kemenangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-7399176162263586933?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/7399176162263586933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=7399176162263586933' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7399176162263586933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7399176162263586933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/06/penulis-besarpun-pernah-gagal.html' title='Penulis Besarpun Pernah Gagal'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-4260186244004388852</id><published>2009-06-07T00:10:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T15:04:08.864-07:00</updated><title type='text'>Seluk Beluk tentang Lomba Menulis</title><content type='html'>&lt;div class="Section1"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dear All,&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam kesempatan ini aku mau posting sebagian dari isi How To Be The Winner On Writing Competition. Buku itu sebenarnya terdiri dari enam “catatan”. Dua di antaranya akan ku-share dengan kalian di sini, yakni catatan ketiga tentang Seluk Beluk Lomba Menulis dan dan sebagian dari catatan kelima yang ber-tittle Di Balik Kemenangan (Behind The Winning). Aku hanya ingin berbagi sedikit yang kupunya, tak bisa lewat buku beneran karena ditolak penerbit, lewat blog-pun jadi &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Selamat membaca, semoga bermanfaat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kenali Diri, Gali Potensi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mungkin banyak di antara kita yang hingga kini belum bisa membaca potensi yang Allah karuniakan pada diri kita. Percayalah bahwa setiap makhluk diciptakan dengan potensinya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Jika kita termasuk orang yang belum bisa membaca potensi diri, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenal diri. &lt;i&gt;Sesorang tak akan mengenal Tuhannya sebelum ia mengenal dirinya&lt;/i&gt;. Bagaimana cara mengenal diri? Pertama, tanyakan apa yang Anda suka. Kedua, tanya apa yang Anda inginkan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Ketika Ayat-ayat Cinta Habiburrahman Elshirazy dan Laskar Pelangi Andrea Hirata meledak di pasaran, saya termasuk orang yang juga berambisi membacanya. Ada tiga motivasi besar yang melatarbelakangi. Pertama, antara 10-15 persen motivasi saya adalah ingin tau alur ceritanya; sekitar 30 persen lainnya saya ingin belajar bagaimana cara dan karakter tulisan mereka sebagai referensi. Sedangkan lebih dari 50 persen sisanya, saya ingin menulis dan menghasilkan karya nyata seperti mereka. Ya, motivasi terbesar saya membaca buku-buku mereka adalah motivasi yang berorientasi pada produksi, sementara tujuan konsumtif hanya menempati sejumlah kecil persen saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Bakat seseorang juga bisa dinilai dari caranya menyikapi keadaan. Orang yang memiliki bakat terhadap suatu bidang, biasanya ia bisa melihat peluang dari bidang yang diminatinya tersebut. Suatu penglihatan atau &lt;i&gt;feeling&lt;/i&gt; yang mungkin tak terlihat, tak terpikirkan atau bahkan dianggap tidak mungkin oleh orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Jika Anda sudah mengenal diri dan potensi yang Anda miliki, maka saatnya untuk focus dan membangun impian. Teruslah berlatih dan jangan pernah menyerah. Jangan pula melewatkan kesempatan untuk menjadi seorang pemenang. Formula ini berlaku pada bidang apapun yang Anda minati. Termasuk dunia menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Khusus untuk bidang menulis, ada banyak hal pada diri kita yang sebenarnya dapat kita maksimalkan untuk mendukung minat dan bakat yang satu ini. Potensi yang barangkali belum kita sadari atau bahkan selama ini lebih kita kenali sebagai kekurangan diri. Sebagai contoh, sejak kecil saya suka melamun. Dalam persepsi umum, melamun identik dengan berdiam diri dengan tatapan kosong, alias bengong. Suatu keadaan yang dikhawatirkan akan berpotensi masuknya makhluk lain pada diri yang bersangkutan. Pendapat dan kritik terhadap hobi saya yang satu ini sempat juga membuat saya khawatir dan mencoba membatasi diri melamun agar jangan sampai “kerasukan”. Tapi lama-lama setelah saya bisa berpikir dengan sedikit lebih cermat, apa yang harus saya khawatirkan dengan “melamun” berlama-lama? Kalaupun orang lain menilai itu terlihat &lt;i&gt;blank&lt;/i&gt;, saya merasa tidak demikian. Ketika terlihat melamun, memakai istilah yang sedikit kreatif, sebenarnya saya sedang berimajinasi; memikirkan sesuatu atau sedang berkomunikasi secara intrapersonal dengan diri sendiri. Dan saya rasakan, begitu banyak manfaat yang bisa saya dapatkan dari kegiatan “diam” tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Hal lain dalam diri yang sebelumnya saya anggap sebagai kelemahan tetapi kemudian ternyata memiliki manfaat yang luar biasa adalah tipologi saya yang sangat perasa. Sejak kecil pula, saya sudah terbiasa memasukkan hal-hal kecil baik perkataan, perbuatan atau peristiwa, ke dalam hati. Memikirkannya berhari-hari bahkan berminggu-minggu hingga tak enak makan dan tidur bahkan tak jarang diikuti dengan menangis yang juga bisa berlangsung lama. Keluarga banyak menasehati agar kebiasaan yang satu ini dikurangi karena menyiksa diri sendiri. Memang benar apa kata mereka. Masalahnya saya tidak bisa begitu saja mengusirnya, sifat ini seolah sudah menyatu dengan diri saya. Seiring dengan proses pengenalan diri yang terus menerus saya lakukan dan percaya bahwa Allah memberikan sesuatu bukan tanpa alas an dan tujuan, Alhamdulillah ternyata kebiasaan yang dulu saya anggap sebagai kelemahan dan menyiksa diri, justru sangat membantu saya dalam mengembangkan hobi dan aktivitas saya menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Berperasaan berlebihan yang dulu saya gunakan untuk merasai segala sesuatu yang terjadi, kini saya gunakan secara selektif hanya untuk hal-hal yang memiliki nilai manfaat. Merasai dengan mendalam hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa atau bahkan tak terpikirkan oleh orang kebanyakan menjadi sebuah ide besar untuk sebuah tulisan yang ternyata kemudian beberapa kali justru menghantarkan saya menjadi pemenang dalam kompetisi menulis. Berperasaan secara berlebihan kini sangat membantu saya menangkap banyak inspirasi yang berserakan di sekitar kita. Selain melamun dan berperasaan secara berlebihan, saya percaya masih banyak potensi dalam diri kita yang bisa kita gali dan kemudian dioptimalkan untuk mendukung bakat dan minat kita dalam bidang tertentu. Anda yang suka bicara, mungkin berbakat menjadi MC atau wartawan. Anda yang suka berteman, bisa memanfaatkan itu sebagai jaringan yang potensial untuk bidang pemasaran dan sebagainya. Percayalah, bahwa Allah mengaruniakan segala sesuatu bukan tanpa tujuan dan alasan. Jika setelah kesulitan pasti ada kemudahan, maka InsyaAllah di balik kekurangan juga ada kelebihan. Bergantung sisi mana yang ingin lebih kita tonjolkan. Bergantung pula sebesar apa upaya kita untuk mengarahkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Berkompetisi, Siapa Takut?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Ada banyak cara dan sarana untuk mengaktualisasikan diri dalam dunia tulis menulis. Untuk yang suka fiksi, bisa mengaktualisasikannya dalam bentuk cerpen atau novel. Mengirimkannya ke media atau menerbitkannya menjadi sebuah buku. Untuk yang suka menulis artikel ilmiah populer, media cetak memberi ruang cukup terbuka untuk beraktualisasi diri. Ada satu sarana lagi yang bisa dimanfaatkan baik untuk yang suka fiksi atau tulisan ilmiah populer, yakni kompetisi menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Siapapun bisa menjajal kemampuan diri dalam menulis melalui kompetisi ini. Anda yang hobi menulis, atau Anda yang bingung tidak tau harus ke mana mengirimkan tulisan untuk mendapat apresiasi, atau Anda sekalipun yang merasa tak bisa menulis namun ingin belajar menulis, bisa menjadikan ajang ini sebagai sarana belajar, aktualisasi sekaligus apresiasi diri. Bagi yang memang hobi dan sudah bisa menulis, mungkin tidak terlalu sulit untuk melangkah sedikit lagi menuju arena kompetisi. Namun bagi yang baru mulai belajar dan menemui sekian kendala untuk menulis, kompetisi menulis mungkin terasa begitu utopis. Bagaimanapun, jangan takut dan mudah menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin meski sulit untuk mewujudkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ajang yang satu ini memang belum sepopuler kompetisi lain seperti dalam bidang musik ataupun olahraga. Terlebih dalam pandangan generasi muda. Kompetisi menulis masih dianggap sangat prestisius hanya untuk kalangan yang berintelektualitas tinggi. &lt;i&gt;Mindset&lt;/i&gt; inilah yang menjadi salah satu hambatan utama kurang membludaknya minat masyarakat seperti pada kompetisi lain. Tidak mengherankan jika dalam beberapa kompetisi menulis yang pernah saya ikuti, peserta dan pemenangnya ya itu-itu saja. Sayang, padahal banyak manfaat dan keuntungan yang bisa kita peroleh di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Dalam rangka mengembangkan budaya dan kemampuan menulis, kompetisi menulis merupakan sarana yang tepat untuk belajar sekaligus untuk melihat kemajuan proses belajar itu sendiri. Berbeda dengan jika mengirimkan tulisan ke media massa atau penerbit, umumnya kita harus menunggu berbulan-bulan bahkan bisa satu tahun lamanya untuk mendapat kepastian apakah tulisan kita layak muat atau tidak. Dalam kompetisi menulis, cukup 1-2 bulan bahkan terkadang hanya dalam 2 minggu kita akan tau bagaimana nilai tulisan kita. Jika menang, berarti tulisan kita bagus. Alhamdulillah. Tapi jika kalah alias tidak menang, berarti kita harus belajar lebih baik lagi. Dari segi honor, nominal yang kita dapatkan dari lomba menulis jika beruntung, bisa sepuluh kali lipat atau bahkan lebih dari honor yang kita dapat dari pemuatan tulisan di media cetak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Manfaat lain dari kompetisi menulis, khususnya karya tulis ilmiah populer, adalah melatih kita bersikap kritis dan inovatif dalam menyikapi perubahan dan persoalan aktual yang terjadi di sekitar kita. Tidak menutup kemungkinan, pemikiran dan ide yang kita sumbangkan dapat memberi kontribusi dalam mencari solusi alternatif. Lebih spesifik terkait dengan upaya membangun mentalitas dan budaya konstruktif, kompetisi menulis dapat mengakselerasi terciptanya budaya menulis. Budaya menulis tidak akan terbangun kokoh tanpa ditunjang oleh budaya membaca yang baik. Dua budaya dapat terbangun sekaligus. Di sisi lain, kompetisi akan memberi pengaruh positif terhadap terbentuknya mentalitas berani bersaing. Suatu karakter yang harus dimiliki oleh masyarakat suatu negara yang tidak ingin tergilas roda globalisasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Apa, Siapa, Kapan dan Bagaimana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Seluk beluk tentang kompetisi menulis yang akan saya bahas di sini memiliki kecenderungan lebih pada ilmu-ilmu social meski tidak menutup kemungkinan memiliki persamaan atau dapat diaplikasikan dalam kompetisi menulis di bidang eksakta khususnya yang bersifat non-eksperimen. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ada beberapa nama yang biasa digunakan untuk menyebut kompetisi atau lomba menulis. Antara lain lomba menulis, lomba karya tulis, lomba karya tulis ilmiah, atau sayembara menulis. Kesemua nama tersebut sebenarnya memiliki makna yang kurang lebih sama, yakni sebuah kompetisi menulis tentang suatu tema yang telah ditetapkan. Tulisan yang disertakan dalam lomba memiliki unsur keilmiahan, dapat dipertanggungjawabkan serta diharapkan dapat memberi solusi alternatif terhadap permasalahan yang dijadikan tema lomba. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kata “ilmiah” seringkali menjadi momok yang menakutkan. Padahal tidak selalu begitu. Keilmiahan dalam konteks lomba menulis dapat diartikan sebagai suatu pemikiran yang disampaikan melalui tulisan yang mampu menganalisa permasalahan berdasarkan pemikiran, opini, konsep maupun teori yang dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki nilai manfaat dalam bahasa dan penyampaian yang mudah dipahami. Tidak terlalu muluk kan? Hanya saja, kata “ilmiah” akan memiliki makna lebih jika si penyelenggara lomba menulis adalah lembaga pendidikan seperti Dikti, Diknas, Perguruan Tinggi atau LIPI. Ilmiah dalam konteks ini tidak hanya dalam arti substansial tetapi juga dalam tataran teknis penulisan/penyampaian. Formatnya kurang lebih seperti skripsi. Detil dan lengkap mulai halaman sampul (cover) hingga daftar pustaka. Lomba keilmiahan semacam ini biasanya hanya diperuntukkan bagi kalangan internal dunia akademis, seperti pelajar, mahasiswa, guru dan dosen. Di luar itu, begitu banyak lomba menulis diselenggarakan sepanjang tahun. Dan sebagian besar bahkan hampir semuanya lebih menekankan keilmiahan dari segi substansial. Lomba menulis semacam inilah, khususnya di level tingkat nasional, yang akan saya bahas lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sedikit sekali even kompetisi menulis yang diserbu banyak peserta. Salah satunya yang masih saya ingat adalah &lt;i&gt;The Power of Dream Honda&lt;/i&gt; pada tahun 2001 dengan jumlah tulisan yang hampir 1.500. Selebihnya biasanya tidak lebih dari 200 peserta, itupun akumulasi dari berbagai kategori mulai pelajar SMP, SMU, mahasiswa, hingga umum dan wartawan. Lomba menulis sendiri biasanya dibagi dalam beberapa kategori. Empat kategori yang paling umum adalah pelajar, mahasiswa, wartawan dan umum. Adakalanya suatu lomba hanya ditujukan untuk kategori tertentu, sering terjadi mencakup beberapa kategori sekaligus. Pastikan Anda memenuhi kategori yang ditentukan penyelenggara karena jika tidak, sebagus apapun tulisan Anda, Anda akan tetap didiskualifikasi. Berikut beberapa hal terkait lomba menulis yang penting untuk kita ketahui.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Waktu, Penyelenggara dan Tema &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ketiga item ini biasanya saling terkait. Sepanjang tahun sebenarnya banyak sekali lomba menulis yang diselenggarakan. Waktu penyelenggaraan biasanya bertepatan dengan momen atau hari jadi suatu lembaga atau organisasi yang biasanya langsung merangkap menjadi panitia penyelenggara. Temanya biasanya disesuai dengan tema dan penyelenggaranya. Sebagai contoh, dalam rangka hari Koperasi. Lomba biasanya diadakan menjelang tanggal 12 Juli, bertepatan dengan hari jadi Koperasi. Penyelenggara biasanya dan hampir bisa dipastikan adalah Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Sesuai dengan momen dan penyelenggaranya, tema yang diangkat biasanya seputar masalah koperasi dan UKM. Contoh lain adalah karya tulis perpajakan. Penyelenggaranya adalah Direktorat Jenderal Pajak. Lomba biasanya diadakan menjelang hari Keuangan 31 Oktober dan tema yang diangkat umumnya adalah tema-tema aktual mengenai pajak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk lomba-lomba menulis yang mengambil moment hari jadi suatu lembaga atau organisasi, biasanya informasi lomba dipublikasikan 1-2 bulan sebelumnya. Lembaga pemerintah biasanya mensosialisasikan lomba melalui situs, surat ke lembaga terkait di daerah atau melalui media massa. Terkadang jika segmen lomba adalah pelajar dan mahasiswa, sosialisasi juga disampaikan ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Agar tidak ketinggalan informasi lomba dalam kategori ini, mulailah menginventarisasi data hari atau momen penting yang biasanya diperingati setiap tahun. Rajin mengunjungi situsnya atau baca informasinya di media cetak nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tidak selalu waktu, penyelenggara dan tema saling berkaitan. Biasanya organisasi atau perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori ini. Tema yang diangkat biasanya seputar masalah aktual yang tengah terjadi, misalnya tentang lingkungan hidup, kemiskinan, pendidikan dan sebagainya. Karena tidak bisa ditebak kapan, oleh siapa dan apa temanya, kita bisa mengantisipasinya dengan sering mengunjungi situs atau blog yang biasanya memuat informasi tentang lomba menulis. Penting juga untuk selalu memantau informasi di media cetak nasional.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bank Indonesia adalah lembaga pemerintah yang paling rutin mengadakan lomba menulis, baik untuk pelajar, mahasiswa, wartawan maupun umum. Dalam setahun bisa 3-4 kali atau bahkan lebih. Tema yang diangkat tentu saja berkaitan dengan kebanksentralan, perbankan, perbankan syariah, ekonomi, dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mekanisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Hal lain mengenai lomba menulis yang kurang dipahami publik adalah mekanisme dari lomba menulis itu sendiri. Mulai dari masalah teknis penulisan, pengiriman hingga penentuan pemenang. Kurangnya pengetahuan tentang yang satu ini tak jarang menyurutkan langkah untuk mengikuti sebuah kompetisi menulis. Saya pernah mengalaminya sendiri dulu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Lomba menulis sepertinya masih dianggap prestisius dan identik dengan intelektualitas tingkat tinggi. Apalagi jika lomba tersebut diembel-embeli kata “ilmiah”. Sebagaimana telah saya sebutkan di atas, sepanjang penyelenggara bukan lembaga pendidikan dan mereka tidak memberikan ketentuan penulisan secara ilmiah seperti skripsi misalnya, maka kembangkanlah pemikiran kritis dan ide inovatif Anda dalam sebuah tulisan dan bebaskan diri Anda untuk menyampaikannya menurut sudut pandang dan &lt;i&gt;style&lt;/i&gt; Anda sendiri sepanjang penyampaian dan penulisannya tetap sistematis agar mudah dipahami pembaca. Inilah yang saya maksud sebagai keilmiahan dalam konteks substansial. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana gambaran umum teknik penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah secara substansial tersebut? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Penyelenggara biasanya menyebutkan dengan jelas bagaimana teknis penulisan lomba. Misalnya berapa jumlah halaman minimal dan maksimal, kertas yang digunakan, batas margin, huruf dan sebagainya. Berapa copy eksemplar yang harus dikirim, disertai softcopy atau tidak. Mengenai jumlah halaman, untuk semua kategori kecuali wartawan, umumnya bisa digolongkan dalam tiga klasifikasi yakni sedikit, sedang dan banyak. Untuk kategori sedikit biasanya jumlah halaman berkisar antara 5-10 halaman; kategori sedang berkisar 10-15 halaman sedangkan untuk kategori banyak biasanya minimal 20 halaman dengan batas maksimal 30, 40 atau 50 halaman. Masing-masing memiliki karakter dan metode penulisan yang berbeda satu sama lain. Akan dijelaskan lebih detil pada bagian &lt;i&gt;Share of Experience : &lt;/i&gt;Bagaimana Saya Menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Softcopy biasanya dalam bentuk disket atau CD. Yang pasti tulisan harus disertai dengan fotocopi identitas diri, baik KTP, SIM, Kartu Mahasiswa atau Kartu Pelajar sesuai dengan kategori masing-masing. Saran saya untuk masalah teknis ini, ikutilah semua ketentuan yang ditetapkan tanpa melebihkan atau menguranginya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tidak semua lomba menulis menjelaskan dengan detil tentang masalah teknis di atas. Namun ini sangat jarang. Untuk lomba yang tidak merinci ketentuan teknis penulisan, kita bisa gunakan panduan teknis lomba serupa sebagai panduan. Selanjutnya adalah pengiriman. Ada dua bentuk pengiriman naskah yang paling umum, yakni melalui pos dan atau email. Untuk batas pengiriman melalui pos, biasanya disertai keterangan, “paling lambat dikirim (cap pos)” atau “paling lambat diterima”. Jika keterangannya paling lambat dikirim, Anda dapat mengirimkannya paling lambat tanggal yang telah ditentukan. Tapi jika dituliskan “paling lambat diterima” maka kirimkan naskah paling lambat 5-7 hari sebelum tanggal yang ditentukan. Bergantung berapa lama standar pengiriman dari daerah Anda ke kota tujuan, misalnya Jakarta. Lebih aman jika Anda menggunakan layanan Kilat Khusus untuk mengantisipasi keterlambatan. Saya sarankan menghindari pengiriman melalui jasa pengiriman selain Kantor Pos karena biayanya bisa berkali lipat dibandingkan biaya pengiriman melalui Kantor Pos.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk pengiriman melalui email, selain murah juga simple. Biasanya pengiriman naskah dalam format MS Word atau PDF. Untuk pengirimin melalui email biasanya saya mengirimkan satu hari sebelum batas akhir atau maksimal pagi atau siang hari pada hari terakhir. Sampai di sini selesailah perjuangan kita kecuali masih ada sesi presentasi sebagai salah satu mekanisme penilaian. Biasanya mekanisme ini diperuntukkan untuk kategori pelajar dan mahasiswa meski terkadang kategori lain seperti kategori umum dan wartawan juga menjalani mekanisme serupa. Lomba karya tulis mahasiswa oleh Bank Indonesia biasanya memakai sesi presentasi. Sedikit berbeda dengan penyelenggara lain, Bank Indonesia biasanya memberitahu peserta melalui telfon antara 1-2 hari sebelum hari H bahkan pernah ada finalis yang dipanggil beberapa jam sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk lomba menulis tingkat nasional, presentasi diadakan di kota tempat penyelenggara berada. Biasanya Jakarta. Peserta dihubungi lewat telepon, email atau surat kira-kira satu minggu sebelumnya. Untuk keperluan presentasi ini, biaya transportasi (umumnya dengan pesawat kelas ekonomi) dan akomodasi selama di Jakarta ditanggung oleh penyelenggara. Jika penyelenggara bonafide, biasanya peserta masih mendapat tambahan uang saku. Apa yang dipersiapkan jika melalui tahap penilaian seperti ini?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pertama tentu saja, bersyukur kepada Allah, Alhamdulillah. Bukan hal yang mudah terpilih menjadi salah satu dari 5-10 finalis dari sekian puluh atau bahkan ratusan peserta yang mengirimkan naskah. Selanjutnya persiapan teknis. Jika memungkinkan, mintalah bantuan orang-orang di sekitar Anda yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang presentasi. Guru jika anda pelajar, atau dosen jika anda mahasiswa atau siapa saja yang bisa membantu anda dalam masalah ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Presentasi umumnya disajikan dalam bentuk power point. Karena waktu presentasi umumnya singkat, antara 10-15 menit, dan sekitar 30 menit untuk sesi tanya jawab, maka buatlah poin-poin presentasi yang memuat hal-hal paling pokok dari tulisan anda. Bisa dimulai dari latar balakang masalah, permasalahan, hipotesa, pembahasan, kesimpulan dan saran. Upayakan item pembahasan memiliki proporsi lebih banyak dari item lain karena biasanya poin inilah yang paling disorot dan menentukan penilaian. Jika ada, sertakan data-data statistik yang akan memperkuat paparan anda. Jumlah halaman bahan presentasi ini kurang lebih 10-15 halaman disesuaikan dengan kemampuan anda dan banyaknya waktu yang disediakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ada dua bentuk forum presentasi yang biasa digunakan. Pertama, forum tertutup. Audiens biasanya hanya terdiri dari beberapa dewan juri dan seorang operator yang membantu kita mengoperasikan power poin. Sedangkan untuk forum yang terbuka, selain dewan juri, peserta lain baik yang sudah atau belum presentasi juga ada di dalam ruangan. Bisa jadi ada pula wartawan yang meliput. Pemenang sendiri biasanya diumumkan segera setelah presentasi selesai kemudian dipublikasikan melalui media massa atau internet. Secara umum, jarak waktu antara batas akhir pengiriman naskah dan pengumuman pemenang kurang lebih satu bulan. Bisa lebih cepat bahkan bisa lebih lama jika jumlah naskah yang masuk membludak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Hadiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Inilah barangkali daya tarik terbesar yang memotivasi masyarakat untuk mengikuti lomba menulis selain sebagai ajang aktualisasi diri. Memang cukup menggiurkan terlebih jika penyelenggara adalah lembaga atau perusahaan yang &lt;i&gt;bonafide&lt;/i&gt;. Pada umumnya hadiah bagi pemenang lomba karya tulis berupa uang tunai, barang, atau fasilitas lain atau gabungan dari beberapa hadiah sekaligus. Yang pasti, pemenang mendapatkan piagam perhargaan bahkan terkadang peserta yang tidak menangpun diberi juga. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ada dua meknisme pemberian hadiah, langsung atau tidak langsung. Pemberian secara langsung yakni pemenang (baik seluruh atau hanya sebagian) diundang ke Jakarta untuk prosesi penyerahan hadiah. Sementara untuk pemberian hadiah secara tidak langsung, hadiah dikirimkan melalui jasa pos/pengiriman ke alamat masing-masing pemenang. Begitu pula dengan piagam penghargaan untuk peserta yang tidak menang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk hadiah dalam bentuk uang tunai, besarnya hadiah untuk kategori pelajar dan mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir berkisar pada nominal 8-10 juta rupiah untuk pemenang pertama, sedangkan untuk kategori umum dan wartawan berkisar 10-15 juta rupiah untuk pemenang pertama. Untuk pemenang kedua dan ketiga biasanya selisih antara 2-3 juta rupiah dengan jumlah hadiah pemenang pertama. Tidak semua lomba menulis memberikan nominal yang sama, bisa lebih bisa juga kurang dari nominal yang telah saya sebutkan tadi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk hadiah dalam bentuk barang, beberapa barang yang sering dijadikan hadiah dalam lomba menulis antara lain &lt;i&gt;notebook&lt;/i&gt; dan kamera digital. Selain uang dan barang, terkadang pemenang masih diberi hadiah tambahan lain seperti buku atau paket wisata. Contohnya lomba menulis esai Korea. Selain mendapat uang tunai, pemenang I dan II&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;baik kategori pelajar atau mahasiswa juga mendapat kesempatan jalan-jalan ke Korea selama satu minggu. Panasonic juga pernah memberikan hadiah serupa. Untuk pemenang pertama baik kategori pelajar maupun mahasiswa, selain mendapat hadiah uang tunai sebesar 20 juta rupiah untuk mahasiswa dan 15 juta rupiah untuk pelajar, juga mendapat kesempatan berwisata ke Jepang. Lion Air juga pernah memberikan hadiah yang sangat menarik selain hadiah uang tunai yang cukup besar, yakni tawaran untuk bergabung dengan Lion Air bagi pemenang dari kategori mahasiswa setelah menyelesaikan studi. Menarik bukan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Selain hadiah-hadiah di atas, masih ada “hadiah” lain yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi penulis yakni pembukuan naskah. Terkadang penyelenggara membukukan naskah pemenang dan finalis untuk kalangan terbatas. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap para penulis dan pemenang, tujuan lain dari pembukuan naskah tersebut adalah sebagai sarana rekomendasi kepada pihak terkait. Selama mengikuti lomba dalam beberapa tahun terakhir, ada tiga naskah lomba saya yang dibukukan oleh penyelenggara, yakni naskah pada lomba karya tulis perbankan syariah oleh BNI Syariah dan Harian Republika, naskah lomba tentang pengentasan kemiskinan oleh LP3ES dan yang terakhir adalah naskah lomba karya tulis perpajakan yang dibukukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sebagai catatan akhir tentang hadiah lomba karya tulis ini, meski hadiah bisa jadi merupakan daya tarik yang sangat besar, sebaiknya jangan jadikan ini sebagai motivasi utama. Tanamkan motivasi terbesar dalam diri yakni menjadikan lomba menulis sebagai sarana belajar, aktualisasi pemikiran dan apresiasi terhadap karya dalam bingkai mencari keridhoan Allah SWT. Dengan begitu, InsyaAllah proses belajar dan hasil yang kita capai akan berkah. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Informasi, Gerbang Pertama Menuju Kemenangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pengetahuan yang cukup dan semangat besar berkompetisi biasanya tersandung masalah berikutnya yakni informasi. &lt;i&gt;Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia&lt;/i&gt;. Formula ini juga berlaku dalam kancah lomba menulis. Sangat disayangkan bahwa penyampaian informasi tentang lomba menulis hingga sekarang masih belum optimal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Jaman saya kuliah dulu, saat saya belum banyak tau tentang bagaimana mencari informasi mengenai lomba menulis, saya bersifat pasif dan lebih banyak menunggu informasi datang sendiri atau mendapatkannya secara kebetulan. Ya, menunggu informasi itu ditempelkan di papan pengumuman baik di fakultas maupun universitas. Orang yang pasif dan hanya menunggu biasanya akan sering ketinggalan. Info lomba yang ditempelkan baik di fakultas maupun universitas seingkali baru ditempel ketika batas akhir pengiriman naskah sudah semakin mepet. Bagi pemula seperti saya yang butuh lama untuk berpikir dan menulis, waktu yang tersedia sering membuat saya mengundurkan diri sejak dini. Menyadari bahwa saya harus kreatif mencarinya sendiri, saya menjadi lebih rajin berburu informasi baik melalui media cetak maupun internet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Finally&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, mungkin saya termasuk orang yang cukup beruntung dalam hal ini. Dalam beberapa tahun terakhir saya dapat mengakses begitu banyak informasi tentang lomba menulis meski saya tidak selalu mengikutinya. Sumber utama informasi saya saat ini adalah internet dan media cetak nasional khususnya Kompas. Keduanya membutuhkan kesabaran. Khusus untuk internet, kita harus pandai dan telaten menelesuri situs demi situs yang memuat informasi tentang lomba menulis. Melalui internet juga kita bisa banyak menimba ilmu tentang menulis termasuk tentang lomba menulis. &lt;a href="http://www.infolomba.wordpress.com/"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;www.infolomba.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;a href="http://www.infolomba.blogsome.com/"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;www.infolomba.blogsome.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;adalah situs yang paling sering saya kunjungi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sesuai dengan namanya, situs ini memuat cukup banyak informasi lomba meski sekali lagi, tidak semua lomba khususnya lomba menulis termuat di dalamnya. Untuk meng-cover informasi lomba yang belum termuat, saya mengunjungi blog-blog para penulis. Biasanya, selain memuat tulisan tentang menulis, mereka juga memuat informasi tentang lomba menulis ataupun lowongan dari penerbit. Terima kasih pada para penulis dan blogger yang telah membagi ilmu dan informasinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tidak cukup sampai pada blog, saya juga harus rajin masuk ke situs media massa atau lembaga yang memang secara rutin mengadakan lomba menulis. Situs Bank Indonesia misalnya di &lt;a href="http://www.bi.go.id/"&gt;http://www.bi.go.id/&lt;/a&gt;. Informasi mengenai lomba biasanya langsung ada di halaman utama. Jadi tidak terlalu sulit mencarinya. Hanya saja, situs lembaga pemerintah yang satu ini tidak terlalu sering di up date sehingga dalam kurun waktu yang cukup lama, informasinya ya itu-itu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sumber informasi lain yang selama ini sangat membantu saya adalah teman. Khususnya mereka yang memang yang suka menulis, rajin mengikuti lomba menulis dan pastinya memiliki akses besar terhadap lomba menulis. Mereka yang juga sangat mendukung hobi menulis saya juga sering memberikan informasi serupa. Pernah terjadi, saya mengikuti sebuah lomba menulis tanpa pernah melihat pengumuman resminya baik di media cetak maupun di internet. Semua informasi saya dapatkan dari sms seorang teman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dari berbagai sumber dan cara mendapatkan informasi mengenai lomba menulis sebagaimana saya sebutkan di atas, anda dapat mengambil beberapa kesimpulan untuk kemudian segera anda realisasikan jika anda tidak mau ketinggalan informasi. Karena informasi, adalah gerbang pertama menuju kemenangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tulisan yang Layak Menjadi Pemenang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ada beberapa pertanyaan seputar lomba menulis yang sering ditanyakan rekan-rekan. Yang paling sering di antaranya adalah tulisan bagaimana yang biasanya menang? Pertanyaan lain yang juga acapkali ditanyakan adalah, bagaimana mendapatkan ide atau inspirasi tulisan, bagaimana menulisnya menjadi tulisan yang sistematis atau dari mana mendapatkan informasinya. Tentang informasi sudah kita bahas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Berdasarkan pengamalan dan analisa saya terhadap beberapa tulisan yang berhasil menjadi pemenang, baik tulisan saya sendiri maupun teman-teman lain, ada beberapa ciri atau karakter khas yang membuatnya memiliki peluang besar dan layak untuk menang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, ide. Menurut saya inilah poin terpenting dalam tulisan yang membuatnya layak menjadi pemenang. Ide tidak harus selulu muluk dan bombastis. Beberapa teman di LIPI yang pernah menjadi juri dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) mengatakan, mereka justru seringkali terpana pada ide-ide sederhana namun dibalik kesederhanaannya ia menyimpan makna besar yang mungkin terlupakan atau belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Secara sederhana, jika dewan juri atau masyarakat membaca, mereka akan berkata, “Oh, iya ya”. Ide juga tidak harus benar-benar baru. Tentu tak ada salahnya jika kita ingin memunculkan pemikiran atau ide yang sangat inovatif. Hanya saja yang perlu diingat,&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;ide tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atau didukung oleh argumen yang ilmiah.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Jadi tidak asal berteori yang justru akan membuat tulisan ngawur dan bisa-bisa jadi boomerang jika itu dipresentasikan di depan audiens. Jadi, terus dan banyaklah berlatih agar bisa menangkap begitu banyak ide luar biasa yang bertebaran di sekitar kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, data. Data adalah bahan dasar utama yang harus ada untuk meramu sebuah tulisan yang bagus. Karenanya data harus aktual, relevan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Data yang bagus bisa berupa data statistic maupun data non-statitisk. Semakin banyak, semakin lengkap dan semakin ilmiah data yang kita gunakan maka akan semakin berbobot tulisan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, pembahasan. Ide bagus dan data yang akurat hanya akan menjadi mozaik berserakan yang tidak jelas apa maksud dan kontribusinya terhadap suatu masalah jika kita tidak membahasnya dengan analisa yang mendalam dan ilmiah. Sering saya mengumpamakan menulis sebuah tulisan ilmiah populer seperti memasak. Setiap kita sebenarnya memiliki “bahan dasar” yang sama yakni data yang berserak di sekitar kita baik berupa teks maupun konteks. Yang membuat “masakan” kita berbeda dengan orang lain adalah bagaimana kita memasaknya, bagaimana kita membahasnya. Bahan boleh sama tapi masakan sangat mungkin berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, penulisan atau penyampaian. Jika data saya analogikan sebagai “bahan”, maka penulisan atau penyampaian kurang lebih sama seperti penyajian. Kadang-kadang masakan yang sederhana akan terlihat begitu istimewa jika disajikan sedemikian rupa. Tulisan yang berbobot akan memusingkan pembaca atau bahkan bisa mendistorsikan makna yang terkandung di dalamnya jika tidak disampaikan secara sistematis melalui bahasa yang enak dan mudah dipahami. Kemampuan pada tingkat ini merupakan bentuk profesionalitas penulis dalam menulis. Level tertinggi yang hanya akan dicapai oleh penulis melalui latihan yang terus menerus. &lt;i&gt;Practice make perfect&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kelima&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, bukan sekedar teori. Perkembangan penulisan karya tulis ilmiah populer kini semakin pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam tataran kualitas, bukan jamannya lagi hanya berteori atau berwacana meski dalam skup ilmu sosial. Bahkan pada kategori paling bawah sekalipun yakni kategori pelajar. Suatu ide atau pemikiran yang dituangkan dalam sebuah tulisan tidak hanya bersifat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah tetapi juga memiliki nilai manfaat yang dapat direalisasikan dalam permasalahan yang tengah terjadi. Hal ini dikarenakan salah satu tujuan utama diadakannya lomba menulis adalah untuk mencari dan menampung ide-ide kreatif dan inovatif yang bisa dijadikan sebagai solusi alternative bagi suatu masalah actual yang tengah terjadi. Meski nilai manfaat dan aplikasi karya tulis ilmiah populer yang pada umumnya merupakan ilmu-ilmu social, tidak semudah menerapkan ilmu-ilmu pasti. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Share of Experience&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; : Bagaimana Saya Menulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Jika mengenang kembali revolusi diri untuk bisa menulis, apa yang saya dapatkan sekarang, bisa menulis meski belum seberapa dan pernah menjuarai beberapa lomba menulis, rasanya tidak percaya ini bisa terjadi. Dulu, di pertengahan tahun 2001 ketika saya masih duduk di semester IV jurusan Hubungan Internasional di Universitas Jember, saya pernah memvonis diri tidak bisa menulis dan tidak akan pernah bisa menulis. Menulis hanyalah kemampuan makhluk-makhluk jenius yang berotak encer, yang hobinya melahap buku-buku tebal dan mudah tanggap pada perubahan. Dan saya tidak bisa memenuhi satupun dari kualifikasi tersebut. Saya lamban dalam berpikir apalagi dalam mengambil keputusan dan memberi penilaian. Lebih suka melamun daripada membaca buku. Allah Maha Besar, tidak ada yang tidak mungkin meski tidak mudah mewujudkannya. Kemenangan itu akhirnya datang juga setelah melalui perjuangan dan kerja keras yang cukup lama. Dan keajaiban itulah yang sekarang ingin saya bagi pada Anda semua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam menulis baik menulis biasa maupun dalam rangka ikut serta dalam sebuah lomba karya tulis, ada beberapa langkah yang biasa saya lakukan untuk mempermudah proses menulis. Sejauh pengalaman saya selama ini, langkah-langkah tersebut cukup efektif membantu saya menyelesaikan sebuah tulisan. Dalam penjelasan berikut saya juga memberikan keterangan berapa lama waktu yang saya perlukan untuk masing-masing proses. Namun sebenarnya, berapa banyak waktu yang diperlukan bergantung pada kemampuan dan style masing-masing penulis selain tentu saja menyesuaikan dengan batas waktu yang ditentukan oleh panitia penyelenggara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mempelajari Tema dan Mencari Ide&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Lomba menulis yang saya ikuti selama ini terdiri dari berbagai tema ilmu-ilmu social. Yang paling sering bertema social ekonomi. Selain itu pernah juga bertema tentang perbankan syariah, lingkungan hidup, hukum dan seni. Saya pernah juga sekali mencoba di bidang fiksi. Sepintas memang terlihat oportunis. Tapi saya mencoba bersikap selektif dan professional dalam mengikuti lomba menulis. Saya tidak akan memaksakan diri jika saya merasa tidak mampu atau tema yang sedang dilombakan benar-benar jauh dari jangkauan saya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Meski tema lomba yang saya ikuti sangat beragam, ternyata saya hampir selalu menggunakan sudut pandang yang sama yakni politik sesuai dengan jurusan bidang studi kuliah saya. Barangkali karakter dan sudut pandang tulisan saya telah terbentuk sedikit demi sedikit seiring dengan proses belajar yang terus menerus baik dalam bidang tulis menulis maupun materi yang saya dapatkan di bangku kuliah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Karena tidak semua tema yang ditentukan panitia adalah bidang studi saya, bahkan sebagian besar justru bukan, maka hal pertama yang saya lakukan adalah berkontemplasi, mempelajari dan mengenal lebih jauh tentang tema yang ditentukan. Saya tanya diri sendiri apakah saya tertarik, apakah saya merasa sanggup mempelajarinya secara otodidak, apakah data yang mendukung bisa saya dapatkan dsb. Jika saya menjawab “ya” atau paling tidak “mungkin saja”, atau “berpeluang”, atau “mari kita coba”, saya akan melanjutkan pada proses berikutnya. Tapi jika jawabannya “tidak”, saya tidak akan memaksakan diri. Waktu yang diperlukan untuk berkontemplasi ini biasanya beberapa hari hingga satu minggu. Cukup lama juga ya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tahap berikutnya adalah mencari tema atau ide dari tulisan yang akan saya buat. Saya menyebut tahapan ini sebagai proses pencarian inspirasi. Terkadang ide tulisan muncul begitu saja tapi lebih sering saya harus mencarinya terlebih dahulu dengan susah payah. Pencarian ide saya lakukan dengan membaca realitas terkait dengan tema, baik melalui media massa maupun dalam kehidupan keseharian secara langsung. Pencarian ide saya lakukan juga melalui kajian tekstual berupa pemikiran, ide atau teori-teori terkait. Yang menjadi titik focus saya dalam dua pencarian ini, baik dari teks maupun konteks, adalah mencari jawaban atas permasalahan yang timbul, hal-hal baru (inovatif) atau hal-hal yang terlupakan yang berpeluang memberi manfaat atau peluang sebagai solusi alternative. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Khusus untuk mencari ide-ide atau hal-hal yang sangat baru (up to date), saya tidak focus di dalam negeri. Beberapa konsep atau teori terkadang baru diterapkan di negara-negara maju dan berpeluang untuk diadaptasi atau adopsi di negara kita. Apapun itu, sepanjang memiliki peluang untuk diterapkan dan dapat diaplikasikan serta memiliki nilai manfaat, tidak salahnya diambil sebagai ide untuk tulisan kita. Jika ide sudah saya dapat, saya akan menyederhanakannya dalam sebuah pertanyaan atau opini. Proses pencarian ide ini biasanya memakan waktu satu minggu. Bergantung pada tema yang ditentukan penyelenggara, apakah saya sudah cukup familiar dengannya atau sesuatu yang baru bagi saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ide atau tema utama seringkali saya gunakan sebagai judul. Jika awalnya berupa pertanyaan, saya ubah menjadi pernyataan. Atau lebih saya singkatkan dari ide aslinya. Pernah pula saya kehabisan ide untuk membuat judul sehingga saya menggunakan subtema yang ditentukan panitia sebagai judul tulisan saya. Namun seingat saya, saya hanya sekali melakukannya. Karena judul merepresentasikan isi tulisan, maka pilihlah kalimat yang singkat namun cukup memberi gambaran yang jelas kepada pembaca mengenai apa isi atau tema besar dalam tulisan kita. Dengan demikian, pembuatan judul bisa pula di akhir penulisan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Membuat Outline/Sketsa Tulisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tahapan berikutnya setelah menemukan ide adalah membuat kerangka, sketsa atau ouline tulisan. Formulasi yang biasa saya gunakan : ide-masalah-hipotesa-data-pembahasan-hasil/kesimpulan. Outline ini tak ubahnya sebuah peta tentang “perjalanan” menulis yang akan kita lalui.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mencari Data&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Selanjutnya adalah proses pencarian data. Secara umum, data saya bagi dalam dua kelompok besar. Yakni data statistic dan data non statistic. Data statistic merupakan data yang berupa angka-angka seperti jumlah orang miskin, pengangguran, pendapatan negara dsb. Sementara untuk data non statistic bisa berupa konsep, teori atau opini oleh para pakar yang kompeten di bidangnya masing-masing. Kedua data ini baik data statistic maupun data non statistic sama pentingnya dan seringkali diperlukan secara bersamaan. Karenanya, semakin lengkap dan akurat data yang kita pakai maka akan semakin berbobot tulisan kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Internet adalah sumber data yang utama dan pertama. Karena media yang satu ini mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Sangat membantu kita yang tidak punya banyak buku apalagi jika ditambah dengan bertempat tinggal di daerah dengan fasilitas sumber data fisik yang relative terbatas. Meski demikian, saya tidak meninggalkan buku sebagai salah satu referensi utama jika memang memungkinkan khususnya terkait dengan teori dan konsep. Sumber data lain khususnya yang berupa data statistic, saya sangat mengandalkan media cetak. Kompas dan Jawa Pos di antaranya. Data statistic yang disajikan oleh media cetak biasanya sangat actual. Jika ingin mendapatkan data statistic yang lebih lengkap, data dari Biro Pusat Statistik (BPS) dapat menjadi rujukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk memudahkan menyuplai data dalam setiap proses menulis, saya membuat semacam bank data dalam folder saya. Saya bagi dalam beberapa tema besar, misalnya tentang politik, ekonomi, perbankan syariah, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, lingkungan hidup, dsb. Untuk data dalam bentuk grafik, diagram atau gambar, saya buat pos tersendiri sehingga jika sewaktu-waktu dibutuhkan tidak terlalu susah mencarinya. Bank data ini sangat membantu, karena satu data bisa digunakan untuk beberapa tema sekaligus bergantung pada sudut pandang dan pembahasan serta bagaimana kita menempatkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mengembangkan Outline dan Mengolah Data&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Selanjutnya adalah mengembangkan outline dan data yang didapat menjadi sebuah&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;tulisan. Penulisan karya tulis ilmiah populer sedikit berbeda dengan karya tulis ilmiah murni seperti makalah ilmiah, skripsi, thesis atau disertasi. Dalam tulisan-tulisan ilmiah murni setiap item harus ditulis dengan jelas mulai dari latar belakang masalah, perumusan masalah, hipotesa, tujuan dan manfaat, kerangka konseptual dan seterusnya sampai penutup dan daftar pusaka. Untuk karya tulis ilmiah populer, sesuai dengan namanya, setiap item tersebut tidak harus selalu ada atau dituliskan secara eksplisit. Bahkan kita dapat menggabungkan beberapa item sekaligus dalam satu bagian tulisan. Bergantung pada jumlah halaman dan ketentuan teknis lain yang ditetapkan oleh panitia penyelenggara. Mengenai jumlah halaman, untuk semua kategori kecuali wartawan, umumnya bisa digolongkan dalam tiga macam yakni sedikit, sedang dan banyak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kategori Sedikit&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk kategori sedikit, umumnya berkisar antara 5-10 halaman atau bahkan maksimal hanya 3 atau 5 halaman. Ada beberapa keuntungan dan kelebihan dengan jumlah halaman&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;yang sedikit. Di antaranya tidak membutuhkan banyak data dan proses penulisan bisa cepat selesai. Biasanya juga tidak memungkinkan untuk memuat cover, daftar isi dan daftar pustaka. Pertanggungjawaban terhadap penggunaan data bisa melalui catatan kaki yang singkat saja. Kelemahannya, karena &lt;i&gt;space&lt;/i&gt; yang tersedia sedikit, kita harus pandai memilih data yang paling akurat dan tepat dari sekian banyak data yang kita punya. Sebagai contoh, cukup menggunakan satu teori dan atau satu konsep, ditambah satu atau dua data statistic. Sebaiknya hindari data dalam bentuk diagram atau gambar karena akan memakan banyak &lt;i&gt;space&lt;/i&gt;. Selektivitas data juga diperlukan agar tetap tersedia ruang yang cukup untuk menampung pemikiran-pemikiran orisinil kita terhadap masalah yang tengah dibahas. Karenanya, diperlukan kemampuan memilih diksi kata untuk menyampaikan “ide besar” kita melalui bahasa yang singkat, padat namun jelas. Jika kemampuan kita dalam mengolah data dan kata masih belum optimal, bisa-bisa kita terjebak dalam pembahasan yang “mbulet” dan tak jelas apa pesan atau ide pokoknya. Karenanya banyaklah berlatih dan terus berlatih. Sebagai acuan untuk jenis tulisan ini adalah tulisan-tulisan yang dimuat dikolom opini surat kabar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="a" start="2"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kategori Sedang&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kategori sedang umumnya berkisar antara 10-15 halaman. Untuk jumlah halaman dalam kategori sedang ini, data yang diperlukan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah halaman yang lebih sedikit. Proporsi penggunaan data dan pemikiran orisinil kita kurang lebih berbanding 50:50. Seringkali saya menganggap jumlah maksimal halaman 10 atau 15 halaman, ketika akan mulai menulis adalah jumlah yang cukup banyak. Dan seringkali terjadi pula, jumlah halaman sebanyak ini tidak cukup menampung ide dan data yang saya dapatkan kemudian. Jika Anda menghadapi situasi yang sama, ide dan data kebanyakan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar tidak melanggar ketentuan penyelenggara. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, selektif terhadap data, baik data statistic maupun data non-statistik. Pilih data yang paling lengkap dan actual serta paling relevan dengan ide yang akan Anda usung. Kepiawaian dalam memilih data akan mencerminkan sejauh mana profesionalitas Anda dalam menulis karya tulis ilmiah populer. Sekali lagi, banyaklah berlatih dan terus belajar. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, jika setelah pemilihan data jumlah halaman masih melebihi batas maksimal, maka ubahlah data dalam bentuk diagram atau gambar menjadi uraian biasa tanpa mengurangi esensi dari data itu sendiri. Sebaliknya jika Anda menenui kesulitan untuk mencapai batas minimal jumlah halaman yang ditetapkan, gunakanlah lebih banyak data. Meski demikian, pilihlah data yang memang relevan untuk tulisan Anda, jangan asal &lt;i&gt;comot&lt;/i&gt;. Efektifkan pula penggunaan catatan kaki atau catatan akhir. Dan yang paling baik adalah, membahas topic tulisan Anda selengkap dan sejelas mungkin. Untuk kategori sedang ini, cover, daftar isi dan daftar pustaka tidak selalu menjadi hal yang wajib. Anda dapat memanfaatkannya untuk memenuhi batas minimal halaman yang ditetapkan dengan catatan, panitia memperbolehkannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="a" start="3"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kategori Banyak&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Masuk dalam kategori banyak biasanya batas minimal 20 halaman dengan batas maksimal 30, 40 atau 50 halaman. Kategori ini dapat dikatakan berat karena tak ubahnya seperti membuat skripsi untuk mereka yang mahasiswa. Dan memang jumlah halaman yang banyak ini biasanya diperuntukkan untuk kategori mahasiswa dan umum. Dengan jumlah halaman yang banyak, biasanya item tulisan juga lengkap dan terkadang harus dituliskan secara lengkap pula. Sebagai contoh, pendahuluan, perumusan masalah, tujuan dan manfaat dan seterusnya hingga saran dan kesimpulan. Untuk tulisan yang berhalaman banyak membutuhkan data yang relatif banyak baik berupa data statistic maupun data non-statistic. Sebagai acuan Anda dapat menggunakan skripsi yang berhalaman sedikit, kurang lebih berkisar 50-70 halaman. Dengan jumlah halaman yang banyak seperti ini, biasanya secara otomatis memerlukan cover, daftar isi dan daftar pustaka. Meski panitia tidak selalu mewajibkannya. Jika demikian, Anda bebas menentukan pilihan. Bergantung apakah Anda merasa membutuhkannya atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk lebih jelas mengenai masing-masing contoh untuk tiap-tiap kategori tulisan berdasarkan jumlah halaman, dapat dilihat pada halaman lampiran. Lampiran 1 adalah contoh tulisan untuk kategori tulisan berhalaman sedikit yakni tiga halaman. Lampiran 2 adalah contoh tulisan untuk kategori tulisan dengan jumlah halaman sedang yakni maksimal 15 halaman. Dan lampiran 3 adalah contoh untuk kategori tulisan berhalaman banyak yakni sebanyak 22 halaman. Ketiga contoh tersebut disajikan sesuai dengan bentuk aslinya sebagaimana saya kirimkan ke panitia penyelenggara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Setelah mengetahui kategori jumlah halaman, karakter, kelebihan dan kekurangan tulisan yang akan Anda tulis, langkah selanjutnya ada menulis dan teruslah menulis hingga tulisan Anda jadi meski masih dalam bentuk kasar dan mungkin acak-acakan. Di sinilah masalah klasik seringkali muncul, bagaimana memulainya? Ide sudah ada bahkan data sudah cukup memadai tetapi kita merasa sulit dan bingung, dari mana memulai menulis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ada satu teknik menulis yang diajarkan oleh dosen pembimbing skripsi saya, Bapak Agung Purwanto M.Si, tentang bagaimana memulai tulisan yang baik. Yakni dengan menggunakan metode &lt;i&gt;epik&lt;/i&gt;. Suatu metode penulisan yang &lt;i&gt;to the point&lt;/i&gt;, menuliskan pokok pikiran atau ide besar kita pada awal tulisan, pada kalimat pertama atau kedua pada paragraph pertama tulisan kita. Sejak saya tau metode ini, saya menggunakannya hingga sekarang untuk semua tulisan saya. Ternyata selain efektif, metode ini memberi keuntungan kepada kedua belah, baik penulis maupun pembaca. Dengan menuliskan ide utama kita di awal tulisan, biasanya kita lebih mudah melanjutkan tulisan karena “hal tersulit” dalam tulisan sudah kita tuliskan. Bagi pembaca sendiri, teknik penulisan yang &lt;i&gt;to the point&lt;/i&gt; ini membantu mereka menemukan ide tulisan kita lebih cepat sehingga tidak menyusahkan dan membuang banyak waktu mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam mengembangkan outline menjadi sebuah tulisan, tidak harus berurutan dimulai dari latar belakang masalah. Tulis saja apa yang ingin Anda tulis walaupun itu langsung pada pembahasan. Mungkin saja Anda masih bingung mencari kata-kata untuk mendeskripsikan masalah, jangan jadikan ini penghalang untuk mulai menulis. Dan teruslah menulis hingga anda menyelesaikannya menjadi sebuah tulisan. Apapun bentuk dan hasilnya. Biasanya saya membutuhkan waktu antara 1-2 minggu untuk mengembangkan outline menjadi sebuah tulisan permulaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Finishing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Proses terakhir adalah finishing atau penyempurnaan. Saya mengumpamakan proses ini seperti menyusun puzzle. Ya, tulisan yang sudah saya selesaikan saya anggap sebuah puzzle binatang yang masih berantakan karena asal jadi. Terkadang kaki ada di kepala, tangan kanan dan kiri tertukar dsb. Finishing adalah suatu proses pembenahan dan penyempurnaan tulisan mencapai bentuk paling ideal dan maksimal yang bisa saya upayakan. Dalam proses ini biasanya saya mudah dilanda rasa lelah dan ingin segera mengakhiri sebelum tulisan itu sendiri selesai. Jika sudah menghadapi kondisi ini, sekuat tenaga saya menghimpun semangat agar tidak menyerah. Agar benar-benar tidak menyerah, saya mengingat kembali orang-orang atau peristiwa yang selama ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi saya. Sering upaya ini cukup efektif membuat saya bertahan meski semangat tak bisa kembali seperti semula. Sebisa mungkin tulisan tetap terkirim baik melalui pos maupun email. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pengalaman Menulis Fiksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untuk bidang fiksi, saya pernah mencoba sekali mengikuti sayembara menulis novel yang diselenggarakan oleh Mizan, tahun 2001 lalu. Lagi-lagi alasan utamanya adalah saya tidak ingin melewatkan kesempatan beraktualisasi. Kebetulan juga ketika itu saya sedang dalam proses pencarian jati diri dalam bidang menulis. Motivasi yang kedua adalah saya iseng ingin membuktikan penilaian seorang senior di kampus yang kebetulan intens dalam dunia tulis menulis. Saat membaca tulisan saya, beliau memberikan penilaian bahwa karakter tulisan saya cocok untuk tulisan fiksi khususnya novel. Ekspresi dan pengungkapan kata-katanya kuat dan mengalir, kurang lebih begitu pendapat beliau. Bah! Mana mungkin, pikir saya ketika itu. Membaca fiksi saja saya tidak suka apalagi menulisnya. Mungkin karena sejak kecil bacaan saya berat dan serius, saya jadi sangat menyukai hal-hal yang berbau ilmiah yang memang serius dan berat bagi kebanyakan orang. Pernah saya mencoba menyukai fiksi, komik misalnya, yang konon kata banyak orang sangat membantu kita berimajinasi kreatif. Saat saya membacanya, saya tidak merasakan apa-apa, &lt;i&gt;blank&lt;/i&gt;. Padahal yang lain bisa langsung tertawa terbahak-terbahak sejak halaman pertama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Meski tidak begitu tertarik membaca fiksi, apa salahnya saya mencoba menulis novel. Siapa tau saya punya bakat terpendam yang belum tereksplorasi dalam bidang ini. Tantang saya pada diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Saat dalam proses pencarian ide, saya seperti orang yang kehilangan arah pulang ke rumah. Kebingungan di tengah keramaian yang asing. Mungkin karena pertama kali mencoba menulis novel apalagi masih tergolong penulis sangat pemula sekali. Akhirnya saya memutuskan menovelkan diri sendiri dengan memunculkan tokoh-tokoh fiktif yang mewakili saya dan orang-orang yang terlibat dalam kisah sebenarnya. Wow, ternyata lebih sulit dari menulis karya tulis ilmiah populer. Apalagi penyelenggara mensyaratkan minimal 80 halaman. Jumlah yang sangat banyak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Saya mencurahkan segenap ide dan tenaga untuk bisa menyelesaikan novel pertama saya itu. Saya pikir, jika tidak menang paling tidak ia akan menjadi semacam memoar bagi saya. Setiap hari saya menulis dan terus menulis antara 1-10 jam setiap harinya. Novel itu akhirnya selesai juga dalam waktu satu bulan sekaligus menghabiskan satu bulan uang saku saya. Tidak cukup sampai di situ, mungkin karena terlalu memforsir diri, stamina tubuh saya menurun bahkan saya harus ke dokter mata karena mata saya sakit. Mungkin akibat terlalu diforsir di depan komputer selama satu bulan. Saya memang tidak menang dalam sayembara menulis novel itu, tapi entah kenapa saya merasa tetap menjadi pemenang. Saya telah menjadi pemenang melawan diri sendiri dengan mengalahkan ego, kemalasan, kejenuhan dan rasa putus asa yang menyerang saya selama proses penulisan. Juga mitos yang saya ciptakan sendiri bahwa saya tidak bisa menulis fiksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-4260186244004388852?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/4260186244004388852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=4260186244004388852' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/4260186244004388852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/4260186244004388852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/06/seluk-beluk-tentang-lomba-menulis.html' title='Seluk Beluk tentang Lomba Menulis'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-5660580921700707145</id><published>2009-06-07T00:07:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T00:08:46.665-07:00</updated><title type='text'>Time To Share</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hasrat untuk berbagi adalah puncak nurani tertinggi seorang pemenang sejati. Itulah kesimpulan yang saya tangkap setelah membaca beberapa tulisan tentang hakikat seorang pemenang sejati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sejak lama, jauh sebelum saya membaca tulisan-tulisan inspiratif tersebut, keinginan untuk berbagi sedikit ilmu dan pengalaman yang punya sudah terpatri dalam hati. Hanya saja, saya belum menemukan moment yang tepat untuk merealisasikannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;Saya ingin berbagi ilmu dan inspirasi tentang menulis. Generasi muda khususnya pelajar dan mahasiswa adalah segmen utama yang ingin saya bidik. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Merekalah &lt;i style=""&gt;agent of change.&lt;/i&gt; Saya sadar, benih yang saya tanam tidak dapat segera dipanen. Butuh 2 -3 tahun atau bahkan lebih untuk bisa memetik buahnya. Paling tidak, saya telah berusaha ikut andil dalam meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Awal Tahun Ajaran 2007/2008 lalu, saya mengajukan beberapa aplikasi ke beberapa sekolah menengah atas untuk diperkenankan menjadi mentor karya tulis. Tak ubahnya seperti orang yang meminta sumbangan, saya “menjajakan” map dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Mereka menerima surat aplikasi saya dengan dengan gaya formal yang basi seperti menghadapi orang yang memang minta sumbangan. Padahal saya bukan mau meminta, tapi ”memberi”. Saya tidak mempersoalkan berapapun honor yang diberi, bahkan tidak diberipun tidak apa-apa. Hati saya miris ketika ada seorang kepala sekolah yang kebetulan ada di tempat saat saya menyampaikan aplikasi, menyatakan bahwa sekolahnya tidak membutuhkan mentor karya tulis untuk ilmu-ilmu social. Karena menurut beliau, ilmu-ilmu social tidak mendapat kredit poin dalam rangka meningkatkan reputasi sekolah. Tapi untuk ilmu-ilmu eksakta, sekolah tak keberatan mengeluarkan biaya hingga puluhan juta rupiah. Sangat picik, pikir saya. &lt;i style=""&gt;Credit point minded&lt;/i&gt; yang menjadi ambisi sekolah telah membatasi ruang kreativitas siswa terhadap ilmu. Bagaimana bangsa ini akan maju jika memandang sebagian ilmu pengetahuan dengan sebelah mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Satu bulan berlalu, surat-surat aplikasi saya tak ada kabarnya. Saya pikir, sedikit ilmu yang ingin saya bagi ini mungkin tak ada artinya dalam kancah pendidikan kita. Mungkin saya harus cari jalan lain agar bisa berbagi. Saya kembali aktif menulis beberapa artikel dan mulai melakukan riset kecil-kecilan secara mandiri. Saya hampir lupa ketika suatu hari, seorang guru Bahasa Indonesia di SMU Muhammadiyah Jember, Bu Meta, meminta saya datang ke sekolah. Dengan penuh antusiasme beliau mengatakan ingin menghidupkan kembali Kelompok Ilmiah Remaja di sekolahnya yang sempat mati suri beberapa lama. Dengan senang hati saya menerima tawaran untuk menjadi Pembina KIR di sekolah itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada pertemuan pertama, saya diberi honor dua puluh empat ribu rupiah. Entah karena sebab apa, saya tidak berminat mengetahuinya, honor saya dikurangi menjadi separuhnya, yakni dua belas ribu rupiah setiap pertemuan. Itu artinya dalam sebulan, jika empat kali saya memberi materi, maka total honor yang saya terima adalah sebanyak empat puluh delapan ribu rupiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;KIR masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler, diadakan setelah jam sekolah pada hari sabtu. Dengan susah payah Bu Meta melakukan pendekatan personal kepada para siswa untuk bergabung. Alhasil pada pertemuan pertama, kelas cukup penuh. Pertemuan saya isi dengan berbagai materi tentang menulis, lomba menulis juga tentang pengetahuan dasar mengenai riset dan jurnalistik. Namun hari demi hari, seleksi alampun berlangsung hingga tinggallah beberapa siswa yang memiliki semangat baja untuk belajar menulis. Ketika ada lomba menulis untuk pelajar, saya menyemangati mereka untuk ikut. Saya salut pada semangat mereka yang pantang menyerah. Kekalahan dengan &lt;i style=""&gt;cost&lt;/i&gt; yang besar tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus mencoba dan mencoba. Saya menekankan pada mereka bahwa untuk mencapai kemampuan menulis yang baik, dan memenangkan lomba menulis, membutuhkan proses yang panjang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kesempatan untuk mengajar dan bertemu dengan generasi yang memiliki semangat baja seperti mereka, sungguh merupakan sebuah momen yang sangat luar biasa. Waktu terasa begitu cepat berlalu saat belajar bersama mereka. Sayang, ruang dan waktu membatasi keinginan kami untuk belajar bersama selama dan sesering mungkin. Masalah birokrasi terkadang juga menjadi kendala. Selama beberapa waktu saya mencoba memikirkan tentang langkah apa yang dapat saya lakukan agar proses belajar ini bisa berlangsung lebih optimal. Tak lagi terbentur pada dimensi ruang dan waktu juga birokrasi. Dan yang tak kalah penting adalah, akan semakin banyak orang yang bisa belajar dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi. Akhirnya tercetuslah ide untuk menulis buku tentang bagaimana belajar menulis dan seluk beluk tentang kompetisi menulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebenarnya, sejak dua tahun lalu saya sudah memiliki rencana untuk menulis buku. Namun perasaan tak yakin, tak mampu, dan tak tau bagaimana memulainya, membuat rencana tersebut terbengkalai sekian lama. Alhamdulillah setelah menemukan momen yang tepat, dan dukungan dari keluarga serta sahabat, buku ini bisa saya selesaikan dalam waktu kurang dari dua minggu. Lega rasanya bisa menumpahkan “uneg-uneg” yang memenuhi kepala sekian lama. Bersyukur sekali karena akhirnya bisa mematahkan mitos yang saya ciptakan sendiri, bahwa saya takkan pernah bisa menulis buku. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Alhamdulillah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-5660580921700707145?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/5660580921700707145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=5660580921700707145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/5660580921700707145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/5660580921700707145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/06/time-to-share.html' title='Time To Share'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-7833868525039935500</id><published>2009-06-06T01:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-06T01:37:50.094-07:00</updated><title type='text'>From My Book : Pena Tak Bertinta dan Tulisan Pertama</title><content type='html'>Pena Tak Bertinta&lt;br /&gt;Sejak awal masuk kuliah, saya langsung bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik di kampus. Ini adalah salah satu UKM dari sekian UKM yang saya masuki. Saya lupa apa orientasi terbesar saya saat itu, entah karena ingin menjadi wartawan di kemudian hari, ingin bisa menulis atau hanya ingin punya teman sebanyak-banyaknya. Yang pasti, setelah dua tahun bergabung di sana saya tetap tidak bisa menulis. Interview saja masih harus dibimbing langsung oleh senior di lapangan. Dan selalu saja ada kesalahan-kesalahan teknis yang terjadi : lupa bawa alat tulis sampai pernah dipinjami oleh narasumber atau salah meletakkan posisi recorder yang benar sampai ditegur oleh wartawan asli yang juga meliput. Yang lebih memalukan, saya pernah kehabisan pertanyaan sampai-sampai narasumber yang sudah sepuh itu bilang, “Mbak belum tanya hobi saya, sepertinya bisa juga dibuat berita”. Malu sekali dan lucu kalau mengingatnya.&lt;br /&gt;Motivasi menulis mulai muncul saat melihat teman-teman seangkatan di jurnalistik kampus ternyata sudah bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot dan tak jarang di antara mereka yang berhasil menempati jabatan-jabatan strategis terkait kapasitas dan kualitas mereka dalam menulis. Ada rasa tertinggal dan gagal namun tidak tau bagaimana mengejarnya. Hingga suatu hari, seorang teman memberi masukan sederhana, jika ingin jadi penulis maka menulislah. Tulislah apa saja yang kamu inginkan dan jangan pikirkan apakah orang lain akan menilainya bagus atau tidak. Karena itulah langkah pertama untuk bisa menulis.&lt;br /&gt;Saran sederhana itu membuat saya berpikir, jika teman-teman bisa pastinya saya juga bisa jika mau berusaha. Saya harus segera memulai dan mengejar ketertinggalan. Tekad saya bulat. Malam-malam berikutnya saya susah tidur hingga larut dan baru bisa tidur jika sudah menulis sebuah artikel. Sayangnya, saya merasa tulisan-tulisan itu begitu jelek dan menyebalkan. Mulai terasa ternyata menulis itu tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Pertama, Penghuni Kolong Tempat Tidur&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat sarat makna dari beberapa teman telah mengobarkan semangat saya untuk menulis. Begitu kuatnya pengaruh advice itu membuat saya tidak bisa tidur tiga hari berturut-turut sebelum menyelesaikan sebuah artikel antara 4-5 halaman. Saya mencoba meniru tulisan-tulisan yang dimuat di kolom opini harian Kompas.&lt;br /&gt;Saya biarkan diri bebas memilih tema yang ingin saya tulis. Saya coba lihat situasi actual yang tengah berkembang dan bak seorang pakar, saya memilih tema tentang pendidikan dan demokrasi. Saya mencoba menganalisa masalah dengan pembahasan yang sok pintar dan menawarkan solusi yang tidak jelas. Setelah tiga tulisan yang telah membuat saya tidak bisa tidur tersebut selesai dan diketik rapi, saya mencoba membandingkan dengan beberapa tulisan di Kompas yang saya jadikan referensi. Sangat jauh, bagaikan langit dan bumi!&lt;br /&gt;Sekalipun telah berusaha sebaik mungkin, tulisan-tulisan saya jelas terlihat begitu mentah dan datar. Jelek dan menyebalkan. Pasti akan masuk tong sampah jika saya kirimkan ke media massa apalagi sekelas Kompas. Susah sekali menulis, pikir saya waktu itu sambil menatap langit-langit kamar kos. Daripada membuang uang untuk mengeposkannya ke Jakarta padahal peluang masuk ke tong sampah hampir 100%, saya melempar tiga artikel pertama saya itu ke kolong tempat tidur. Begitulah nasib ketiga artikel pertama saya. Teronggok dan berdebu di sana sekian lama.&lt;br /&gt;Setelah beberapa waktu lalu saya membaca kisah hidup para penulis besar dunia, beberapa di antara mereka ternyata juga pernah mengalami perasaan dan kejadian yang hampir serupa dengan saya. Merasa tulisan jelek, tidak pede dan tidak akan laku di mana-mana. Beberapa di antaranya bahkan ada yang benar-benar membuang tulisannya ke tong sampah atau ke sungai Ciliwung seperti Andrea Hirata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-7833868525039935500?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/7833868525039935500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=7833868525039935500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7833868525039935500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/7833868525039935500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2009/06/from-my-book-pena-tak-bertinta-dan.html' title='From My Book : Pena Tak Bertinta dan Tulisan Pertama'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-6735987095972847541</id><published>2007-10-10T19:06:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T19:10:48.729-07:00</updated><title type='text'>Mengejar Ketertinggalan Bersama Teknologi Seluler</title><content type='html'>Saya pernah merasakan bagaimana rasanya “tertinggal”, kuin (kurang informasi) bahkan merasa terisolasi dari dunia luar sebagai akibat tak adanya jaringan sambungan telepon ke daerah tempat saya tinggal. Padahal Tegineneng, daerah tempat tinggal saya itu, tidak pelosok-pelosok amat. Sarana dan arus transportasi sangat baik karena jalur lintas Sumatera melalui daerah kami. Jaraknyapun hanya sekitar sepuluh menit dari Bandara Raden Intan dan kurang lebih 30 menit dari Bandar Lampung, ibukota propinsi Lampung. Penduduk di Tegineneng dan sekitarnya juga cukup mobile dengan perekonomian dan tingkat pendidikan yang cukup baik. Tapi, tak adanya sarana komunikasi bernama telepon membuat kami agak ndeso, terisolasi dan semacamnya. &lt;br /&gt;Secara pribadi, saya sangat merasakan bagaimana terhambatnya komunikasi dan sangat lambannya informasi karena tak adanya sarana komunikasi cepat bernama telepon. Salah satu contohnya ketika saya mengajukan beasiswa Monbusho untuk melanjutkan kuliah di Negeri Sakura. Kesempatan besar itu harus melayang begitu saja karena surat panggilan dari Kedutaan Besar Jepang untuk mengikuti ujian tertulis di Universitas Indonesia baru sampai di rumah satu jam sebelum ujian dimulai. Mengejar dengan pesawatpun saya akan tetap tertinggal untuk mengikuti ujian. Pihak kedutaan sebelumnya sudah mengingatkan dan meminta nomor telepon agar panggilan bisa cepat sampai. Tapi apa mau dikata, tak ada nomor yang bisa saya berikan karena jaringan telepon ke daerah tempat saya tinggal memang belum ada. &lt;br /&gt;Pesatnya perkembangan teknologi seluler di Tanah Air akhirnya sampai juga ke daerah kami pada sekitar tahun 2002. Tapi bunyi “kring” itu masih terdengar sayup bahkan terkadang tak terdengar karena sinyal yang masih kurang baik. Bagaimanapun, bagi kami terlebih saya sendiri, komunikasi yang masih tersendat itu tetap bagaikan sebuah keajaiban : dunia terasa dekat dan dalam genggaman.&lt;br /&gt;Jika kami di Tegineneng dengan akses transportasi yang baik masih mengalami digital divide (ketertinggalan informasi), bisa dibayangkan bagaimana keadaan saudara-saudara kita yang berada jauh di pelosok terlebih di daerah yang masuk kategori tertinggal. Saat ini masih ada 38.471 desa dari sekitar 72.000 desa.di Indonesia yang belum terjangkau dan bisa menikmati fasilitas telekomunikasi. Bahkan secara keseluruhan, teledensitas di Indonesia masih sekitar 0,2 per 100 penduduk. Kita sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Contoh terdekat Malaysia yang sudah mencapai 30%. Singapura bahkan sudah mencapai teledensitas 58%. &lt;br /&gt;Rendahnya teledensitas akibat minimnya sarana komunikasi tidak hanya membuat kita masuk dalam posisi digital divide (ketertinggalan informasi) sebagaimana yang pernah saya alami sendiri. Lebih dari itu, sarana komunikasi terbukti memiliki peran sangat penting bagi perekonomian suatu negara atau dalam lingkup yang lebih kecil, ekonomi daerah. Menurut penelitian International Telecommunication Union (ITU), pertumbuhan atau penambahan 1% teledensitas akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. Oleh karena itu, pembangunan sarana komunikasi menjadi satu program yang harus diprioritaskan dalam rangka percepatan pembangunan khususnya pembangunan di daerah tertinggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi Teknologi Seluler dalam Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal&lt;br /&gt;Daerah tertinggal, dalam pemahaman dan pengamatan saya di lapangan, belum tentu dan tidak selalu tidak memiliki potensi untuk berkembang. Bisa jadi banyak di antaranya yang sangat potensial baik dari segi sumber daya manusia dan atau sumber daya alamnya. Salah satu faktor utama yang menyebabkan potensi itu sulit dan lamban berkembang adalah karena mereka terisolasi dari dunia luar sebagai akibat dari terbatasnya akses transportasi dan informasi. Sementara roda pembangunan di wilayah lain khususnya di perkotaaan terus berputar meninggalkan saudara-saudara kita yang terisolir itu jauh di belakang. Jika tidak segera dijembatani, kesenjangan di antara keduanya akan semakin melebar dan akan kian sulit diatasi.&lt;br /&gt;Minimnya anggaran dan lambannya realisasi program pemerintah dalam percepatan pembangunan daerah tertinggal menjadikan operator teknologi seluler sebagai ujung tanduk dalam membuka akses komunikasi dan informasi bagi saudara-saudara kita yang hingga sekarang belum bisa menikmati fasilitas ini. Terjangkaunya daerah-daerah tertinggal dan terisolasi akan menjadi langkah awal untuk lebih menggerakkan geliat pembangunan dan pemberdayaan potensi daerah. &lt;br /&gt;Bertolak dari pengalaman pribadi merasakan dunia tanpa sarana komunikasi dengan luar, apa yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita di daerah pedalaman dan tertinggal sebenarnya tidaklah muluk. Pada tahap awal, yang mereka butuhkan adalah berkomunikasi dengan dunia luar. Barangkali sama dengan saya, sekalipun fisik tetap berjarak bahkan mungkin terisolasi, dunia serasa dalam genggaman. Melalui komunikasi inilah, mereka akan menjadi bagian dari dunia seutuhnya; keadaaan mereka akan tersampaikan pada dunia luar, merekapun akan tau apa yang terjadi di luar sana. Kehadiran teknologi seluler dengan jangkauan yang luas, kualitas suara yang baik dan tarif yang murah akan menjembatani dua dunia yang berbeda dan kesenjangan keduanya. Saudara-saudara kita di daerah tertinggal tidak lagi seperti katak dalam tempurung, terisolir dan kuin (kurang informasi). &lt;br /&gt;Pada tahap selanjutnya, komunikasi akan berkembang menjadi transfer informasi dan berlanjut pada tahapan yang lebih tinggi yakni transfer pengetahuan. Teknologi seluler akan membuat proses ini menjadi mungkin dan mudah sekalipun secara fisik, daerah-daerah tertinggal tersebut mungkin masih sulit dijangkau. Transfer informasi dan pengetahuan setidaknya akan memberi motivasi dan membangkitkan semangat dan tekad saudara-saudara kita di daerah tertinggal untuk memberdayakan diri dengan segenap potensi yang dimiliki untuk mengejar ketertinggalannya. Di sinilah, akselerasi pembangunan daerah mulai berjalan. Pertanyaan selanjutnya, apakah ini menguntungkan bagi operator teknologi seluler yang notabene profit oriented? &lt;br /&gt;Keuntungan akan tetap didapat oleh operator teknologi seluler yang pastinya akan mengeluarkan banyak dana untuk memperluas jaringannya hingga pelosok daerah. Meski keuntungan optimal secara langsung mungkin tidak didapat dari masyarakat di daerah tertinggal. Jangkauan yang luas dan berkualitas dengan tarif yang murah hingga mudah dijangkau oleh saudara-saudara kita di daerah tertinggal akan memberi nilai tambah bagi operator teknologi seluler yang bersangkutan di tengah persaingan operator seluler yang kian marak. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Keuntungan didapat, pelanggan bertambah sekaligus membantu saudara-saudara kita di daerah tertinggal membuka diri dan mengejar ketertinggalan dalam pembangunan. Semoga ini bisa segera terealisasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-6735987095972847541?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/6735987095972847541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=6735987095972847541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/6735987095972847541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/6735987095972847541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2007/10/mengejar-ketertinggalan-bersama.html' title='Mengejar Ketertinggalan Bersama Teknologi Seluler'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2288488350985121708.post-3875472748880712884</id><published>2007-10-09T17:52:00.000-07:00</published><updated>2009-06-06T01:48:49.579-07:00</updated><title type='text'>Dear All</title><content type='html'>Welcome to my blog...&lt;br /&gt;It's time to share.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2288488350985121708-3875472748880712884?l=auliya-fr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliya-fr.blogspot.com/feeds/3875472748880712884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2288488350985121708&amp;postID=3875472748880712884' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/3875472748880712884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2288488350985121708/posts/default/3875472748880712884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliya-fr.blogspot.com/2007/10/dear-all.html' title='Dear All'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06783813908785653141</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-zCJpBWoKJn4/Ta0znNKaYaI/AAAAAAAAAGw/IB0eA-e644w/s220/Foto%2B2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
